Beranda > Sejarah > Bukan Bangsa Jongos

Bukan Bangsa Jongos

 

Budiarto Shambazy

Walau cuma sebentar, rasanya nikmat menyaksikan DVD Hindia-Belanda di Perang Dunia Kedua (Institut Dokumentasi Perang Belanda). Tak bosan memelototi lanskap geografis dan historis “mooy Indië” awal 1940-an.

Anda kini mengerti mengapa Ismail Marzuki menulis, “Tempat lahir beta, tempat berlindung di hari tua, tempat akhir menutup mata”. Pantas banyak negara asing atau perusahaan multinasional yang bernafsu menguasai sumber-sumber alam kita dari dulu sampai kini.

Film campuran hitam-putih dan colorization dengan narasi serta musik latar orkestrasi ini terdiri dari tiga keping DVD. Di bagian “Komunitas Kolonial”, sang narator mengawali cerita dengan perjalanan kapal laut dari Amsterdam ke Batavia yang masih dusun kecil.

Trem di Batavia dan “Soerabaia” sepi penumpang dan bersih. Penduduk Indonesia sekitar 70 juta jiwa, 50 juta di antaranya hidup di Jawa.

Di Pasar Baru, Batavia, berseliweran mobil, oplet, sepeda, sado, sampai “noni-noni” Belanda. Sebuah restoran di Simpang Lima, Surabaya, disesaki kelasi Barat yang duduk-duduk di kursi yang rendah sambil menikmati minum dan musik di siang yang panas itu.

Batavia gudang gedung atau monumen bersejarah. Ada De Harmonie yang kini jadi area parkir Istana Merdeka, Des Indes yang dirubuhkan jadi pertokoan, atau Kali Krukut yang picturesque yang tak kalah indah dibandingkan dengan Sungai Spree, Berlin, Jerman.

Kota tua di Honolulu (Amerika Serikat), Den Haag (Belanda), atau Kuala Lumpur (Malaysia) nyaris tak berubah dari abad ke abad. Mereka menjaga kekayaan sejarah dengan pelbagai aturan tata kota yang ketat.

Jakarta tak lagi mempunyai masa lalu karena diurus orang- orang tak becus. Orde Baru melenyapkan De Harmonie dan Des Indes, Orde Reformasi menghancurkan Stadion Menteng.

“Komunitas Kolonial” membawa Anda bertualang ke Yogyakarta, pabrik rokok Faroka di Jawa Timur, dan “teras padi” nan indah di Bali. Tampak aktivitas pemburu buaya di Martapura, Kalimantan, dan senyum renyah Sultan Maluku dan istri.

Saat kereta api menikung di tepi Danau Singkarak, Minangkabau, Anda dikejutkan dengan suara air terjun raksasa. Gaya manortor para tetua Batak pada masa itu membuat siapa pun menyunggingkan senyum.

Pada keping kedua ada judul “Jepang di Komunitas Indonesia” dan “Kehidupan Sehari-hari di Masa Pendudukan”. Isinya, potongan-potongan film propaganda Jepang.

Panglima Armada Laksamana Isoroku Yamamoto memimpin pendaratan di Jawa, April 1943. “Kalian 50 juta rakyat Indonesia! Sekarang saya minta pada kamu supaya insaf sedalam-dalamnya dan berdirilah untuk bersatu,” kata Yamamoto yang menjual dongeng made in Japan tentang “Asia Timur Raya”.

Dan tampillah sang bintang lanskap politik, Bung Karno. Ia dituduh sebagai kolaborator Jepang karena mengikuti perintah “saudara tua” dari Negeri Matahari Terbit itu.

Waktu itu tak ada yang berani melawan pasukan Jepang. Semua dipaksa meneriakkan slogan “tenno haika banzai” (semoga kaisar panjang umur sampai 10.000 tahun) sambil mengangkat kedua lengan tinggi-tinggi seperti orang lagi senam.

Bung Karno menjadi moncong propaganda Jepang. “Karena itu semboyan kita sekarang ini ialah hancurkan kekuatan Amerika, hancurkan kekuatan Inggris. Amerika kita setrika, Inggris kita linggis,” seru Bung Karno sang orator ulung.

Jepang merekrut pemuda-pemuda Indonesia untuk menjadi heiho angkatan laut atau tentara Pembela Tanah Air. Mereka bukan cuma latihan berbaris dan menembak, namun juga melahap sarapan ala bento lengkap dengan sumpit serta wajib mengikuti lomba gulat sumo.

Ada tayangan sekitar sepuluh menit yang diawali dengan pemandangan sekilas di sekitar Situ Lembang, Menteng. Mereka bersepeda atau berjalan kaki, lengkap dengan seragam serta tas punggung menuju ke “Sekolah Rakjat Akebono”.

Mereka sejak kecil sudah menjadi penutur bahasa Indonesia, Belanda, Jepang, dan mungkin bahasa Inggris sekaligus. Tak heran mereka disebut generasi yang terdidik dan berbudaya dibandingkan generasi hasil didikan Depdiknas.

Salah satu judul DVD ketiga “Soekarno dan Kaum Nasionalis”. Tanggal 7 September 1944 Yamamoto mengumumkan “perkenan kemerdekaan kepada Indonesia” yang waktunya disebut “di kemudian hari”.

Esok harinya Bung Karno pidato di depan Yamamoto. “Tetapi kami pun menyerahkan saat kemerdekaan itu kepada yang maha mulia… cepat atau lambatnya saat itu datang tergantung dari besar atau kecilnya usaha kami untuk mendapatkan kecakapan-kecakapan yang perlu buat kemerdekaan…”.

Rakyat berpesta di mana-mana. Refrain lagu Indonesia Raya ternyata juga berbunyi, “Indonesia Raya/Mulia, mulia/Hiduplah Indonesia Raya”.

Ada subjudul “Tawanan Orang Belanda”. Puas menyaksikan tentara-tentara kompeni hidup tanpa air bersih atau tidur tanpa kelambu.

Subjudul “Jepang Menyerah” mendatangkan gumam, “Rasain lu!” Geram mendengar kekejaman mereka selama 3,5 tahun menjajah kita.

Mereka membayar pampasan perang. Belanda kekenyangan selama tiga setengah abad, sempat mau kembali ke sini dengan mendompleng Sekutu, dan juga sempat enggan untuk mengakui Proklamasi 17 Agustus 1945.

Jangan lupa, kita juga sering dijajah bangsa sendiri. Pelajaran terpenting dari DVD Hindia-Belanda di Perang Dunia Kedua ini, jangan mau menjadi jongos yang disetir dari Den Haag, Tokyo, ataupun Washington DC.

Sumber : Kompas.com

Kategori:Sejarah
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: