Arsip

Archive for September, 2007

Nila dan Udang Sumut Lolos Uji Mutu FDA

September 30, 2007 1 komentar

Laporan Wartawan Kompas Khaerudin
MEDAN, KOMPAS – Ikan nila dan udang asal Sumatera Utara dinyatakan lolos uji mutu, kimiawi dan mikrobiologi oleh Food and Drug Administration (FDA), badan milik Pemerintah Amerika Serikat yang bertanggung jawab terhadap keamanan produk makanan dan obat-obatan. Petugas FDA telah mengecek langsung kualitas ikan nila dan udang di tempat pembudidayaannya.

Menurut Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Sumatera Utara (Sumut) Yoseph Siswanto, pengecekan dilakukan FDA pada tanggal 5-7 September lalu. “Hasilnya mereka cukup puas dengan kualitas ikan nila dan udang asal Sumatera Utara. Ikan nila dan udang asal Sumatera Utara dinyatakan tak memiliki kandungan antibiotik dan logam berat sehingga aman dikonsumsi mereka (konsumen Amerika Serikat),” ujar Yoseph di Medan, Minggu (30/9).

FDA melakukan uji mutu ikan nila di Danau Toba yang selama ini menjadi tempat pembudidayaan ikan nila terbesar di Sumut, sedangkan udang, FDA melakukan pada salah satu tambak udang di Kabupaten Serdang Bedagai. Di Danau Toba, tim dari FDA lanjut Yoseph juga melihat langsung proses pembibitan (hatcherry) dan pembesaran ikan nila di keramba jaring apung (KJA) milik PT Aqua Farm, di Danau Toba. Aqua Farm merupakan perusahaan penanaman modal asing yang selama ini menjadi eksportir ikan nila ke AS.

“FDA juga mengecek langsung ke pabrik pengolahan ikan nila milik Aqua Farm di Serdang Bedagai. Secara keseluruhan mereka mengatakan sangat puas dengan proses pembudidayaan ikan nila di Danau Toba,” kata Yoseph.

Konsumen AS menurut Yoseph menggemari ikan nila yang dibudidayakan di Danau Toba karena kualitas airnyan yang bagus dan tidak berbau lumpur. Permintaan ikan nila dari AS masih belum terpenuhi semuanya oleh Sumut.

“Selama ini memang tidak ada penolakan dari konsumen asal AS terhadap produk perikanan asal Sumut. Dengan lolosnya pengujian mutu ikan nila dan udang oleh FDA kami bisa berharap, volume ekspor ikan nila dan udang ke Sumut bisa semakin meningkat dalam tahun-tahun mendatang,” katanya.

Nilai ekspor ikan nilai hasil budi daya di Danau Toba selama tahun 2006 Rp 445 miliar. Di Danau Toba selain Aqua Farm yang memiliki 1.780 unit KJA dengan total produksi 19.200 ton per tahun, masyarakat juga memiliki 5.232 KJA dengan total produksi 25.559 ton per tahun.

Hasil uji mutu FDA menurut Yoseph juga menjadi bekal bagi pengecekan yang sama oleh Food Veterinary Office (FVO) Uni Eropa pada bulan November mendatang. FVO kata Yoseph menerapkan standar bio security yang lebih ketat dibanding FDA. Selama tahun 2005-2006 Uni Eropa sempat menahan container udang asal Sumut karena masih mengandung antibiotik.

Beberapa waktu lalu, Ketua Shrimp Club Medan Safwin menuturkan, petambak udang di Sumut telah siap dengan pengecekan langsung oleh FVO. Safwin juga mengatakan, sudah sejak awal tahun 2007, tambak-tambak udang di Sumut bebas dari penggunaan antibiotik seiring dengan program sertifikasi bio security tambak oleh Departemen Kelautan dan Perikanan.

Iklan
Kategori:Lingkungan

Ponsel Perlambat Fungsi Otak

September 26, 2007 1 komentar

Berdasarkan penelitian, sering memakai ponsel dapat memperlambat aktivitas otak sekalipun masih dalam batas normal. Penelitian dilakukan terhadap 300 orang di Australia, Inggris, dan Belanda selama 2 tahun lebih.

Perbedaan aktivitas otak diukur dengan EEG (electroencephalogrphic). Fungsi syaraf kejiwaan, seperti perhatian, memori, fungsi eksekutif dan kepribadian, juga diukur.

Ternyata pemakai menunjukkan sikap ekstrovert dan berpikiran kurang terbuka. Uniknya, mereka juga menunjukkan peningkatan perhatian yang terfokus. Sekalipun begitu, aktivitas otak justru melambat saat diukur dengan kekuatan EEG, delta dan theta.

Studi tahun 1998 tentang efek jangka pendek penggunaan ponsel menunjukkan peningkatan tes kognitif pada orang yang sering menggunakan ponsel.

Sumber : Hidayatullah.com

Kategori:Kesehatan, Teknologi

Tan Sing Loen, Meneruskan Tradisi Sekolah Gratis

September 17, 2007 2 komentar

Jauh sebelum sekolah gratis ramai dibicarakan, sebuah sekolah di daerah pecinan, Kota Semarang, Jawa Tengah, sudah menerapkannya. Tidak hanya untuk etnis Tionghoa, sekolah gratis ini didedikasikan bagi semua golongan sejauh mereka tidak mampu. Sebagai Ketua Yayasan Khong Kauw Hwee, Tan Sing Loen sudah belasan tahun mengelola sekolah ini.

Perkenalan Tan Sing Loen (74) dengan Yayasan Khong Kauw Hwee sebenarnya sudah berlangsung sejak sekolah ini dirintis, sekitar tahun 1950.

Ketika itu, dia masih sekadar membantu mencarikan dana lewat penyelenggaraan bazar. Keterlibatannya dengan yayasan itu pun semula masih sekadar membantu. Sesekali dia terlibat langsung dengan kegiatan sekolah sebab ketika itu Tan Sing Loen masih sibuk berdagang alat-alat listrik di tokonya, juga di kawasan pecinan Semarang.

Pada tahun 1984 dia diminta untuk menjadi sekretaris yayasan. Lalu, beberapa tahun kemudian dia menggantikan ketua yayasan yang meninggal dunia.

Sekolah Kuncup Melati yang dikelola Tan Sing Loen ini sekilas tidak berbeda dengan sekolah lain. Bangunan sekolah yang terletak di Gang Lombok-kawasan pecinan Semarang-ini juga tak terlalu besar. Namun, di sekolah ini ratusan anak tak mampu dari berbagai latar belakang menimba ilmu tanpa dipungut bayaran sepeser pun. Dana operasional sekolah ini semata-mata didapat dari para donatur.

Tak jarang pula, untuk membantu yayasan, para orangtua murid menyempatkan diri turut membersihkan lingkungan sekolah. Ini karena di sekolah tersebut tidak ada petugas kebersihan.

Pendidikan gratis yang hanya bermodal sumbangan dan kerelaan hati para donatur ini terdiri atas taman kanak-kanak (TK) dan sekolah dasar (SD). Sudah sejak tahun 1950 sekolah tersebut membantu ribuan anak tak mampu untuk mengenyam pendidikan. Pada tahun ajaran baru tahun ini seluruh siswanya berjumlah 243 anak.

“Sekolah ini merupakan wadah pengabdian. Para murid tidak pernah dipungut biaya apa pun. Namun, justru banyak donatur yang terketuk hatinya untuk membantu,” ungkap Tan Sing Loen akhir Juli lalu.

Bantuan yang diterima sekolah ini tidak selamanya berupa uang. Ada pula masyarakat yang memberikan alat tulis, seragam, membantu membayar rekening listrik, rekening telepon, atau memberi makanan. Pengurus yayasan tak pernah menolak bantuan dalam bentuk apa pun.

Saat Kompas sedang berbincang dengan laki-laki yang sering dipanggil Om Tan ini, seorang perempuan datang ke ruangan kepala sekolah. Dia menawarkan diri untuk mengisi kekosongan guru bahasa Mandarin bagi murid kelas enam, tanpa meminta bayaran.

“Entah dari mana dia dapat informasi bahwa kami kekurangan guru. Tetapi, memang bantuan semacam ini juga sering datang meski kami tidak pernah meminta. Dermawan selalu saja ada,” tuturnya.

Setiap bantuan berupa barang diberikan langsung kepada para murid. Om Tan menerapkan manajemen terbuka. Oleh karena itulah, setiap donatur bisa langsung melihat untuk apa sumbangan yang diberikan.

Pengabdian dan sukarela
Menurut Om Tan, pengelolaan yayasan ini berpedoman pada prinsip pengabdian dan sukarela. Hal ini pula yang mengawali berdirinya sekolah tersebut pada tahun 1949. Berbekal sisa uang iklan buku peringatan kelahiran Kong Hu Chu senilai Rp 800 dan sumbangan seorang dermawan Rp 1.000, para perintis Khong Kauw Hwee membuat bangku dan meja untuk kegiatan belajar mengajar.

Pada awal 1950 dibukalah kursus pemberantasan buta huruf yang diadakan di lingkungan Kelenteng Tay Kak Sie di Gang Lombok. Masalah sempat dihadapi akhir tahun 1960-an ketika salah seorang pendiri meninggal dunia. Kondisi finansial sempat memburuk dan donatur pun tidak banyak. Hampir saja sekolah ini ditutup.

Akan tetapi, pada awal 1970-an, alumni sekolah ini mencoba membentuk panitia penyelamatan dan mereka bahu-membahu membangkitkan kembali yayasan ini. Perbaikan terus dilakukan.

Pada saat Om Tan menjadi ketua yayasan, mengandalkan sumbangan dari donatur, terkumpul sejumlah uang untuk mendirikan bangunan sendiri untuk sekolah ini. Dua tahun waktu yang dibutuhkan hingga bangunan ini berdiri tahun 1992. Bangunan sekolah TK dan SD Kuncup Melati yang baru ini menempati lahan di sebelah barat Kelenteng Thay Kak Sie, berlantai tiga, dan terdiri atas sembilan ruangan: dua ruangan untuk TK, enam ruangan untuk SD, dan ruangan untuk tata usaha
(TU).

Beragam pengalaman didapatkan Om Tan selama 13 tahun memimpin Khong Kauw Hwee. Kesulitan sempat dialaminya saat sekolah yang mengandalkan donasi ini murid-muridnya diminta membayar sejumlah uang oleh dinas pendidikan pada periode 1990-an.

“Dinas pendidikan tidak percaya kalau sekolah ini benar-benar tidak memungut bayaran dari murid. Saya juga diminta menghadap kepala dinas ketika itu,” cerita Om Tan.

Kesulitan ini pun akhirnya berganti menjadi uluran tangan bagi Om Tan dan yayasan. Sang kepala dinas yang semula tidak percaya, setelah mendapat penjelasan, justru berbalik terharu dan memberikan bantuan buku-buku pelajaran. Kenangan ini sangat membekas dalam hati Om Tan.

Dia juga tidak pernah membeda-bedakan siswa yang akan masuk di sekolah ini. Siapa pun dan dari latar belakang apa pun, selama memiliki niat bersekolah dan tak mampu, pasti diterima. Hal ini pula yang membuat siswa sekolah ini tak hanya berasal dari etnis Tionghoa.

Om Tan merasakan sendiri bagaimana susahnya orang yang tak bisa mengenyam pendidikan. Ia sendiri lulusan sekolah dasar.

Kedekatan
Bagaimana dengan kualitas pendidikan? Para siswa tetap diberi materi pendidikan sesuai dengan kurikulum yang ditetapkan pemerintah. Bahkan, mereka juga diberi tambahan pelajaran bahasa Inggris dan Mandarin. Prestasi siswanya juga tak buruk sehingga sekolah ini menduduki peringkat menengah dari semua sekolah di Kota Semarang.

Meski tak pernah mendapat gaji, Om Tan tetap bahagia mengabdi di Khong Kauw Hwee. Bayaran paling berharga baginya adalah tegur sapa dari para orangtua murid dan kedekatan dengan mereka.

“Saya tidak gila hormat. Kalau saya yang sudah berusia 74 tahun ini bisa membantu anak-anak tak mampu, itu membuat saya merasa berguna,” ujarnya.

Belasan tahun bekerja tanpa bayaran hanya senyum tulus orangtua murid dan pengabdian yang membuat Om Tan bertahan. Hal ini pula yang membuat pria bersahaja ini selalu tersenyum setiap menjumpai seseorang.

Menurut Kepala SD Kuncup Melati Agustin Indrawati (47), sekalipun para pengajar mendapatkan imbalan, tetapi jumlahnya sangat terbatas. “Mengajar di sini lebih mengutamakan kepuasan batin,” ungkap Agustin Indrawati yang sudah 27 tahun mengabdi.

Meski 10 murid terbaik sekolah ini bisa melanjutkan ke SMP Mataram di Semarang dengan gratis, Om Tan mengaku, sebetulnya ia ingin sekolah Kuncup Melati ini bisa berkembang.

“Biar anak-anak tak mampu juga bisa sekolah sampai SMP, bahkan SMA, tak cuma lulus SD saja,” ungkapnya.

Biodata
* Nama: Tan Sing Loen
* Tempat, tanggal lahir: Semarang, 10 Oktober 1933
* Pendidikan Terakhir: Sekolah Dasar
* Istri: Bee Bwat Nio (72)
* Anak:
– Tan Hok Teh (47)
– Tan Hok Chi (46)
– Tan Bee Sian (44)
– Tan Bee Ling (36)
– Tan Bee Lian (34)
– Tan Hok Kim (32)
* Jabatan: Ketua Yayasan Khong Kauw Hwee

Sumber: Kompas ( http://www.kompas.co.id/ver1/Negeriku/0709/13/145449.htm )
Penulis: Antony Lee

Kategori:Humaniora, Pendidikan

Hp Barunya Salman, Nokia 2626

September 17, 2007 20 komentar

Nokia 2626, Low End yang Bisa Internet

Nokia 2626

Pasar ponsel kelas bawah kembali bertambah dengan hadirnya seri 2626 keluaran Nokia. Ponsel ini akan masuk pasar pada akhir Januari atau paling lambat bulan ini. Hadirnya seri ini merupakan kelanjutan dan penyempurnaan seri-seri terdahulu seperti Nokia 2600 dan 2610. Kelebihannya adalah tambahan fitur radio FM. Dengan fitur ini setidaknya kita akan terus update akan info-info aktual nasional maupun internasional.

Dalam hal desain, ponsel ini sama sekali tidak ada perbedaan ketimbang seri 2610. Boleh jadi bila keduanya disandingkan kita akan kesulitan untuk membedakan mana seri 2626 dan mana seri 2610. Paling banter warna covernya yang menjadi pembedanya. Kalau seri 2610 hanya diberikan dua pilihan warna yakni black dan brown, seri 2626 sudah diberikan empat pilihan warna cover atau casing yang dikeluarkan oleh pabrikannya, seperti fiery red, spatial blue, energetic copper, dan white navy.

Satu yang mesti diperhatikan adalah saat kita mengganti cover, mesti ekstra hati-hati dan perlahan-lahan. Karena desain cover ini ada sedikit perbedaan ketimbang bebe-rapa seri Nokia sebelumnya. Di bagian atas yakni penutup atas kepala ponsel menyatu dengan cover utama bagian depan. Untuk memasangnya kembali kita mesti memfokuskan bagian atasnya terlebih dahulu, setelah itu baru bagian bawahnya sebagai pengunci.
Pabrikan ponsel ini juga menyediakan lubang untuk mengikatkan tali yang menyatu dengan badan ponsel. Sekalipun casingnya terlepas, tali akan tetap melekat kuat di badan ponsel. Kita bisa menggantungkan ponsel ini di leher.

Fitur Andalan
Nokia 2626 mampu berjalan pada jaringan GSM 900/1800. Fitur utamanya adalah radio FM. Seperti biasa, untuk mengaktifkan dan mengoperasikan fitur ini, kita mesti menyambungkan ponsel ini ke perangkat bantu dengar alias headset. Jenis headset-nya standart, bukan jenis pop port sebagaimana seri-seri Nokia lainnya.

Kita bisa mencari gelombang atau stasiun-stasiun radio lewat dua pilihan. Ada cara otomatis dan cara manual. Cara yang pertama akan memungkinkan kita dengan mudah mencari frekuensi radio yang aktif meski kita tidak tau gelombang stasiun tersebut. Sedangkan cara yang kedua adalah, memilih langsung dari list radio favorit.

Nokia juga menyediakan beberapa tombol shortcut, alias cepat, untuk masuk ke beberapa menu. Misalkan bila hendak masuk pada menu radio dan sekaligus mengaktifkannya, kita bisa langsung menekan tombol (*). Begitu pula bila hendak masuk ke WAP browser atau masuk pintu menjelajah dunia maya, kita bisa menekan angka “0”.

Berselancar ke dunia maya dengan seri 2626 boleh dicoba. GPRS kelas 6 akan menjembatani kita untuk berkeliling dunia maya dengan mudah. Bekal fitur WAP 2.0, xHTML/HTML browser akan menyempurnakan tampilan layar sebuah alamat situs. Keterbatasan mutlak seri ini dalam hal berkeliling dunia maya adalah layarnya yang sangat kecil.

Spesifikasi
Memori internal 2 MB khusus untuk gallery
Layar STN 65 ribu warna
Phonebook 300 Nama
Konektivitas GPRS kelas 6
Game disco, dance delight, downloadble
Multimedia radio FM, internet (WAP Browser 2.0/xHTML, HTML)
Dimensi: 104 x 43 x 18 mm.
Berat: 91 gram.
Baterai: Standar Li-Ion
Memiliki waktu stand by hingga 300 jam

sumber: selular

Kategori:Personal, Teknologi

Kekuatan Tanpa Kekerasan

September 2, 2007 1 komentar

Berikut ini adalah cerita masa muda Dr. Arun Gandhi (cucu dari Mahatma Gandhi)

Waktu itu Arun masih berusia 16 tahun dan tinggal bersama orang tua disebuah lembaga yang didirikan oleh kakeknya yaitu Mahatma Gandhi, di tengah-tengah kebun tebu, 18 mil di luar kota Durban, Afrika selatan. Mereka tinggal jauh di pedalaman dan tidak memiliki tetangga. Tidak heran bila Arun dan dua saudara perempuannya sangat senang bila ada kesempatan pergi ke kota untuk mengunjungi teman atau menonton bioskop.

Suatu hari ayah Arun meminta Arun untuk mengantarkan ayahnya ke kota untuk menghadiri konferensi sehari penuh. Dan Arun sangat gembira dengan kesempatan ini. Tahu bahwa Arun akan pergi ke kota, ibunya memberikan daftar belanjaan untuk keperluan sehari-hari. Selain itu, ayahnya juga minta untuk mengerjakan pekerjaan yang lama tertunda, seperti memperbaiki mobil di bengkel.

Pagi itu, setiba di tempat konferensi, ayah berkata, “Ayah tunggu kau disini jam 5 sore. Lalu kita akan pulang ke rumah bersama-sama. “. Segera Arun menyelesaikan pekerjaan yang diberikan ayahnya.

Kemudian, Arun pergi ke bioskop, dan dia benar-benar terpikat dengan dua permainan John Wayne sehingga lupa akan waktu. Begitu melihat jam menunjukkan pukul 17:30, langsung Arun berlari menuju bengkel mobil dan terburu-buru menjemput ayahnya yang sudah menunggunya sedari tadi. Saat itu sudah hampir pukul 18:00.

Dengan gelisah ayahnya menanyakan Arun “Kenapa kau terlambat?”. Arun sangat malu untuk mengakui bahwa dia menonton film John Wayne sehingga dia menjawab “Tadi, mobilnya belum siap sehingga saya harus menunggu”. Padahal ternyata tanpa sepengetahuan Arun, ayahnya telah menelepon bengkel mobil itu. Dan kini ayahnya tahu kalau Arun berbohong.

Lalu Ayahnya berkata, “Ada sesuatu yang salah dalam membesarkan kau sehingga kau tidak memiliki keberanian untuk menceritakan kebenaran kepada ayah. Untuk menghukum kesalahan ayah ini, ayah akan pulang ke rumah dengan berjalan kaki sepanjang 18 mil dan memikirkannya baik-baik.”.

Lalu, Ayahnya dengan tetap mengenakan pakaian dan sepatunya mulai berjalan kaki pulang ke rumah. Padahal hari sudah gelap, sedangkan jalanan sama sekali tidak rata. Arun tidak bisa meninggalkan ayahnya, maka selama lima setengah jam, Arun mengendarai mobil pelan-pelan dibelakang beliau, melihat penderitaan yang dialami oleh ayahnya hanya karena kebodohan bodoh yang Arun lakukan.

Sejak itu Arun tidak pernah akan berbohong lagi.

Pernyataan Arun:
“Sering kali saya berpikir mengenai episode ini dan merasa heran. Seandainya Ayah menghukum saya sebagaimana kita menghukum anak-anak kita, maka apakah saya akan mendapatkan sebuah pelajaran mengenai tanpa kekerasan? Saya kira tidak. Saya akan menderita atas hukuman itu dan melakukan hal yang sama lagi. Tetapi, hanya dengan satu tindakan tanpa kekerasan yang sangat luar biasa, sehingga saya merasa kejadian itu baru saja terjadi kemarin. Itulah kekuatan tanpa kekerasan.”

Kategori:Humaniora, Pendidikan

Petualangan ke Ujung Kulon : Catatan Seorang Ayah yang Diuji

Oleh : Yudi Arianto

Hari Jum’at dan Sabtu, 17-18 Agustus 2007. Kami berdua, aku dan anak tertuaku, Lazuardi Tauhid (9 tahun) bersama rombongan menghabiskan liburan ini untuk pergi ke Pulau Peucang, sebuah pulau kecil di kawasan Taman Nasional Ujung Kulon. Dari Labuan kami masih harus berkendara kurang lebih selama 90 menit menuju sebuah kota nelayan kecil, Sumur. Dari Sumur kami masih harus naik perahu kecil menuju Pulau Peucang selama antara 2 – 3 jam, tergantung dari cuacanya.

Aku menyempatkan untuk mengajak Tauhid berpetualang ke pulau ini, bukanlah tanpa maksud. Ini adalah sebuah program dalam rangka Unschooling- nya Tauhid. Aku bermaksud memaparkan ia pada dunia nyata, ya sebuah dunia yang jarang diperkenalkan di sekolah.
Maka dimulailah petualangan itu. Semua baik-baik saja pada awalnya : laut cukup tenang, perahu pun melaju. Tak sampai 15 menit, Tauhid sudah mulai tidak bisa diam. Ia segera saja menjelajah seluruh perahu kecil itu. Untuk melakukannya dia harus berjalan di bibir perahu, berpegangan pada bagian atap perahu sementara tidak sampai setengah meter di bawahnya laut siap menyambutnya kalau dia jatuh. Aku memperingatkannya untuk berhati-hati. Apa jawab Tauhid ? : “Ayah, aku tahu . . . aku tahu . . . . “.

Satu jam kemudian laut mulai bergelora. Kapal kecil kami di ombang-ambingkan ke kanan dan ke kiri. Gelombang laut yang cukup besar bahkan menghantam dinding perahu dan airnya tempias membasahi tubuh kami. Dan itu berlangsung kurang lebih 2 jam ! Selama waktu itu, bukannya masuk ke dalam kabin penumpang, Tauhid memilih berada di luar bersamaku, rela berbasah-basah dan rela menanggung kengerian melihat gulungan ombak laut yang terus menerus menghantam dinding perahu. Seandainya mau dia bisa saja masuk dalam kabin penumpang, dan kengerian akan berkurang karena ia tidak melihat gelombang laut. Tapi tidak. Ia memilih untuk tetap di luar.

Dan itu mulai mencemaskanku. Sebagai orang tua bisa saja aku melarangnya untuk berada di luar. Atau sedari awal memintanya untuk berada di kabin penumpang sepanjang perjalanan. Tapi itu berarti menghianati prinsip yang selama ini aku pegang : mencoba untuk mempercayai dia dan memperlakukan dia setara seperti bagaimana halnya orang dewasa diperlakukan. Aku belajar untuk percaya bahwa Tauhid tahu apa yang harus dia lakukan untuk hidupnya. Tapi kini aku benar-benar diuji. Benarkah aku percaya anakku ini tahu apa yang seharusnya ia lakukan? Benarkah aku mempercayai dia untuk membuat keputusannya sendiri?
Kerapkali naluriku mendesakku untuk melarang ini dan itu, mencoba untuk mengarahkan sesuatu, dan berpikir bahwa seorang anak tidak tahu apa-apa.
Inilah dua jam yang berat dalam hidupku. Inilah transisi dari apa yang aku dan istriku coba terapkan dalam pendidikan anak-anak kami, khususnya Tauhid.

Dan akhirnya aku lulus! Aku berhasil memperlakukan Tauhid sebagai layaknya orang dewasa yang tahu apa yang harus dia lakukan. Alih-alih mencoba untuk menggunakan “wewenang orang tua” pada Tauhid, akau membiarkannya memutuskan sesuatunya sendiri. Dan ternyata dia melakukannya dengan baik. Alih-alih dia takut, wajahnya biasa-biasa saja menghadapi hantaman gelombang itu.

Mendekati pantai Pulau Peucang, gelombang mulai tenang. Dan itu kugunakan untuk mengamati Tauhid. Cara dia bergerak, cara dia menjaga dirinya agar tidak tercebur ke laut saat berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya dalam kapal, cara dia berkomunikasi dengan teman-temanku, . . . . . . . Sungguh seperti bukan anak berumur 9 tahun.
Tauhid juga mengundang kekaguman teman-temanku, mereka memujinya secara langsung atas keberanian Tauhid selama di perahu.
Bebarapa teman menanyaiku : bagaimana kau mengajarinya? Aku hanya nyengir, tak menjawab. Sebab sesungguhnya tak ada yang mengajari Tauhid.
Dan ini mengukuhkan prinsip yang aku yakini bahwa sesungguhnya anak-anak itu pembelajar alami. Mereka akan belajar apa saja yang mereka rasa menarik bagi mereka dan penting bagi mereka. Tanpa perlu diarahkan. Tanpa perlu diatur-atur.
Peran kita hanyalah menyediakan sarana yang mereka butuhkan, mempercayai mereka, menjawab pertanyaan mereka, dan menjadi salah satu model bagi mereka.
Tidak lebih ! (***)

Pedoman Praktis Melatih Bayi dan Anak Berbicara

Perkembangan berbicara bayi dan anak

  • Sekitar umur 7-8 bln bayi mulai bisa bersuara satu suku kata, misalnya: ma/pa atau ta, atau da
  • Sekitar umur 8 – 10 bulan bisa bersuara bersambung, misalnya : ma-ma-ma-ma, pa-pa-pa-pa, da-da-da-da- , ta-ta-ta-ta
  • Sekitar umur 11 – 13 bulan mulai bisa memanggil : mama !, papa !
  • Sekitar umur 13 – 15 bulan mulai bisa mengucapkan 1 kata, misal : mimik, minum, pipis
  • Sekitar umur 15 – 17 bulan mulai bisa mengucapkan 2 kata
  • Sekirtar umur 16 – 18 bulan mulai bisa mengucapkan 3 kata
  • Sekitar umur 19 – 22 bulan mulai bisa mengucapkan 6 kata
  • Sekitar umur 23 – 26 bulan mulai bisa menggabungkan beberapa kata : mimik cucu
  • Sekitar umur 24 – 28 bulan mulai bisa menyebutkan nama benda, gambar
  • Sekitar umur 26 – 35 bulan, bicaranya 50 % dapat dimengerti orang lain

(Sumber : Denver II, Frankenburg WK dkk, 1990)

Supaya tidak terlambat berbicara, latihlah sejak bayi

Bayi sejak lahir sudah bisa mendengar dan mengerti suara manusia, terutama suara bunya. Walaupun bayi belum bisa menjawab dengan kata-kata tetapi bayi bisa menyatakan perasaannya dengan : senyuman, gerakan bibir, bersuara, berteriak, menggerakkan tangan kaki, kepala atau dengan menangis.

Dengan latihan setiap hari sejak bayi, lama kelamaan bayi dan anak dapat menjawab dengan kata-kata dan kalimat. Latihan ini sekaligus merangsang perkembangan emosi, sosial, & perkembangan kecerdasannya. Supaya bayi / anak anda tidak terlambat berbicara, lakukan metode ini setiap hari, ketika anda berada tidak jauh dari bayi anda.

I. Melatih Bayi dan Anak Berbicara

  • Berbicaralah kepada bayi / anak sebanyak mungkin dan sesering mungkin, dengan penuh kasih sayang, walaupun ia belum bisa menjawab.
  • Bertanya pada bayi/anak.. Contoh : Adik haus, ya? Gardi lapar,ya?. Elta mau susu, lagi ? Ini gambar apa ? Ini boneka apa ? Ini warnanya apa ? Ini namanya siapa ?
  • Komentar terhadap perasaan bayi / anak . Contoh : Kasihan, adik rewel kepanasan, ya?. Nah sekarang dikipasin ya ? Ooo, kasihan, adik rewel gatal digigit nyamuk,ya ? Jatuh ya ? Sakit, ya? Sini di obatin !
  • Menyatakan perasaan ibu/ayah. Contoh: Aduh,mama kangen banget sama adik. Tadi mama di kantor ingat terus sama adik. Mmmh , mama sayang deh sama adik.
  • Komentar keadaan bayi / anak.. Contoh : Aduh pipi Ade tembem ! Wow, Rama matanya besar banget! Wah, kepala Gardi botak! Ai, ai, Elta buang air besar lagi !
  • Komentar perilaku bayi / anak Contoh : Wah, Rini sudah bisa duduk! Eeee, Tono sudah bisa berdiri ? Ai, ai, Ari sudah bisa duduk ! Wah, adik sudah bisa jalan !
  • Bercerita tentang benda-benda di sekitar bayi / anak. Contoh : Lihat nih. Ini namanya bantal. Warnanya merah muda, ada gambar Winnie the Pooh. Adik tahu nggak Winni the Pooh ? belum tahu ? Winni The Pooh itu beruang yg lucu & cerdik. Nanti kalau sudah gede pasti tahu deh. Yg ini namanya boneka Teletubies. Warnanya merah. Yg ini warnanya hijau, yang itu ungu. Nih, coba di peluk.
  • Bercerita tentang kegiatan yang sedang dilakukan pada bayi / anak Contoh : Adik dimandiin dulu, ya ? Pakai air hangat, pakai sabun, biar bersih, biar kumannya hilang, biar kulitnya bagus sepeti bintang film. Sekarang dihandukin biar kering, tidak kedinginan. Sudaaaaah selesai. Sekarang pakai pampers, pakai baju, dibedakin dulu, biar kulitnya halus, wangi.. Nah, selesai. Enak, kan ? Asyik, kan ? Habis ini minum ASI terus tidur, ya ? Mama mau masak, ya ?
  • Bercerita tentang kegiatan yang sedang dilakukan ibu / ayah. Contoh : Mama / Papa sekarang mau bikin susu buat adik sebentar , ya ? Nih, susunyal 3 takar , ditambah air 90 cc, terus dikocok-kocok. Kepanasan nggak ? Enggak kok. Nah, siap deh.

II. Dengarkan suara bayi / anak, berikan jawaban atau pujian
Ketika bayi atau anak bersuara atau berbicara (walaupun tidak jelas), segera kita menoleh dan memandang ke arah bayi dan mendengarkan suara bayi atau anak seolah-olah kita mengerti maksudnya.
Pandang matanya, tirukan suaranya, berikan jawaban / pujian, seolah-olah bayi mengerti jawaban kita. Contoh: Ta-ta-ta-ta ? Ma-ma-ma-ma? Kenapa,sayang ? Minta susu ? Mau poop ?

III. Bermain sambil berbicara
Ciluk – ba.
Ibu mengucapkan ciluuuuuukk (muka ditutup bantal) beberapa detik kemudian bantal ditarik kesamping sambil ibu mengucapkan : baaaaaa !!.

Kapal terbang.
Nih ada kapal terbang sedang terbang. Ngngngngngng. Ada musuh, kapal terbangnya menembak musuh … dor .. dor .. dor. Kapal terbangnya turun ke muka bayi terus keperutnya. Boneka, dimainkan seolah-olah ia berbicara kepada bayi / anak Menyebutkan nama mainan, nama makanan, anggota badan (tangan, kaki, jari-jari, mulut, mata, telinga, hidung dll.)

IV. Bernyanyi sambil bermain.
Pok-ambai-ambai, belalang kupu-kupu, tepok biar ramai, pagi-pagi minum …. cucu. Cecak-cecak didinding, diam-diam merayap, datang seekor lalat, ..hap! lalu ditangkap. Dua mata saya, hidung saya satu, (sambil menunjuk ke mata, hidung dst.)
Putarkan kaset lagu anak-anak, ikut bernyanyi, sambil tepuk tangan, goyang kepala dll.

V. Membacakan cerita sambil menunjukkan gambar-gambar
Bacakan cerita singkat dari buku cerita anak yang bergambar. Tunjukkan gambar tokoh-tokoh yang ada dalam cerita (binatang, benda-benda, manusia).
Tanyakan kembali apa nama benda tersebut, apa gunanya, siapa nama tokohTunjukkan gambar-gambar di dalam majalah.

VI. Menonton TV bersama anak sambil menyebutkan nama-nama benda, tokoh atau kejadian yang terlihat di TV
Itu mobil, yang itu kapal, itu sepeda. Itu kucing, di sebelahnya ada tikus dan anjing Kucing melompat, tikus lari, anjing duduk.

VII. Banyak berbicara sepanjang jalan ketika bepergian (ke pertokoan,rumah keluarga dll)
Tunjuklah benda-benda atau kejadian sambil menyebutkan dengan kata-kata berulang-ulang. Itu layang-layang sedang terbang, itu kakak sedang menyeberang jalan, itu burung sedang terbang, itu pohon ada bunganya, itu boneka pakai kacamata dll.

VIII. Bermain dengan anak lain yang lebih jelas dan lancar berbicaranya
Ajak bermain dengan anak lain (kakak, tetangga, sepupu) yang sudah lebih jelas berbicaranya, bermain bersama menggunakan boneka, kubus, balok, puzzle, Lego, gambar-gambar, buku bergambar dll.

PERHATIAN !!!

  • Jangan memaksa anak berbicara.
  • Kalau bayi / anak bersuara (walaupun tidak jelas) berikan jawaban, seolah-olah kita mengerti ucapannya
  • Pujilah segera kalau dia berbicara benar.
  • Jangan menyalahkan anak kalau ia salah mengucapkannya
  • Kalau anak sudah bosan sebaiknya beralih ke kegiatan lain Latihan – latihan ini selain merangsang berbicara sekaligus merangsang perkembangan emosi, sosial, dan perkembangan kognitif ( kecerdasan).

Sumber kepustakaan
Brooks JB ). Parenting Child With Special Needs. The Process of Parenting 3rd ed. 15 : 482-489. Mayfiel Publ. Coy., London (1991)
Coplan J. Language Delays. Dalam Parker, Zuckerman. Behavioral and Developmental Pediatrics. Litle Brown, Lomdon (1995)
Martin CA, Colbert KK.. Parenting Children With Special Needs. Parenting A Life Span perspective 11 : 270 – 272. McGraw-Hill, NewYork (1997)

Kategori:Pendidikan