Beranda > Humaniora, Pendidikan > Anakku Takut Balon?

Anakku Takut Balon?

Anak saya takut balon. Dia dia pernah mengalami kejadian pecahnya balon, sehingga dia trauma dengan suara pecahnya balon. Sekarang, dia tidak mau pergi ke acara apapun yang ada balonnya, karena takut balonnya meletus.

Kenapa trauma ini terjadi?

Trauma biasanya terjadi karena sebuah kejadian yang sangat mengejutkan, atau menimbulkan ledakan emosi yang berlebihan (misalnya, sedih, marah, atau takut).

Mengapa begitu? Mungkin sebelumnya kita perlu untuk mengetahui bagaimana pikiran kita bekerja. Ketika seseorang sedang mengalam lonjakan emosi yang tinggi, misalnya: pernahkah kita mungkin mengalami sebuah momen yang menyedihkan di masa lalu? Putus pacar, kehilangan orang yang dicintai, dll? Dan saat-saat itu mungkin ada lagu/musik yang sedang cukup sering kita dengarkan, yang buat kita mencerminkan perasaan kita saat itu? Baik, bila kita misalnya, setelah beberapa waktu (bulan atau tahun), sudah bisa mengatasi atau melupakan peristiwa itu. Apa yang terjadi apabila kita mendengar lagu/musik yang dulu pernah kita dengarkan tersebut? Terkadang, bila kesedihan itu (sebetulnya) belum selesai di pikiran kita, yang terjadi adalah muncul perasaan yang (mungkin) sama seperti yang pernah kita alami itu kan?

Atau misalnya, suatu hari, ketika kita sedang berada di bangku sekolah, tiba-tiba tanpa persiapan apapun, kita dipanggil untuk maju ke depan kelas. Apa yang kita rasakan saat itu? Terkejut, dan biasanya, kita akan selalu ingat momen-momen tersebut (seringkali jadi cerita-cerita lucu antar teman di masa sekarang).

Nah, dua ilustrasi itu secara sekilas menjelaskan bagaimana cara kerja pikiran kita merekam sebuah informasi. Pikiran kita mampu “merekam” dan “mengunci” informasi yang masuk secara ekstrim, yaitu yang terlebih dahulu mengalami lonjakan emosi atau terkejut. Hasil “rekaman” peristiwa dan “kuncian” perasaan yang terjadi itu, akan kembali “diputar ulang” ketika ada kejadian atau hal-hal yang mengarah/ terkait pada peristiwa yang sama, penyebab “rekaman” dan “kuncian” tersebut.

Secara sederhana, kita dapat simpulkan bahwa ketika kita sangat emosional, atau sangat terkejut, maka apapun yang kita lihat, dengar, dan rasakan, akan mengalir seperti air bah, masuk ke pikiran bawah sadar kita. Secara refleks pikiran bawah sadar akan mengeluarkan rekaman peristiwa dan perasaan tersebut kembali ketika kita berada pada situasi atau peristiwa yang (hampir) sama.

Inilah konsep terjadinya trauma pada diri manusia..

Apakah trauma bisa disembuhkan? Bagaimana caranya?

Trauma merupakan proses yang sifatnya wajar dan natural, sehingga bisa kita sembuhkan. Bagaimana caranya? Cara yang sederhana adalah tetap dengan pendekatan seorang anak, bermain.

Dalam kasus ini, salah satu cara, misalnya kita bisa memulai dengan balon yang masih kempes, yang belum ditiup. Ajak anak bermain dengan balon yang masih kempes tersebut, sekedar untuk membiasakan pikiran bawah sadar anak kita terbiasa dengan balon, dan memasukkan nilai bahwa balon tidak berbahaya baginya.

Setelah ia mulai terbiasa, maka tambah intensitasnya dengan balon yang kita tiup (didepannya) , hanya berisi sedikit udara (sehingga kalaupun pecah, tidak akan menimbulkan suara yang keras sekali). Buat percobaan bersama-sama dengan anak kita. Lepaskan balon tersebut, biarkan dia terlempar sedikit (karena udara keluar dari lubang tempat kita meniupnya), kemudian, bersama-sama melakukan percobaan kalau balon (yang berisi sedikit udara) itu, ditusuk dengan jarum. Ia akan pecah dengan suara yang kecil. Lakukan ini berulang-ulang.

Setelah ia mulai terbiasa, tambahkan kembali intensitasnya, dengan udara sedikit lebih banyak. Lakukan kembali seperti yang sebelumnya dilakukan. Begitu seterusnya. Bersabarlah ketika bermain, karena jika kita terburu-buru, justru hasil yang sebaliknya yang (mungkin) akan terjadi, yaitu justru traumanya terhadap balon tersebut akan dirasakan kembali, ketakutannya akan muncul. Jika ini terjadi, maka prosesnya harus kita mulai lagi, dan mungkin akan sedikit lebih sulit untuk membujuk anak kita untuk mau melakukannya kembali (karena ia ingat apa yang akan dilaluinya, ia sudah pernah mengikuti proses bersama kita).

Jadi, selamat menghilangkan trauma anak, percaya dan bermainlah.. .

Sumber : sekolahrumah@yahoogroups.com

Kategori:Humaniora, Pendidikan
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: