Beranda > Humaniora, Motivasi, Pendidikan > Petualangan ke Ujung Kulon : Catatan Seorang Ayah yang Diuji

Petualangan ke Ujung Kulon : Catatan Seorang Ayah yang Diuji

Oleh : Yudi Arianto

Hari Jum’at dan Sabtu, 17-18 Agustus 2007. Kami berdua, aku dan anak tertuaku, Lazuardi Tauhid (9 tahun) bersama rombongan menghabiskan liburan ini untuk pergi ke Pulau Peucang, sebuah pulau kecil di kawasan Taman Nasional Ujung Kulon. Dari Labuan kami masih harus berkendara kurang lebih selama 90 menit menuju sebuah kota nelayan kecil, Sumur. Dari Sumur kami masih harus naik perahu kecil menuju Pulau Peucang selama antara 2 – 3 jam, tergantung dari cuacanya.

Aku menyempatkan untuk mengajak Tauhid berpetualang ke pulau ini, bukanlah tanpa maksud. Ini adalah sebuah program dalam rangka Unschooling- nya Tauhid. Aku bermaksud memaparkan ia pada dunia nyata, ya sebuah dunia yang jarang diperkenalkan di sekolah.
Maka dimulailah petualangan itu. Semua baik-baik saja pada awalnya : laut cukup tenang, perahu pun melaju. Tak sampai 15 menit, Tauhid sudah mulai tidak bisa diam. Ia segera saja menjelajah seluruh perahu kecil itu. Untuk melakukannya dia harus berjalan di bibir perahu, berpegangan pada bagian atap perahu sementara tidak sampai setengah meter di bawahnya laut siap menyambutnya kalau dia jatuh. Aku memperingatkannya untuk berhati-hati. Apa jawab Tauhid ? : “Ayah, aku tahu . . . aku tahu . . . . “.

Satu jam kemudian laut mulai bergelora. Kapal kecil kami di ombang-ambingkan ke kanan dan ke kiri. Gelombang laut yang cukup besar bahkan menghantam dinding perahu dan airnya tempias membasahi tubuh kami. Dan itu berlangsung kurang lebih 2 jam ! Selama waktu itu, bukannya masuk ke dalam kabin penumpang, Tauhid memilih berada di luar bersamaku, rela berbasah-basah dan rela menanggung kengerian melihat gulungan ombak laut yang terus menerus menghantam dinding perahu. Seandainya mau dia bisa saja masuk dalam kabin penumpang, dan kengerian akan berkurang karena ia tidak melihat gelombang laut. Tapi tidak. Ia memilih untuk tetap di luar.

Dan itu mulai mencemaskanku. Sebagai orang tua bisa saja aku melarangnya untuk berada di luar. Atau sedari awal memintanya untuk berada di kabin penumpang sepanjang perjalanan. Tapi itu berarti menghianati prinsip yang selama ini aku pegang : mencoba untuk mempercayai dia dan memperlakukan dia setara seperti bagaimana halnya orang dewasa diperlakukan. Aku belajar untuk percaya bahwa Tauhid tahu apa yang harus dia lakukan untuk hidupnya. Tapi kini aku benar-benar diuji. Benarkah aku percaya anakku ini tahu apa yang seharusnya ia lakukan? Benarkah aku mempercayai dia untuk membuat keputusannya sendiri?
Kerapkali naluriku mendesakku untuk melarang ini dan itu, mencoba untuk mengarahkan sesuatu, dan berpikir bahwa seorang anak tidak tahu apa-apa.
Inilah dua jam yang berat dalam hidupku. Inilah transisi dari apa yang aku dan istriku coba terapkan dalam pendidikan anak-anak kami, khususnya Tauhid.

Dan akhirnya aku lulus! Aku berhasil memperlakukan Tauhid sebagai layaknya orang dewasa yang tahu apa yang harus dia lakukan. Alih-alih mencoba untuk menggunakan “wewenang orang tua” pada Tauhid, akau membiarkannya memutuskan sesuatunya sendiri. Dan ternyata dia melakukannya dengan baik. Alih-alih dia takut, wajahnya biasa-biasa saja menghadapi hantaman gelombang itu.

Mendekati pantai Pulau Peucang, gelombang mulai tenang. Dan itu kugunakan untuk mengamati Tauhid. Cara dia bergerak, cara dia menjaga dirinya agar tidak tercebur ke laut saat berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya dalam kapal, cara dia berkomunikasi dengan teman-temanku, . . . . . . . Sungguh seperti bukan anak berumur 9 tahun.
Tauhid juga mengundang kekaguman teman-temanku, mereka memujinya secara langsung atas keberanian Tauhid selama di perahu.
Bebarapa teman menanyaiku : bagaimana kau mengajarinya? Aku hanya nyengir, tak menjawab. Sebab sesungguhnya tak ada yang mengajari Tauhid.
Dan ini mengukuhkan prinsip yang aku yakini bahwa sesungguhnya anak-anak itu pembelajar alami. Mereka akan belajar apa saja yang mereka rasa menarik bagi mereka dan penting bagi mereka. Tanpa perlu diarahkan. Tanpa perlu diatur-atur.
Peran kita hanyalah menyediakan sarana yang mereka butuhkan, mempercayai mereka, menjawab pertanyaan mereka, dan menjadi salah satu model bagi mereka.
Tidak lebih ! (***)

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: