Arsip

Archive for Oktober, 2007

Kualitas Pendidikan Terbaik di Dunia

Oktober 12, 2007 2 komentar

Oleh : Andri Aji Saputro

Tahukah Anda negara mana yang kualitas pendidikannya menduduki peringkat
pertama di dunia? Kalau Anda tidak tahu, tidak mengapa karena memang banyak
yang tidak tahu bahwa peringkat pertama untuk kualitas pendidikan adalah
Finlandia. Kualita pendidikan di negara dengan ibukota Helsinki , dimana
perjanjian damai dengan GAM dirundingkan, ini memang begitu luar biasa
sehingga membuat iri semua guru di seluruh dunia.

Peringkat I dunia ini diperoleh Finlandia berdasarkan hasil survei
internasional yang komprehensif pada tahun 2003 oleh Organization for Economic
Cooperation and Development (OECD). Tes tersebut dikenal dengan nama PISA
mengukur kemampuan siswa di bidang Sains, Membaca, dan juga Matematika.
Hebatnya, Finlandia bukan hanya unggul secara akademis tapi juga menunjukkan
unggul dalam pendidikan anak-anak lemah mental. Ringkasnya, Finlandia
berhasil membuat semua siswanya cerdas. Lantas apa kuncinya sehingga
Finlandia menjadi Top No 1 dunia?

Dalam masalah anggaran pendidikan Finlandia memang sedikit lebih tinggi
dibandingkan rata-rata negara di Eropa tapi masih kalah dengan beberapa
negara lainnya.

Finlandia tidaklah mengenjot siswanya dengan menambah jam-jam belajar,
memberi beban PR tambahan, menerapkan disiplin tentara, atau memborbardir
siswa dengan berbagai tes. Sebaliknya, siswa di Finlandia mulai sekolah pada
usia yang agak lambat dibandingkan dengan negara-negara lain, yaitu pada
usia 7 tahun, dan jam sekolah mereka justru lebih sedikit, yaitu hanya 30
jam perminggu.

Bandingkan dengan Korea , ranking kedua setelah Finnlandia, yang siswanya
menghabiskan 50 jam perminggu. Lalu apa dong kuncinya? Ternyata kuncinya
memang terletak pada kualitas gurunya. Guru-guru Finlandia boleh dikata
adalah guru-guru dengan kualitas terbaik dengan pelatihan terbaik pula.
Profesi guru sendiri adalah profesi yang sangat dihargai, meski gaji mereka
tidaklah fantastis. Lulusan sekolah menengah terbaik biasanya justru
mendaftar untuk dapat masuk di sekolah-sekolah pendidikan dan hanya 1 dari 7
pelamar yang bisa diterima, lebih ketat persaingainnya ketimbang masuk ke
fakultas bergengsi lainnya seperti fakultas hukum dan kedokteran! Bandingkan
dengan Indonesia yang guru-gurunya dipasok oleh siswa dengan kualitas
seadanya dan dididik oleh perguruan tinggi dengan kualitas seadanya pula.

Dengan kualitas mahasiswa yang baik dan pendidikan dan pelatihan guru yang
berkualitas tinggi tak salah jika kemudian mereka dapat menjadi guru-guru
dengan kualitas yang tinggi pula. Dengan kompetensi tersebut mereka bebas
untuk menggunakan metode kelas apapun yang mereka suka, dengan kurikulum
yang mereka rancang sendiri, dan buku teks yang mereka pilih sendiri. Jika
negara-negara lain percaya bahwa ujian dan evaluasi bagi siswa merupakan
bagian yang sangat penting bagi kualitas pendidikan, mereka justru percaya
bahwa ujian dan testing itulah yang menghancurkan tujuan belajar siswa.
Terlalu banyak testing membuat kita cenderung mengajar siswa untuk lolos
ujian, ungkap seorang guru di Finlandia.

Padahal banyak aspek dalam pendidikan yang tidak bisa diukur dengan ujian.
Pada usia 18 th siswa mengambil ujian untuk mengetahui kualifikasi mereka di
perguruan tinggi dan dua pertiga lulusan melanjutkan ke perguruan tinggi.

Siswa diajar untuk mengevaluasi dirinya sendiri, bahkan sejak Pra-TK!
Inimembantu siswa belajar bertanggungjawab atas pekerjaan mereka sendiri,
kata Sundstrom, kepala sekolah di SD Poikkilaakso, Finlandia. Dan kalau
mereka bertanggungjawab mereka akan bekeja lebih bebas.Guru tidak harus
selalu mengontrol mereka.

Siswa didorong untuk bekerja secara independen dengan berusaha mencari
sendiri informasi yang mereka butuhkan. Siswa belajar lebih banyak jika
mereka mencari sendiri informasi yang mereka butuhkan. Kita tidak belajar
apa-apa kalau kita tinggal menuliskan apa yang dikatakan oleh guru. Disini
guru tidak mengajar dengan metode ceramah, Kata Tuomas Siltala, salah
seorang siswa sekolah menengah. Suasana sekolah sangat santai dan fleksibel.
Terlalu banyak komando hanya akan menghasilkan rasa tertekan dan belajar
menjadi tidak menyenangkan, sambungnya.

Siswa yang lambat mendapat dukungan yang intensif. Hal ini juga yang membuat
Finlandia sukses. Berdasarkan penemuan PISA , sekolah-sekolah di Finlandia
sangat kecil perbedaan antara siswa yang berprestasi baik dan yang buruk dan
merupakan yang terbaik menurut OECD.

Remedial tidaklah dianggap sebagai tanda kegagalan tapi sebagai kesempatan
untuk memperbaiki. Seorang guru yang bertugas menangani masalah belajar dan
prilaku siswa membuat program individual bagi setiap siswa dengan penekanan
tujuan-tujuan yang harus dicapai, umpamanya: Pertama, masuk kelas; kemudian
datang tepat waktu; berikutnya, bawa buku, dlsb.

Kalau mendapat PR siswa bahkan tidak perlu untuk menjawab dengan benar,
yang penting mereka berusaha. Para guru sangat menghindari kritik terhadap
pekerjaan siswa mereka. Menurut mereka, jika kita mengatakan “Kamu salah”
pada siswa, maka hal tersebut akan membuat siswa malu. Dan jika mereka malu
maka ini akan menghambat mereka dalam belajar. Setiap siswa diperbolehkan
melakukan kesalahan. Mereka hanya diminta membandingkan hasil mereka dengan
nilai sebelumnya, dan tidak dengan siswa lainnya. Jadi tidak ada sistem
ranking-rankingan. Setiap siswa diharapkan agar bangga terhadap dirinya
masing-masing.

Ranking-rankingan hanya membuat guru memfokuskan diri pada segelintir siswa
tertentu yang dianggap terbaik di kelasnya. Kehebatan sistem pendidikan di
Finlandia adalah gabungan antara kompetensi guru yang tinggi, kesabaran,
toleransi dan komitmen pada keberhasilan melalui tanggung jawab pribadi.
Kalau saya gagal dalam mengajar seorang siswa, kata seorang guru, maka itu
berarti ada yang tidak beres dengan pengajaran saya! Benar-benar ucapan guru
yang sangat bertanggungjawab.

* *

*Diambil dari Top of the Class – Fergus Bordewich *

Iklan
Kategori:Pendidikan

Kalau Sarapan Pun Jadi Urusan Negara

Sarapan atau makan pagi buat banyak orang hanyalah soal kebiasaan dan selera, tak perlu jadi urusan publik, apalagi negara. Namun, tidak demikian di Jepang. Soal sarapan jadi bagian dari kerja pemerintah. Bagi Pemerintah Jepang, soal makan pagi adalah soal penting yang perlu mendapat perhatian serius dari negara.

Untuk urusan makan pagi ini, Departemen Kesehatan, Departemen Tenaga Kerja, dan Departemen Sosial melakukan survei tahun 2005, yaitu survei nutrisi dan kesehatan nasional.

Dari hasil survei didapat fakta bahwa satu dari tiga pria usia 20 tahun di Jepang tidak sarapan. Adapun di kalangan perempuan usia 20 tahun, satu dari empat perempuan tidak sarapan. Kelompok usia 20 tahun ini memang kelompok yang paling banyak tidak sarapan, disusul kelompok usia 30 tahun. Sementara kelompok usia 70 tahun ke atas adalah kelompok yang paling rajin makan pagi.

Dari soal sarapan ini, menurut Asisten Konselor Departemen Promosi Pendidikan Pola Makan Jepang Miho Kawano, bisa disimpulkan telah terjadi pergeseran pola makan orang Jepang.

Tren mengabaikan makan pagi semakin meningkat pada anak-anak SD dan SMP. Jika pada tahun 1995 hanya 13,3 persen murid SD di Jepang yang tidak sarapan, tahun 2005 persentasenya meningkat menjadi 14,75 persen. Sementara di kalangan siswa SMP, tahun 1995 hanya 18,9 persen anak yang tidak sarapan, tahun 2005 menjadi 19,5 persen. Alasan mereka tidak makan adalah tidak ada waktu atau tidak disediakan oleh orangtuanya.

Padahal, bagi generasi terdahulu, sarapan merupakan bagian dari “ritual” kehidupan yang harus dilakukan untuk memulai sebuah hari baru.

“Ketidakpedulian terhadap makan pagi telah membuat pola diet masyarakat berubah. Ini memengaruhi kesehatan dan produktivitas mereka. Jika kebiasaan itu meluas, akan memengaruhi bangsa ini,” kata Miho.

Mulai pudar

Bukan hanya kebiasaan makan pagi yang mulai pudar di kalangan keluarga Jepang, tradisi makan bersama keluarga pun memudar. Dari survei yang dilakukan terhadap pelajar usia 5 tahun-18 tahun diperoleh kenyataan semakin sedikit persentase anak yang menikmati makan malam setiap hari bersama seluruh anggota keluarganya.

Jika tahun 1976, sekitar 36,5 persen anak menikmati makan malam setiap hari dengan seluruh keluarganya, tahun 2004 hanya 25,9 persen anak yang menikmatinya. Hal itu sejalan dengan semakin meningkatnya tren makan di luar dan kebiasaan makan makanan siap saji.

“Perubahan ini menjadi potret dari gaya hidup masyarakat saat ini,” kata Miho. Masyarakat sedang dalam proses meninggalkan pola makan yang seimbang, seperti yang biasa dihidangkan dalam menu tradisional Jepang.

“Muncul ketergantungan terhadap makanan yang berasal dari luar. Kuliner tradisional Jepang semakin tergusur, bahkan kami khawatir kekayaan kuliner itu akan hilang,” Miho menambahkan.

Dari data yang disodorkan Departemen Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan Jepang, rasio pemenuhan kebutuhan pangan dari produk lokal semakin turun, sementara ketergantungan terhadap bahan makanan dari luar meningkat.

Tahun 1985, rasio pemenuhan kebutuhan bahan makanan berdasarkan jumlah kalori dari produk dalam negeri lebih dari 50 persen, tetapi tahun 2005 hanya 39 persen. Sementara, jika dihitung berdasarkan volume, tahun 1985, sekitar 85 persen kebutuhan pangan dipenuhi oleh produk dalam negeri, tetapi tahun 2005 hanya 68 persen.

Dampak dari semua perubahan itu, menurut Miho, terlihat nyata pada kondisi kesehatan masyarakat. “Dibandingkan dengan 20 atau 10 tahun lalu, kini jumlah penduduk yang mengalami obesitas semakin tinggi. Begitu pula yang mengalami kekurangan berat badan,” ujarnya.

Berdasarkan data dari Departemen Kesehatan Jepang tahun 2005, satu dari tiga pria Jepang usia 40-60 tahun mengalami obesitas. Adapun satu dari lima perempuan usia 20-30 tahun terlalu kurus.

Selain itu, lebih dari 16,2 juta atau sekitar satu persen penduduk diduga kuat menderita diabetes, yang akan memicu munculnya penyakit-penyakit lain. Tidak hanya itu, dari hasil survei ditemukan, satu dari dua pria dan satu dari lima perempuan usia 40-74 tahun diduga kuat mengalami gangguan metabolisme.

Kondisi itu mencemaskan Pemerintah Jepang karena akan membuat kualitas manusia Jepang menurun. Untuk memperbaiki keadaan itu, dicanangkanlah gerakan “Health Japan 21” untuk mencapai target tertentu pada tahun 2010.

“Gerakan itu bukan hanya untuk mencapai kondisi kesehatan masyarakat yang lebih baik, tetapi sebuah gerakan kependudukan untuk membangun manusia Jepang abad ke-21,” tutur Representative Director The Japan Dietetic Association Daisuke Futami.

Menurut Futami, dengan “Health Japan 21”, diharapkan, antara lain, pada tahun 2010 perempuan kurus usia 20 tahun di Jepang kurang dari 15 persen. Adapun pria usia 20-60 tahun yang mengalami obesitas kurang dari 15 persen dan perempuan 40-60 tahun yang mengalami obesitas kurang dari 20 persen.

“Tampaknya sederhana, hanya soal membentuk berat badan yang seimbang. Namun, sebenarnya itu sebuah program besar, yaitu membangun gaya hidup sehat dan seimbang pada masyarakat Jepang,” kata Daisuke.

Dipimpin perdana menteri

Tekad Jepang untuk meningkatkan kualitas kehidupan masyarakatnya tidak tanggung-tanggung. Untuk mencapai tujuan “Health Japan 21” tahun 2010, pada tahun 2005 pemerintah membentuk Badan Promosi Syokuiku, atau pendidikan tentang makanan, yang bertugas selama lima tahun, yaitu tahun 2006-2010. Ada sembilan target yang harus dicapai dalam program Syokuiku.

Badan itu beranggota 25 orang dan langsung dipimpin oleh perdana menteri. Anggota badan itu para menteri kabinet yang terkait dengan program Syokuiku dan orang-orang yang memiliki pengetahuan dan pengalaman terkait tujuan Syokuiku.

Lembaga ini tidak hanya ada dipusat, tetapi juga dibentuk di daerah. Pemerintah provinsi dan kota terlibat dalam sosialisasi Syokuiku, begitu pula organisasi-organisasi yang ada di masyarakat.

Dana yang dianggarkan untuk mensosialisasikan Syokuiku pun tidak tanggung-tanggung, yaitu 11,3 miliar yen per tahun, atau sekitar Rp 904 miliar per tahun. Dana itu dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan, mulai dari menyebar beragam buku panduan pola makan sehat yang dirinci secara spesifik untuk anak-anak, remaja, orang dewasa, wanita hamil dan menyusui. Promosi Syokuiku ke sekolah-sekolah dan tempat penitipan anak, mendidik para guru, meningkatkan kegiatan makan siang di sekolah, melakukan berbagai kegiatan yang meningkatkan kecintaan masyarakat pada produk dalam negeri, dan sebagainya.

“Dana itu tidak seberapa dibandingkan dengan hasil yang akan dicapai. Jika gaya hidup masyarakat semakin baik, kesehatan masyarakat pun akan semakin baik. Artinya, subsidi untuk kesehatan bisa semakin kecil. Kalau kualitas hidup semakin baik, produktivitas penduduk akan semakin tinggi dan itu berdampak pada perekonomian negeri ini,” kata Daisuke.

Jepang adalah negara dengan harapan hidup tertinggi di dunia. Tahun 2006, harapan hidup perempuan Jepang 85 tahun, sementara untuk pria 75 tahun.

Belum lagi apabila kampanye untuk menggunakan bahan makanan produk lokal dan mengonsumsi menu diet tradisional Jepang berhasil, maka kehidupan petani, nelayan, dan peternak Jepang akan terjamin. Setidaknya pasar dalam negeri telah terproteksi untuk mereka. Tidak ada lagi keluhan bahwa petani, nelayan, dan peternak akan semakin tergusur dari kehidupan modern sebuah negeri. Dan, warisan kekayaan kuliner Jepang pun akan terus terpelihara dari generasi ke generasi.

Bercermin dari yang dilakukan Jepang, ternyata membangun bangsa bisa dimulai dari sarapan pagi. (Elly Roosita)

Sumber : Kompas.co.id

Kategori:Kesehatan

NOKIA N95, Dream Phone

Oktober 11, 2007 3 komentar

n95a.jpg

Harga : BARU : RP. 6.500.000,- ; SECOND : RP. 5.500.000,-

Nokia N95 yang akan diluncurkan pada pertengahan April 2007 merupakan produk baru. Semua fitur yang ada di berbagai ponsel dijadikan satu dalam Nokia N95, seperti kamera 5 megapixel dengan lensa Carl Zeiss, “built-in” GPS dengan peta Jakarta pada saat diluncurkan, serta fungsi multimedia lainnya.

Multimedia Experience Manager Nokia Indonesia, Fabiant Kayatmo dalam percakapan dengan Kompas, Jumat (23/3) menjelaskan, selain itu N95 punya fungsi “TV out” di mana kita bisa memutar video di N95 dan ditonton langsung di layar TV ukuran besar. Ini juga dapat dilakukan melalui WiFi dengan teknologi UPnP (Universal Plug and Play).

Dari sisi fitur, N95 mendukung teknologi A2DP, yaitu teknologi stereo Bluetooth. Pengguna N95 dapat menikmati musik, menggunakan headphone nirkabel.

Internal memory N95 relatif besar, 160 MB dengan eksternal memori 1 GB (microSD). “Tapi bisa ditambah sampai 2 GB,” kata Fabiant didampingi Corporate Communication Manager Nokia Indonesia, Regina Hutama.

Dalam N95, ada fasilitas video centre, di mana pemilik N95 bisa melakukan download beberapa video dari YouTube, Reuters, yang bekerja sama dengan Nokia. Pemilik N95 dapat mengirimkan foto-foto dan video langsung ke Vox, juga mengirim foto ke flickr.

Kelebihan Nokia N95 lainnya adalah memiliki dual slide. Kalau digeser ke atas, muncul keypad. Kalau digeser ke bawah, muncul tombol khusus music player dengan posisi landscape, horisontal.

Jenis baterai yang digunakan di N95 ramping dan ringan tapi kekuatannya besar sehingga membuat N95 lebih ringan. Baterai BL5F baru pertama digunakan dalam produk Nokia.

SPESIFIKASI NOKIA N95
Network system HSDPA / GSM 850 / 900 / 1800 / 1900  
Size 99 x 53 x 21 mm, 90 cc  
Weight 120 g  
Display – TFT, 16M colors
– 240 x 320 pixels, 2.6 inches
 
Battery type Standard battery, Li-Ion 950 mAh (BL-5F)  
Stand-by Up to 220 h  
Talk time Up to 6 h 30 min  
Ringtones Polyphonic (64 channels), Monophonic, True Tones, MP3  
Option    
Number in phone Yes  
Call records Yes  
Memory microSD (up to 2GB), hot swap
– 160 MB internal memory
 
GPRS Class 10 (4+1/3+2 slots), 32 – 48 kbps  
Messaging SMS, MMS, EMail, Instant Messaging  
Infrared port Yes  
Games downloadable  
Color Silver  
Features – Camera 5 MP, 2592 x 1944 pixels, Carl Zeiss optics, autofocus, video(VGA 30fps), flash; secondary CIF videocall camera
– Bluetoorh v2.0, A2DP
– EDGE Class 32, 296 kbps; DTM Class 11, 236.8 kbps
– 3G HSDPA
– Wi-Fi 802.11 b/g, UPnP technology
– Symbian OS 9.2, S60 rel. 3.1
– WAP 2.0/xHTML, HTML
– Built-in GPS navigation
– Installed Maps application covering over 100 countries
– Dual slide design
– Java MIDP 2.0
– MP3/AAC/AAC+/eAAC+/WMA player
– 3.5 mm audio output jack
– TV out
– Stereo FM Radio
– Organiser
– Office document viewer
– T9
– Push to talk
– Voice dial/memo
– Built-in handsfre

Sumber : Kompas.com, PonselJakarta.com

Kategori:Personal, Teknologi

Hidup Sehat ala Rasulullah Saw

Oktober 11, 2007 2 komentar

1. SELALU BANGUN SEBELUM SUBUH
Rasul selalu mengajak ummatnya untuk bangun sebelum subuh, melaksanakan sholat sunah dan sholat Fardhu, sholat subuh berjamaah. Hal ini memberi hikmah yg mendalam antara lain :
– Berlimpah pahala dari Allah
– Kesegaran udara subuh yg bagus utk kesehatan/terapi penyakit TB
– Memperkuat pikiran dan menyehatkan perasaan

2. AKTIF MENJAGA KEBERSIHAN

Rasul selalu senantiasa rapi & bersih, tiap hari kamis atau Jumaat beliau mencuci rambut-rambut halus di pipi, selalu memotong kuku, bersisir dan berminyak wangi. “Mandi pada hari Jumaat adalah wajib bagi setiap orang-orang dewasa. Demikian pula menggosok gigi dan memakai harum-haruman” (HR Muslim)

3.TIDAK PERNAH BANYAK MAKAN
Sabda Rasul : “Kami adalah sebuah kaum yang tidak makan sebelum lapar dan bila kami makan tidak terlalu banyak ( tidak sampai kekenyangan) “(Muttafaq Alaih) Dalam tubuh manusia ada 3 ruang untuk 3 benda : Sepertiga untuk udara, sepertiga untuk air dan sepertiga lainnya untuk makanan. Bahkan ada satu tarbiyyah khusus bagi ummat Islam dengan adanya Puasa Ramadhan untuk menyeimbangkan kesehatan

4. GEMAR BERJALAN KAKI
Rasul selalu berjalan kaki ke Masjid, Pasar, medan jihad, mengunjungi rumah sahabat, dan sebagainya. Dengan berjalan kaki, keringat akan mengalir, pori-pori terbuka dan peredaran darah akan berjalan lancar. Ini penting untuk mencegah penyakit jantung

5. TIDAK PEMARAH
Nasihat Rasulullah : “Jangan Marah”diulangi sampai 3 kali. Ini menunujukkan hakikat kesehatan dan kekuatan Muslim bukanlah terletak pada jasadiyah belaka, tetapi lebih jauh yaitu dilandasi oleh kebersihan dan kesehatan jiwa.
Ada terapi yang tepat untuk menahan marah :
– Mengubah posisi ketika marah, bila berdiri maka duduk, dan bila duduk maka berbaring
– Membaca Ta ‘awwudz, karena marah itu dari Syaithon
– Segeralah berwudhu
– Sholat 2 Rokaat untuk meraih ketenangan dan menghilangkan kegundahan hati

6. OPTIMIS DAN TIDAK PUTUS ASA

Sikap optimis akan memberikan dampak psikologis yang mendalam bagi kelapangan jiwa sehingga tetap sabar, istiqomah dan bekerja keras, serta tawakal kepada Allah SWT.

7. TAK PERNAH IRI HATI

Untuk menjaga stabilitas hati & kesehatan jiwa, mentalitas maka menjauhi iri hati merupakan tindakan preventif yang sangat tepat.
::Ya Allah,bersihkanlah hatiku dari sifat sifat mazmumah dan hiasilah diriku dengan sifat sifat mahmudah…: :

Kategori:Islam, Kesehatan

Hamas Bukan Cuma Jago Perang

Seorang perempuan tua pengungsi Palestina di pinggir kota Damaskus itu mengangkat kedua tangannya, menolak bantuan yang dibawa Ziad Al-Qisyawi. “Maaf, saya baik-baik saja, silakan berikan kepada tetangga-tetangga saya yang lebih membutuhkan,” katanya dengan suara parau yang tegas.

Meskipun tubuhnya sudah renta, berdirinya masih tegak di depan gubuk reyot yang disebutnya rumah itu. Ia bahkan tak punya kloset yang sehat. Tempatnya membuang hajat adalah sebuah lubang di tanah yang di atasnya ada kerangka kursi dari besi yang dipakainya duduk menahan tubuhnya.

Namun perempuan tua itu memiliki martabat yang tinggi, dan rasa syukur yang besar dibandingkan kebanyakan orang lainnya.

Menurut Ziad Al-Qisyawi, kordinator penyantun para janda dan yatim syuhada Palestina yang bekerja di bawah organisasi mujahidin Hamas, memang banyak pengungsi yang keadaannya lebih buruk dari perempuan tua tadi.

Rupanya Hamas bukan hanya jago bertempur, tetapi juga sangat rapi dalam menjalankan program-program kemanusiaan. Dalam kunjungannya baru-baru ini ke Indonesia, selama Ramadhan, Ziad Al-Qisyawi menjelaskan panjang lebar kinerja organisasinya mengurusi 500 ribu pengungsi Palestina di Suriah, yang tersebar di 20 titik.

“Baru-baru ini kami membiayai operasi tumor ganas seorang anak yang harus dilakukan di Jerman,” katanya kepada www.hidayatullah.com. Perawatan kesehatan juga menjadi perhatian organisasinya.
Ziad juga menunjukkan foto-foto walimatul ‘ursy para pemuda Palestina yang dibiayai pernikahannya oleh Hamas dan diberi modal keuangan untuk memulai rumah tangga.

Sekarang ini, menurut Ziad, di dalam wilayah Palestina saja ada sekitar 7000 keluarga yang ayahnya syahid dibunuh Israel di medan pertempuran atau karena disiksa di penjara.

Saat ini ada sekitar 12 ribu rakyat Palestina yang sedang disiksa setiap hari di penjara-penjara Israel, 200 diantaranya perempuan.

Setiap bulannya, Hamas menyalurkan dana bantuan untuk keluarga-keluarga tanpa ayah itu AS$ 500 per keluarga. Hamas juga memberi beasiswa AS$40 per anak per bulan dalam keluarga-keluarga itu.

Yang terbaru, Hamas di Damaskus juga sedang secara rutin menyantuni sekitar 15 ribu pengungsi Palestina yang disiksa dan diusir dari tempat tinggalnya di Iraq oleh kelompok-kelompok Syi’ah.

Celakanya, pemerintah Suriah juga menolak menampung mereka. Akibatnya, para pengungsi Palestina itu terpaksa tinggal di padang pasir dengan tenda-tenda darurat tanpa persediaan air, makanan dan pemanas yang memadai.
“Saya tidak bisa membayangkan parahnya keadaan mereka nanti di musim dingin,” kata Ziad lirih. Musim dingin di perbatasan Iraq-Suriah itu biasanya bisa mencapai kedinginan –10 derajat celcius disertai badai salju.

Setiap minggu, Hamas mengirim makanan, pakaian dan kebutuhan lain untuk para pengungsi Palestina dari Iraq itu.

Ziad Al-Qisyawi sendiri, adalah seorang mujahidin Palestina yang diusir oleh Israel dari tanah kelahirannya di Rafah. Ia memiliki 12 orang anak, namun sejak 24 tahun yang lalu ia tak pernah bisa menemui 6 orang anaknya karena dipaksa pisah oleh Israel.

Ziad dan istrinya bersama 6 orang anak tinggal di Damaskus, Suriah, sedangkan keenam anak lainnya di dalam wilayah Palestina yang terjajah, beratus-ratus kilometer jaraknya.

Ferry Nur, sekjen KISPA (Komite Indonesia untuk Solidaritas Palestina) mengatakan kepada www.hidayatullah.com, banyak orang Indonesia berpikir ‘ngapain jauh-jauh membantu orang Palestina, di negeri kita sendiri saja banyak orang susah dan kena bencana’.

“Harus saya ingatkan di sini,” kata Ferry Nur, “Masalah Palestina dan Masjidil Aqsha yang dijajah Zionis- Israel bukan cuma masalah kemanusiaan biasa, ini masalah agama, masalah aqidah.”

“Jangan-jangan,” kata Ferry, “berbagai bencana dan kesusahan yang dialami bangsa Indonesia sekarang ini, justru karena selama bertahun-tahun kita cuek dan mengabaikan penderitaan saudara-saudara kita di Palestina!”

Ferry juga mengingatkan, bahwa bangsa Palestina adalah diantara bangsa-bangsa pertama yang mengakui kemerdekaan dan berdirinya Republik Indonesia di tahun 1945. “Kita berutang pada mereka, sekarang waktunya kita melunasi utang itu,” tukasnya.

Rekening KISPA (Komite Indonesia untuk Solidaritas Palestina)

Bank Muamalat Indonesia (BMI) no: 311.01856.22 a/n Nurdin QQ KISPA

Sumber : Hidayatullah.com

Kategori:Islam

Modus Penculikan Anak Di Pusat Keramaian

PERINGATAN PENTING BAGI SEMUA ORANG TUA!.

Walaupun anda tidak /belum punya anak kecil sekalipun, tolong sebarkan informasi ini kepada semua saja yang mungkin membutuhkan,yang dapat anda ingat. Anda tak pernah bisa tahu siapa yang akan anda selamatkan dengan mengirim informasi yang ada di eMail ini. Mohon meluangkan waktu untuk meneruskan(forward) kepada semua teman yang punya anak kecil ataupun cucu.
Terima Kasih.

Ini adalah sharing kami atas suatu kejadian yang terjadi pada hari ini ( eMail asli tertanggal Jumat 26 Sep 2003) sewaktu sedang belanja di Carefour ( catatan : tidak dijelaskan Carefour yang mana).

Seorang ibu sedang melongok persediaan daging yang ada, dan sesaat kemudian berbalik dan mennemukan bahwa anak perempuannya yang berumur 4 tahun. tidak berada lagi ditempat/hilang. Saya pada saat itu kebetulan
sedang berdiri disamping ibu tersebut, dan kemudian ibu tersebut memanggil manggil anaknya tetapi tanpa hasil.

Saya kemudian meminta tolong kepada seorang pegawai Carefour untuk mengumumkan kehilangan anak tersebut melalui pengeras suara. Hal mana dilakukannya, dengan segera berjalan disamping saya kesebuah telepon yang tersedia dan mengumumkan bahwa semua pintu dan jalur keluar manapun supaya segera ditutup/dikunci dengan menyebutkan sebuah kode tertentu.

Kemudian seluruh jalan keluar dengan segera ditutup.
Keseluruhannya ini hanya butuh waktu 3(tiga) menit sejak saya meminta untuk diumumkan. Mereka kemudian berhasil menemukan si anak kecil tersebut dalam keadaan Terbius di salah satu ruang kamar mandi yang ada. Kepalanya sudah setengah dicukur, hanya mengenakan pakaian dalamnya saja, dan ada tas pakaian, sebuah pencukur(razor) dan sebuah wig dilantai disampingnya.

Jadi siapapun orang ini, dia berhasil mengambil anak gadis tersebut, membawanya ke kamar mandi, mencukur separuh kepalanya dan melepaskan pakaiannya hanya dalam waktu kira-kira kurang dari 10 menit.

Hal mana membuat saya geleng-geleng kepala, hampir tidak dapat dipercaya. Jadi harap mengawasi anak/cucu anda ketika sedang berada di tempat terbuka seperti Mall Mall dimana akan sangat mudah terpisahkan secara tak
sengaja. Dalam kasus diatas hanya dibutuhkan waktu yang sedemikian pendeknya untuk melaksanakan kejahatan itu. 5 menit lagi saja dan anak tersebut akan sudah lewat dari pintu dan hilang.

Hingga saat ini saya masih tidak habis pikir bagaimana mungkin ada orang yang segila ini, apalagi dapat melaksanaakan hanya dalam hitungan menitan saja.

Kiranya lewat sudah hari-hari dimana anak-anak dapat berkeliaran kesana kemari dan paling sial yang akan terjadi adalah mereka mengganggu pengunjung lainnya saja.

Alhamdulillah si gadis kecil tersebut memang baik baik saja berkat karyawan yang sigap, perhatian, dan tidak mau mengambil resiko.

PASTIKAN UNTUK MENERUSKAN BERITA INI KEPADA SEMUA ORANG, SEHINGGA MEREKA AKAN SELALU INGAT BAHWA MASIH BANYAK ORANG SAKIT PIKIRAN
SEPERTI INI DILUAR SANA !!.

Kategori:Tips & Trik

Menanamkan Nilai Lewat Makan Siang

Elly Roosita

Hanya dalam waktu sekitar 20 menit Simbata Usuke (7) menghabiskan semangkok nasi, semangkok sup, sepotong perkedel udang, sepiring sayur, sepotong buah pir, dan 200 mililiter susu. Piring dan mangkok pun bersih, tak sedikit pun ada makanan yang tersisa.

“Harus habis, kalau tidak saya tidak bisa mengikuti pelajaran dengan baik. Saya suka semua makanan yang dibuat oleh sekolah,” ucap Usuke.

Kesadaran untuk tidak menyisakan makanan tidak hanya tertanam dalam diri bocah laki-laki, murid kelas II SD Nishikasai, yang terletak di tengah kota metropolis Tokyo, Jepang, itu, tetapi juga dalam diri teman sekelasnya, Nisiro Nomuki (7).

Bocah perempuan ini, sebelum menyantap makan siangnya, ia meminta izin kepada gurunya untuk mengurangi porsi nasinya. “Saya kurang suka hizikigohan, daripada tidak habis lebih baik dikurangi porsinya. Sayang kalau terbuang,” celotehnya.

Hal yang sama juga dilakukan Uno Haruka (8). Anak perempuan ini mengaku, sebelum berangkat sekolah ia sarapan dalam jumlah lebih banyak dari biasanya. “Jadi sekarang masih kenyang. Saya kurangi saja nasinya, tetapi yang lain tetap,” katanya.

Kesadaran untuk tidak membuang makanan tertanam kuat dalam diri anak-anak itu. Mereka sangat menghargai makanan. Sebab, mereka tahu untuk menghasilkan makanan tersebut para petani, peternak, dan nelayan telah bekerja sangat keras, dan itu patut dihargai.

Kegiatan makan siang di sekolah-sekolah Jepang bukan sekadar untuk mengisi perut yang lapar. Kegiatan makan siang adalah bagian dari pendidikan. Lewat makan siang di sekolah, para guru menanamkan kecintaan pada makanan tradisional Jepang, memberi pengajaran tentang gizi, disiplin, dan menghargai produk lokal.

“Menu yang kami sajikan adalah menu diet tradisional Jepang yang bahan-bahannya adalah produk lokal di wilayah ini atau wilayah sekitar. Tidak ada produk impor atau makanan olahan yang siap saji. Anak-anak harus menghabiskan makan siangnya karena menu yang disiapkan sesuai dengan kebutuhan tubuh mereka. Sejak dini kami beri pengertian, kalau tidak menghabiskan makan siangnya, mereka akan kekurangan gizi sehingga tidak bisa tumbuh dengan baik, apalagi berpikir,” tutur Kepala Sekolah SD Nishikasai Tokyo, Kimiko Yobe, yang memimpin sekolah dengan 696 murid yang terbagi dalam 20 kelas.

Siang itu anak-anak SD Nishikasai menyantap semangkok hizikigohan atau nasi yang diolah bersama makanan dari laut; sepiring nibitashi yaitu sawi, kol, dan taoge yang direbus menjadi satu dengan diberi sedikit garam; humasagoage atau perkedel udang; sup tougannomisosuri; sepotong buah pir, dan susu.

Kelebihan berat

Program makan siang di sekolah mulai diwajibkan di Jepang sejak 16 belas tahun lalu. Program ini dilaksanakan secara bersama-sama oleh Departemen Pendidikan, Departemen Kesehatan, dan Departemen Sosial sebagai program diet untuk anak-anak Jepang.

Program ini diluncurkan karena melihat gejala semakin banyak anak Jepang yang mengalami kelebihan berat badan dan berubahnya selera makan anak-anak akibat menjamurnya restoran cepat saji serta waralaba makanan dari Barat.

Untuk menumbuhkan kembali kecintaan terhadap makanan tradisional Jepang dan mengurangi kecenderungan kelebihan berat badan pada anak-anak, Departemen Pendidikan Jepang memberi panduan dan mendorong pelaksanaan program makan siang di sekolah; selain memberi subsidi untuk pelaksanaan program tersebut.

“Ada rekomendasi yang harus kami ikuti untuk menyiapkan makan siang. Bahkan kami diberi panduan tentang jumlah nutrisi yang diberikan pada anak sesuai tingkat usianya,” kata Kimiko.

Misalnya, untuk makan siang setiap anak usia 6-7 tahun, sekolah menyiapkan menu dengan standar komposisi nasi 42 gram, buah 30 gram, gula 3 gram, susu 206 gram, garam 0,24 gram, dan sebagainya. Dalam daftar yang disusun oleh Departemen Pendidikan Jepang, setidaknya ada 25 elemen gizi yang harus dipenuhi dalam menu makan siang anak-anak.

Untuk melaksanakan panduan yang diberikan Departemen Pendidikan, setiap sekolah memiliki seorang ahli gizi yang mengatur menu dan mengontrol pembuatan makanan itu. Seluruh menu makan siang dibuat di dapur sekolah oleh empat juru masak. Para juru masak itu bukan pegawai sekolah, tetapi pegawai perusahaan swasta yang bekerja sama dengan sekolah. Perusahaan itu juga menyediakan bahan makanan yang akan diolah.

“Kami harus sangat hati-hati menyiapkan makanan buat anak-anak agar sesuai standar. Menunya disusun per bulan. Orangtua bisa memberi saran tentang menu atau jenis makanan. Setiap September kami kirim kuesioner kepada orangtua. Dari kuesioner itu orangtua dapat memberi saran sekaligus mengetahui panduan makan untuk anaknya,” kata Yoko Kobayashi, ahli nutrisi SD Nishikasai.

Selain standar nutrisi yang harus dipatuhi, program makan siang di sekolah juga mensyaratkan semua bahan makanan harus produk lokal dan segar. Bukan makanan olahan apalagi makanan siap saji. “Setiap pagi ada yang mengirim bahan makanan segar. Tidak ada yang disimpan di kulkas. Kami menyiapkan makanan buat anak-anak pukul 09.30-11.30 dan jam makan siang pukul 12.30-13.30,” papar Yoko.

Untuk program makan siang, orangtua hanya membayar 2.300 yen per bulan atau sekitar Rp 184.000. “Jumlah ini tergolong murah untuk kehidupan seperti di Tokyo karena ada subsidi dari pemerintah,” ujar Kimiko.

Pendidikan orangtua

Melalui program makan siang, Pemerintah Jepang tampaknya tak hanya ingin “mengarahkan” selera anak-anak untuk kembali menyukai masakan Jepang, tetapi juga menjadikan anak-anak “alat” untuk mendidik orangtuanya.

“Anak-anak yang sudah terbiasa dengan menu tradisional Jepang akan meminta orangtuanya untuk memasak makanan yang sama. Dengan demikian, mau tidak mau menu makan keluarga akan kembali ke menu tradisional Jepang,” tutur Kimiko.

Cara itu relatif efektif. Simbata Usuke misalnya, bocah ini semula kurang suka dengan nasi. Namun, setelah setiap kali makan siang di sekolah dia mendapatkan nasi dengan berbagai variasi cara memasak, akhirnya ia menyukainya.

“Saya selalu minta kepada ibu agar membuat masakan sama seperti yang dibuat di sekolah dan harus ada nasinya,” ujarnya.

Tidak hanya itu, program makan di sekolah juga telah mengajarkan disiplin pada anak-anak di Jepang. Mereka tidak boleh menyantap makanan lain selama berada di sekolah, kecuali makan siang, meskipun waktu sekolah di Jepang relatif panjang, yaitu pukul 08.30-16.00.

“Tidak ada makanan lain selain makan siang. Oleh karena itu, setiap pagi mereka harus sarapan yang cukup agar tidak kelaparan sebelum waktu makan siang tiba. Kalau ada yang merasa lapar sebelum makan siang, kami tanya apakah ia cukup sarapan, dan biasanya anak itu tidak cukup sarapannya. Jika itu yang pertama terjadi, maka ada toleransi kami beri dia buah. Biasanya kejadian itu tidak terulang lagi. Dan orangtua sudah kami beri arahan agar menyiapkan sarapan dengan baik untuk anaknya,” kata Yoko.

Penanaman nilai-nilai melalui program makan siang di sekolah berjalan dengan sangat “cair”. Kecintaan pada menu tradisional, sekaligus produk lokal negerinya, menghargai jerih payah orang lain, dan disiplin, terpatri dalam diri anak-anak, tanpa mereka merasa dipaksa untuk melakukan semua itu.

“Kami hanya memberikan contoh. Kalau anak-anak harus menghabiskan makanannya, itu juga berlaku pada guru. Menu yang dimakan anak-anak sama dengan yang dimakan guru. Kalau mereka harus antre sebelum makan, guru juga antre. Guru dan murid sama-sama harus membereskan wadah bekas makan siangnya,” tutur Kimiko.

Dan siang di awal musim gugur itu pun sama seperti siang-siang lainnya, makan siang berjalan tertib tanpa kegaduhan. Semuanya berjalan sesuai urutannya. Satu per satu, usai makan, Simbata, Uno, dan Nisiro, dan yang lainnya memasukkan sumpit, piring, mangkok, dan baki bekas wadah makan siangnya ke tempatnya masing-masing yang telah disediakan. Tanpa kegaduhan, tanpa keributan. Guru-guru Jepang itu telah mendidik muridnya dengan hati.

Sumber : Kompas.co.id

Kategori:Humaniora, Pendidikan