Beranda > Humaniora, Pendidikan > Menanamkan Nilai Lewat Makan Siang

Menanamkan Nilai Lewat Makan Siang

Elly Roosita

Hanya dalam waktu sekitar 20 menit Simbata Usuke (7) menghabiskan semangkok nasi, semangkok sup, sepotong perkedel udang, sepiring sayur, sepotong buah pir, dan 200 mililiter susu. Piring dan mangkok pun bersih, tak sedikit pun ada makanan yang tersisa.

“Harus habis, kalau tidak saya tidak bisa mengikuti pelajaran dengan baik. Saya suka semua makanan yang dibuat oleh sekolah,” ucap Usuke.

Kesadaran untuk tidak menyisakan makanan tidak hanya tertanam dalam diri bocah laki-laki, murid kelas II SD Nishikasai, yang terletak di tengah kota metropolis Tokyo, Jepang, itu, tetapi juga dalam diri teman sekelasnya, Nisiro Nomuki (7).

Bocah perempuan ini, sebelum menyantap makan siangnya, ia meminta izin kepada gurunya untuk mengurangi porsi nasinya. “Saya kurang suka hizikigohan, daripada tidak habis lebih baik dikurangi porsinya. Sayang kalau terbuang,” celotehnya.

Hal yang sama juga dilakukan Uno Haruka (8). Anak perempuan ini mengaku, sebelum berangkat sekolah ia sarapan dalam jumlah lebih banyak dari biasanya. “Jadi sekarang masih kenyang. Saya kurangi saja nasinya, tetapi yang lain tetap,” katanya.

Kesadaran untuk tidak membuang makanan tertanam kuat dalam diri anak-anak itu. Mereka sangat menghargai makanan. Sebab, mereka tahu untuk menghasilkan makanan tersebut para petani, peternak, dan nelayan telah bekerja sangat keras, dan itu patut dihargai.

Kegiatan makan siang di sekolah-sekolah Jepang bukan sekadar untuk mengisi perut yang lapar. Kegiatan makan siang adalah bagian dari pendidikan. Lewat makan siang di sekolah, para guru menanamkan kecintaan pada makanan tradisional Jepang, memberi pengajaran tentang gizi, disiplin, dan menghargai produk lokal.

“Menu yang kami sajikan adalah menu diet tradisional Jepang yang bahan-bahannya adalah produk lokal di wilayah ini atau wilayah sekitar. Tidak ada produk impor atau makanan olahan yang siap saji. Anak-anak harus menghabiskan makan siangnya karena menu yang disiapkan sesuai dengan kebutuhan tubuh mereka. Sejak dini kami beri pengertian, kalau tidak menghabiskan makan siangnya, mereka akan kekurangan gizi sehingga tidak bisa tumbuh dengan baik, apalagi berpikir,” tutur Kepala Sekolah SD Nishikasai Tokyo, Kimiko Yobe, yang memimpin sekolah dengan 696 murid yang terbagi dalam 20 kelas.

Siang itu anak-anak SD Nishikasai menyantap semangkok hizikigohan atau nasi yang diolah bersama makanan dari laut; sepiring nibitashi yaitu sawi, kol, dan taoge yang direbus menjadi satu dengan diberi sedikit garam; humasagoage atau perkedel udang; sup tougannomisosuri; sepotong buah pir, dan susu.

Kelebihan berat

Program makan siang di sekolah mulai diwajibkan di Jepang sejak 16 belas tahun lalu. Program ini dilaksanakan secara bersama-sama oleh Departemen Pendidikan, Departemen Kesehatan, dan Departemen Sosial sebagai program diet untuk anak-anak Jepang.

Program ini diluncurkan karena melihat gejala semakin banyak anak Jepang yang mengalami kelebihan berat badan dan berubahnya selera makan anak-anak akibat menjamurnya restoran cepat saji serta waralaba makanan dari Barat.

Untuk menumbuhkan kembali kecintaan terhadap makanan tradisional Jepang dan mengurangi kecenderungan kelebihan berat badan pada anak-anak, Departemen Pendidikan Jepang memberi panduan dan mendorong pelaksanaan program makan siang di sekolah; selain memberi subsidi untuk pelaksanaan program tersebut.

“Ada rekomendasi yang harus kami ikuti untuk menyiapkan makan siang. Bahkan kami diberi panduan tentang jumlah nutrisi yang diberikan pada anak sesuai tingkat usianya,” kata Kimiko.

Misalnya, untuk makan siang setiap anak usia 6-7 tahun, sekolah menyiapkan menu dengan standar komposisi nasi 42 gram, buah 30 gram, gula 3 gram, susu 206 gram, garam 0,24 gram, dan sebagainya. Dalam daftar yang disusun oleh Departemen Pendidikan Jepang, setidaknya ada 25 elemen gizi yang harus dipenuhi dalam menu makan siang anak-anak.

Untuk melaksanakan panduan yang diberikan Departemen Pendidikan, setiap sekolah memiliki seorang ahli gizi yang mengatur menu dan mengontrol pembuatan makanan itu. Seluruh menu makan siang dibuat di dapur sekolah oleh empat juru masak. Para juru masak itu bukan pegawai sekolah, tetapi pegawai perusahaan swasta yang bekerja sama dengan sekolah. Perusahaan itu juga menyediakan bahan makanan yang akan diolah.

“Kami harus sangat hati-hati menyiapkan makanan buat anak-anak agar sesuai standar. Menunya disusun per bulan. Orangtua bisa memberi saran tentang menu atau jenis makanan. Setiap September kami kirim kuesioner kepada orangtua. Dari kuesioner itu orangtua dapat memberi saran sekaligus mengetahui panduan makan untuk anaknya,” kata Yoko Kobayashi, ahli nutrisi SD Nishikasai.

Selain standar nutrisi yang harus dipatuhi, program makan siang di sekolah juga mensyaratkan semua bahan makanan harus produk lokal dan segar. Bukan makanan olahan apalagi makanan siap saji. “Setiap pagi ada yang mengirim bahan makanan segar. Tidak ada yang disimpan di kulkas. Kami menyiapkan makanan buat anak-anak pukul 09.30-11.30 dan jam makan siang pukul 12.30-13.30,” papar Yoko.

Untuk program makan siang, orangtua hanya membayar 2.300 yen per bulan atau sekitar Rp 184.000. “Jumlah ini tergolong murah untuk kehidupan seperti di Tokyo karena ada subsidi dari pemerintah,” ujar Kimiko.

Pendidikan orangtua

Melalui program makan siang, Pemerintah Jepang tampaknya tak hanya ingin “mengarahkan” selera anak-anak untuk kembali menyukai masakan Jepang, tetapi juga menjadikan anak-anak “alat” untuk mendidik orangtuanya.

“Anak-anak yang sudah terbiasa dengan menu tradisional Jepang akan meminta orangtuanya untuk memasak makanan yang sama. Dengan demikian, mau tidak mau menu makan keluarga akan kembali ke menu tradisional Jepang,” tutur Kimiko.

Cara itu relatif efektif. Simbata Usuke misalnya, bocah ini semula kurang suka dengan nasi. Namun, setelah setiap kali makan siang di sekolah dia mendapatkan nasi dengan berbagai variasi cara memasak, akhirnya ia menyukainya.

“Saya selalu minta kepada ibu agar membuat masakan sama seperti yang dibuat di sekolah dan harus ada nasinya,” ujarnya.

Tidak hanya itu, program makan di sekolah juga telah mengajarkan disiplin pada anak-anak di Jepang. Mereka tidak boleh menyantap makanan lain selama berada di sekolah, kecuali makan siang, meskipun waktu sekolah di Jepang relatif panjang, yaitu pukul 08.30-16.00.

“Tidak ada makanan lain selain makan siang. Oleh karena itu, setiap pagi mereka harus sarapan yang cukup agar tidak kelaparan sebelum waktu makan siang tiba. Kalau ada yang merasa lapar sebelum makan siang, kami tanya apakah ia cukup sarapan, dan biasanya anak itu tidak cukup sarapannya. Jika itu yang pertama terjadi, maka ada toleransi kami beri dia buah. Biasanya kejadian itu tidak terulang lagi. Dan orangtua sudah kami beri arahan agar menyiapkan sarapan dengan baik untuk anaknya,” kata Yoko.

Penanaman nilai-nilai melalui program makan siang di sekolah berjalan dengan sangat “cair”. Kecintaan pada menu tradisional, sekaligus produk lokal negerinya, menghargai jerih payah orang lain, dan disiplin, terpatri dalam diri anak-anak, tanpa mereka merasa dipaksa untuk melakukan semua itu.

“Kami hanya memberikan contoh. Kalau anak-anak harus menghabiskan makanannya, itu juga berlaku pada guru. Menu yang dimakan anak-anak sama dengan yang dimakan guru. Kalau mereka harus antre sebelum makan, guru juga antre. Guru dan murid sama-sama harus membereskan wadah bekas makan siangnya,” tutur Kimiko.

Dan siang di awal musim gugur itu pun sama seperti siang-siang lainnya, makan siang berjalan tertib tanpa kegaduhan. Semuanya berjalan sesuai urutannya. Satu per satu, usai makan, Simbata, Uno, dan Nisiro, dan yang lainnya memasukkan sumpit, piring, mangkok, dan baki bekas wadah makan siangnya ke tempatnya masing-masing yang telah disediakan. Tanpa kegaduhan, tanpa keributan. Guru-guru Jepang itu telah mendidik muridnya dengan hati.

Sumber : Kompas.co.id

Kategori:Humaniora, Pendidikan
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: