Beranda > Kesehatan > Kalau Sarapan Pun Jadi Urusan Negara

Kalau Sarapan Pun Jadi Urusan Negara

Sarapan atau makan pagi buat banyak orang hanyalah soal kebiasaan dan selera, tak perlu jadi urusan publik, apalagi negara. Namun, tidak demikian di Jepang. Soal sarapan jadi bagian dari kerja pemerintah. Bagi Pemerintah Jepang, soal makan pagi adalah soal penting yang perlu mendapat perhatian serius dari negara.

Untuk urusan makan pagi ini, Departemen Kesehatan, Departemen Tenaga Kerja, dan Departemen Sosial melakukan survei tahun 2005, yaitu survei nutrisi dan kesehatan nasional.

Dari hasil survei didapat fakta bahwa satu dari tiga pria usia 20 tahun di Jepang tidak sarapan. Adapun di kalangan perempuan usia 20 tahun, satu dari empat perempuan tidak sarapan. Kelompok usia 20 tahun ini memang kelompok yang paling banyak tidak sarapan, disusul kelompok usia 30 tahun. Sementara kelompok usia 70 tahun ke atas adalah kelompok yang paling rajin makan pagi.

Dari soal sarapan ini, menurut Asisten Konselor Departemen Promosi Pendidikan Pola Makan Jepang Miho Kawano, bisa disimpulkan telah terjadi pergeseran pola makan orang Jepang.

Tren mengabaikan makan pagi semakin meningkat pada anak-anak SD dan SMP. Jika pada tahun 1995 hanya 13,3 persen murid SD di Jepang yang tidak sarapan, tahun 2005 persentasenya meningkat menjadi 14,75 persen. Sementara di kalangan siswa SMP, tahun 1995 hanya 18,9 persen anak yang tidak sarapan, tahun 2005 menjadi 19,5 persen. Alasan mereka tidak makan adalah tidak ada waktu atau tidak disediakan oleh orangtuanya.

Padahal, bagi generasi terdahulu, sarapan merupakan bagian dari “ritual” kehidupan yang harus dilakukan untuk memulai sebuah hari baru.

“Ketidakpedulian terhadap makan pagi telah membuat pola diet masyarakat berubah. Ini memengaruhi kesehatan dan produktivitas mereka. Jika kebiasaan itu meluas, akan memengaruhi bangsa ini,” kata Miho.

Mulai pudar

Bukan hanya kebiasaan makan pagi yang mulai pudar di kalangan keluarga Jepang, tradisi makan bersama keluarga pun memudar. Dari survei yang dilakukan terhadap pelajar usia 5 tahun-18 tahun diperoleh kenyataan semakin sedikit persentase anak yang menikmati makan malam setiap hari bersama seluruh anggota keluarganya.

Jika tahun 1976, sekitar 36,5 persen anak menikmati makan malam setiap hari dengan seluruh keluarganya, tahun 2004 hanya 25,9 persen anak yang menikmatinya. Hal itu sejalan dengan semakin meningkatnya tren makan di luar dan kebiasaan makan makanan siap saji.

“Perubahan ini menjadi potret dari gaya hidup masyarakat saat ini,” kata Miho. Masyarakat sedang dalam proses meninggalkan pola makan yang seimbang, seperti yang biasa dihidangkan dalam menu tradisional Jepang.

“Muncul ketergantungan terhadap makanan yang berasal dari luar. Kuliner tradisional Jepang semakin tergusur, bahkan kami khawatir kekayaan kuliner itu akan hilang,” Miho menambahkan.

Dari data yang disodorkan Departemen Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan Jepang, rasio pemenuhan kebutuhan pangan dari produk lokal semakin turun, sementara ketergantungan terhadap bahan makanan dari luar meningkat.

Tahun 1985, rasio pemenuhan kebutuhan bahan makanan berdasarkan jumlah kalori dari produk dalam negeri lebih dari 50 persen, tetapi tahun 2005 hanya 39 persen. Sementara, jika dihitung berdasarkan volume, tahun 1985, sekitar 85 persen kebutuhan pangan dipenuhi oleh produk dalam negeri, tetapi tahun 2005 hanya 68 persen.

Dampak dari semua perubahan itu, menurut Miho, terlihat nyata pada kondisi kesehatan masyarakat. “Dibandingkan dengan 20 atau 10 tahun lalu, kini jumlah penduduk yang mengalami obesitas semakin tinggi. Begitu pula yang mengalami kekurangan berat badan,” ujarnya.

Berdasarkan data dari Departemen Kesehatan Jepang tahun 2005, satu dari tiga pria Jepang usia 40-60 tahun mengalami obesitas. Adapun satu dari lima perempuan usia 20-30 tahun terlalu kurus.

Selain itu, lebih dari 16,2 juta atau sekitar satu persen penduduk diduga kuat menderita diabetes, yang akan memicu munculnya penyakit-penyakit lain. Tidak hanya itu, dari hasil survei ditemukan, satu dari dua pria dan satu dari lima perempuan usia 40-74 tahun diduga kuat mengalami gangguan metabolisme.

Kondisi itu mencemaskan Pemerintah Jepang karena akan membuat kualitas manusia Jepang menurun. Untuk memperbaiki keadaan itu, dicanangkanlah gerakan “Health Japan 21” untuk mencapai target tertentu pada tahun 2010.

“Gerakan itu bukan hanya untuk mencapai kondisi kesehatan masyarakat yang lebih baik, tetapi sebuah gerakan kependudukan untuk membangun manusia Jepang abad ke-21,” tutur Representative Director The Japan Dietetic Association Daisuke Futami.

Menurut Futami, dengan “Health Japan 21”, diharapkan, antara lain, pada tahun 2010 perempuan kurus usia 20 tahun di Jepang kurang dari 15 persen. Adapun pria usia 20-60 tahun yang mengalami obesitas kurang dari 15 persen dan perempuan 40-60 tahun yang mengalami obesitas kurang dari 20 persen.

“Tampaknya sederhana, hanya soal membentuk berat badan yang seimbang. Namun, sebenarnya itu sebuah program besar, yaitu membangun gaya hidup sehat dan seimbang pada masyarakat Jepang,” kata Daisuke.

Dipimpin perdana menteri

Tekad Jepang untuk meningkatkan kualitas kehidupan masyarakatnya tidak tanggung-tanggung. Untuk mencapai tujuan “Health Japan 21” tahun 2010, pada tahun 2005 pemerintah membentuk Badan Promosi Syokuiku, atau pendidikan tentang makanan, yang bertugas selama lima tahun, yaitu tahun 2006-2010. Ada sembilan target yang harus dicapai dalam program Syokuiku.

Badan itu beranggota 25 orang dan langsung dipimpin oleh perdana menteri. Anggota badan itu para menteri kabinet yang terkait dengan program Syokuiku dan orang-orang yang memiliki pengetahuan dan pengalaman terkait tujuan Syokuiku.

Lembaga ini tidak hanya ada dipusat, tetapi juga dibentuk di daerah. Pemerintah provinsi dan kota terlibat dalam sosialisasi Syokuiku, begitu pula organisasi-organisasi yang ada di masyarakat.

Dana yang dianggarkan untuk mensosialisasikan Syokuiku pun tidak tanggung-tanggung, yaitu 11,3 miliar yen per tahun, atau sekitar Rp 904 miliar per tahun. Dana itu dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan, mulai dari menyebar beragam buku panduan pola makan sehat yang dirinci secara spesifik untuk anak-anak, remaja, orang dewasa, wanita hamil dan menyusui. Promosi Syokuiku ke sekolah-sekolah dan tempat penitipan anak, mendidik para guru, meningkatkan kegiatan makan siang di sekolah, melakukan berbagai kegiatan yang meningkatkan kecintaan masyarakat pada produk dalam negeri, dan sebagainya.

“Dana itu tidak seberapa dibandingkan dengan hasil yang akan dicapai. Jika gaya hidup masyarakat semakin baik, kesehatan masyarakat pun akan semakin baik. Artinya, subsidi untuk kesehatan bisa semakin kecil. Kalau kualitas hidup semakin baik, produktivitas penduduk akan semakin tinggi dan itu berdampak pada perekonomian negeri ini,” kata Daisuke.

Jepang adalah negara dengan harapan hidup tertinggi di dunia. Tahun 2006, harapan hidup perempuan Jepang 85 tahun, sementara untuk pria 75 tahun.

Belum lagi apabila kampanye untuk menggunakan bahan makanan produk lokal dan mengonsumsi menu diet tradisional Jepang berhasil, maka kehidupan petani, nelayan, dan peternak Jepang akan terjamin. Setidaknya pasar dalam negeri telah terproteksi untuk mereka. Tidak ada lagi keluhan bahwa petani, nelayan, dan peternak akan semakin tergusur dari kehidupan modern sebuah negeri. Dan, warisan kekayaan kuliner Jepang pun akan terus terpelihara dari generasi ke generasi.

Bercermin dari yang dilakukan Jepang, ternyata membangun bangsa bisa dimulai dari sarapan pagi. (Elly Roosita)

Sumber : Kompas.co.id

Kategori:Kesehatan
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: