Arsip

Archive for Desember, 2007

Jadilah Magnet Atas Suksesmu

Desember 21, 2007 1 komentar

What you see in your mind, you’re going to hold it in your hand” (Bob Proctor)

Sekarang ini, di mana-mana begitu ramai dibicarakan The Secret, buku yang ditulis oleh penulis kelahiran Australia Rhonda Byrne. Buku yang menggemparkan ini telah memopulerkan nama Rhonda Byrne dan menobatkan dirinya menjadi salah satu perempuan berpengaruh di dunia saat ini. Apakah yang menarik dari buku The Secret ini? Intisari The Secret adalah The Law of Attraction atau hukum daya tarik. Inti dari hukum daya tarik ini adalah like attract like. Artinya, sesuatu akan menarik sesuatu yang mirip dengannya. Jadi, saat kita memikirkan sesuatu, dikatakan bahwa kita sedang menarik sesuatu itu ke arah diri kita.

Bayangkanlah seorang ibu yang seringkali mengalami kecopetan. Masalahnya, setiap kali ke pasar, ia selalu membayangkan dan dihantui bayangan para pencopet. Setiap kali mengalami kecopetan, ia semakin ketakutan dan semakin membayangkan hal itu terjadi lagi berulang kali. Pikiran si ibu itu menjadi magnet bagi para pencopet untuk mendekatinya.

Di sisi lain, ada seorang mahasiswa teologi yang mengatakan saat dirinya melancong ke luar negeri, ia tidak memiliki tabungan cukup dan tidak kenal siapa pun. Modalnya hanya berdoa dan membayangkan jalan mulus membentang di hadapannya. Anehnya, banyak kemudahan dan jalan ‘bantuan’ datang menghampirinya saat ia membutuhkan.

Dalam hukum daya tarik ini, pikiran kita bereksistensi ibarat magnet. Pikiran kita memiliki getaran frekuensi yang kita pancarkan ke sekeliling kita. Akibatnya, getaran ini mulai memengaruhi lingkungan sekitar kita dan mulai menarik alam semesta (universe) terkait berbagai hal kembali kepada diri kita.

Jadi, kalau getaran frekuensi yang kita pancarkan merupakan getaran kesuksesan dan kebahagiaan, alam semesta akan mengatur kesuksesan dan kebahagiaan itu sesuai dengan apa yang kita pikirkan. Sebaliknya, bila yang kita pikirkan adalah marabahaya, maka kemungkinan besar hal- hal yang tidak kita inginkan itulah yang bakalan menghampiri kita.

Mendukung mimpi

Seperti dikatakan DR.Joe Vitale, salah seorang pembicara dan penulis yang turut memberikan kontribusi dalam buku The Secret, “Alam semesta akan mulai mengatur dirinya, untuk membuat apa pun yang terpikirkan olehmu, mulai termanifestasikan bagi dirimu”.

Persis seperti pesan Sang Alkemis, novel spiritual Paulo Coelho. Di sana, dikisahkan tentang Santiago, seorang bocah penggembala domba dari Padang Andalusia, yang mengelana mewujudkan mimpi-mimpinya. Pesan utamanya, “Orang yang meyakini seluruh mimpi-mimpinya, maka seluruh alam semesta akan membantunya dalam mewujudkan mimpi-mimpi itu menjadi kenyataan.”

Bayangkan dengan mereka yang phobia dengan cecak dan takut kalau- kalau ada cecak. Akibatnya, jutsru mereka ‘menarik’ cecak di mana- mana. Demikian pula yang takut kegagalan, justru mereka menarik energi kegagalan dalam diri mereka. Sebaliknya, kalau kita menarik kekayaan, kesuksesan, uluran tangan, dan kebahagiaan, maka itulah yang akan tertarik ke arah dirimu.

James Ray, salah satu pemikir terkenal dan kontributor buku ini memakai metafora menarik. Bayangkanlah dunia ini seperti kisah lampu Aladin dalam dongeng 1001 Malam. Bayangkan, saat dirimu membutuhkan sesuatu dirimu tinggal menggosok lampunya, maka akan muncul jin ajaib dan berkata pada Anda, “Your wish is my command” (harapan Anda adalah perintah untuk saya). Bayangkanlah alam semesta mengatakan hal tersebut kepada diri Anda.

3 Langkah

Ada tiga langkah dalam proses the Law of Attraction ini. Ketiga langkah tersebut mencakup keberanian meminta (ask), keyakinan akan menerima (believe), dan kemampuan dan perasaan telah menerima (receive). Kalau dicermati prosesnya kembali, maka dikatakan, segala sesuatu dimulai dari keinginan dan kemauan kita untuk meminta dan mengharapkan hal yang positif terjadi dalam hidup kita.

Seperti dikatakan Jack Canfield dalam bukunya The Aladdin Factor, “Jika kamu tidak pernah meminta, maka kamu tidak akan pernah menerimanya”. Setelah meminta, maka dibutuhkan keyakinan bahwa kita bisa menerimanya.

Banyak orang meminta sesuatu, tetapi kemudian menjadi ragu-ragu sehingga apa yang ada tidak betul-betul termanifestasikan. Tanpa sadar terjadi energi ‘penolakan’ akibat keragu-raguannya.

Langkah terakhir adalah kemampuan kita untuk menerima atau, kalaupun belum terasakan sekarang, tetapi merasa telah mulai dalam proses menerima apa yang diharapkan. Masalahnya, banyak orang tidak sabar dan berhenti saat apa yang diharapkan tidak langsung terjadi. Otak membutuhkan penyesuaian dan alam semesta membutuhkan waktu mewujudkannya, tetapi kita sendiri harus meyakininya.

Lagi pula, penting pula kita untuk mendoakan dan mengharapkan bantuan tangan dan izin Tuhan sehingga apa yang kita pikirkan terwujud. Sebab, bagaimanapun hukum ini kita imani berjalan sesuai dengan kehendak-Nya. Karena itu, doa dan keyakinan atas berlakunya the law of attraction ini tetaplah menjadi hal penting.

Akhirnya, the law of attraction ini mengingatkan kita satu hal penting. Marilah kita selalu sadar dengan apa yang kita pikirkan. Hal ini akan menjadi sebuah medan magnet yang luar biasa.

Bayangkan, melalui pikiran itulah kita sedang membuat lukisan kehidupan kita sendiri. Kesimpulannya, kita, adalah apa yang kita bayangkan setiap hari.

Sumber: Jadilah Magnet Atas Suksesmu oleh Anthony Dio Martin, Director HR Excellency

Jalan Praktis Stop Kebiasaan Buruk

Desember 14, 2007 2 komentar

Not managing your time and making excuses are two bad habits. Don’t put them both together by claiming you “don’t have the time” (Bo Bennett)

Jangan mengatakan Anda tidak perlu membaca tulisan ini karena Anda bukan seorang pecandu alkohol. Banyak yang bisa digali dari istilah di atas. Baik bagi Anda maupun bagi orang-orang yang Anda cintai untuk keluar dari perilaku bermasalah.

Memang, teknik yang disebut dalam tulisan ini pertama kali dikembangkan dengan para pecandu alkohol. Ini merupakan cara bagaimana membebaskan mereka dari jeruji kecanduan minuman memabukkan itu.

Selama dibimbing di Alchoholic Anonymous, mereka diberi langkah sistematis agar mampu mengevaluasi kondisi mereka. Tujuannya agar mereka tertarik membuat langkah terobosan untuk berhenti. Nah, salah satu langkah sistematis terkenal yang dilakukan dengan para pecandu alkohol ini disebut dengan 3-parts Alcoholics Anonymous.

Langkah-langkah ini biasanya saya terapkan bersama para peserta workshop kecerdasan emosional untuk membangun kesadaran mengenai kehidupan mereka. Sejauh ini proses ini, ternyata banyak membantu!

Langkah-langkah praktis 3-parts Alcoholics Anonymous punya dampak positif, baik bagi pecandu alkohol, narkoba, maupun kebiasan buruk.  Saya pernah menerapkan ini pada seorang peserta training yang  kecanduan narkoba. Ia terisak saat saya menggunakan 3-parts Alcoholics Anonymous ini tentang hidupnya. Ia menyadari betapa banyak kehidupannya yang ‘terampas’ oleh kebiasaannya buruk itu.

Bukan hanya bagi pecandu. Saya juga pernah menggunakan teknik ini untuk memberikan kembali semangat pada seorang pebisnis yang kehilangan kepercayaan dirinya. Saya mengajaknya untuk mengambil kembali sumber daya, yakni pengalaman yang pernah dialaminya dan membuatnya menjadi yakin kembali. Jadi, ini pun bisa Anda terapkan pada posisi Anda sekarang.

Bagaimanakah prosesnya? Intinya, program ini terdiri dari beberapa langkah kesadaran. (1) Bagaimana gambaran saya dahulu; (2) Bagaimana gambaran diri saya sekarang; (3) Bagaimana caranya saya bisa dari kondisi dulu menjadi sekarang.

Proses pertama adalah menanyakan bagaimana gambaran diri kita dahulu. Ada 2 kemungkinan, lebih buruk atau lebih baik. Bagi para pecandu dan mereka yang berkebiasaan buruk, potret masa lalu biasanya lebih baik. Bahkan, ada beberapa pecandu narkoba, misalnya, pernah memiliki masa lalu yang begitu jaya dan sukses sebelum akhirnya kecanduan dan rusak hidupnya.

Bayangan masa lalu adalah bayangan yang mengharukan. Di situlah, biasanya orang bisa melihat bagaimana kondisi mereka sebelumnya. Itulah kecemerlangan yang pernah mereka miliki di masa lalu. Gambaran tentang masa lalu bisa menjadi gambaran bahwa, dibandingkan dengan kondisi sekarang, hidup mereka sebenarnya memburuk. Bagi beberapa pecandu, ini potret yang bisa menyadarkan mereka.

Proses pertama ini pun bisa dijadikan sarana memotivasi diri. Saya ingat sosok Anthony Robbins. Motivator nomor wahid ini pernah hidup di apartemen 2×2 . Bahkan, untuk cuci baju pun harus di wastafel. Ingat juga Tukul Arwana. Sebelum menjadi presenter sukses Empat Mata, ia pernah ngos-ngosan jadi kondektur.

Kesuksesan ia pahami sebagai kristalisasi keringat. Termasuk juga Krisna Mukti. Sebelum menjadi artis ngetop, ia harus bergumul dengan beragam penolakan. Begitu frustrasinya karena ditolak, ia pernah berjanji pada satpam yang menolaknya, “Suatu ketika kamulah yang akan mengemis-ngemis minta tanda tangan saya”. Nah, gambaran diri masa lalu juga bisa menjadi motivasi diri maupun memotivasi orang lain.

Proses kedua adalah membuat gambaran sekarang. Gambaran sekarang bisa merupakan gambaran kita yang berada dalam situasi ‘terpenjara’ oleh kebiasaan buruk kita. Bagi para pecandu dan mereka yang berkebiasaan buruk, masa inilah masa kelam mereka.

Ini sangat perlu disadari. Coba tarik sebuah garis yang memberikan ukuran level kualitas masa lalu ke level masa sekarang. Masa inilah yang sebenarnya bisa memberikan ukuran, apakah kehidupan yang kita jalani sebenarnya membaik atau justru memburuk. Jika jawabannya membaik, bersyukurlah. Hal ini bisa memberikan kita pelajaran bagaiman kesukaran, tantangan yang telah dilewati maupun pengorbanan yang kita buat tidaklah tidak sia-sia. Tetapi, jika jawabannya memburuk, saatnya kita merefleksikan berbagai keputusan pilihan salah maupun problem yang membuat situasi kita justru melemah dan menjadi kerdil.

Proses terakhir adalah proses merefleksikan kembali dan memaknai seluruh perjalanan hidup kita. Bisa jadi kita bisa menemukan penyebab utama kecanduan atau kebiasaan buruk.

Misalnya, relasi pertemanan yang keliru atau terlalu mudah percaya pada bujuk rayu orang. Berbagai situasi ini bisa menjadi bahan refleksi dan hikmah untuk menghindar dari pertemanan yang buruk di masa depan. Sementara itu, bagi yang mereka yang pernah mengenyam kejayaan tetapi sekarang terpuruk, ini pun bisa menjadi motivasi bahwa “kalau dulu saya pernah berhasil, sebenarnya saya memiliki otot yang bisa membuat saya berhasil lagi di masa yang akan datang”.

Intinya, perlu bagi kita untuk sesekali menggunakan 3-parts Alcoholics Anonymous ini sebagai langkah penting. Termasuk kita yang sudah sukses sekarang. Lebih-lebih kita yang terjebak dalam kebiasaan buruk yang ‘mencuri’ maupun ‘menyabotase’ kesuksesan hidup kita. Kita perlu sekali menyadari kehidupan yang ‘tercuri’ melalui langkah-langkah 3-parts Alcoholics Anonymous. Mari kita ambil kembali kehidupan yang layak kita miliki!

Sumber: Jalan Praktis Setop Kebiasaan Buruk oleh Anthony Dio Martin

Pemerintah Tidak Serius Wujudkan Sekolah Gratis

Pemerintah dinilai tidak serius merealisasikan sekolah gratis, terutama untuk pendidikan dasar sembilan tahun. Padahal, pendidikan bagi anak-anak usia wajib belajar tidak dapat ditawar-tawar lagi di tengah kemerosotan pencapaian pendidikan untuk semua (Education For All/EFA).

Sesuai evaluasi UNESCO, peringkat pencapaian pendidikan untuk semua (EFA) untuk Indonesia merosot dari 58 menjadi 62 di antara 130 negara di dunia.

”Pemerintah memang tidak serius untuk merealisasikan penuntasan wajib belajar yang berkualitas. Sampai sekarang pemerintah masih saja disibukkan dengan mengalkulasi apa yang ditanggung pemerintah dan apa yang mesti ditanggung daerah,” kata Ferdiansyah, anggota Komisi X DPR, di Jakarta, Kamis (13/12).

Oleh karena itu, kata Ferdiansyah, DPR mendesak pemerintah untuk merealisasikan Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) Pendanaan dan RPP Wajib Belajar sehingga ada kejelasan bagaimana pendanaan dan pelaksanaan pendidikan dasar bisa dilaksanakan di lapangan.

”DPR mendesak pemerintah supaya bisa menyelesaikan PP Pendanaan dan PP Wajib Belajar paling lama Juni 2008 supaya bisa bermanfaat bagi masyarakat, terutama dalam pendanaan di APBN,” kata anggota Fraksi Partai Golkar ini.

Sementara itu, Darmaningtyas, pengamat pendidikan dari Taman Siswa, menyayangkan jika pemerintahan saat ini tetap saja menganggap anggaran pendidikan sebagai beban APBN. Padahal, di dalam konstitusi secara jelas dinyatakan pemenuhan pendidikan, terutama pendidikan dasar, merupakan tanggung jawab negara.

Dodi Nandika, Sekretaris Jenderal Departemen Pendidikan Nasional, mengatakan pemerintah sebenarnya terus memperjuangkan supaya alokasi anggaran untuk pendidikan terus meningkat. Berbagai peraturan pemerintah untuk melaksanakan amanat Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional memang belum selesai karena masih belum mendapat persetujuan dari Departemen Hukum dan HAM.

Sumber : Kompas.Co.Id 

Manajemen Sedikit

Mas Bambang, seorang veteran bisnis yang telah bergelut dalam dunia bisnis lebih dari 40 tahun punya resep yang unik, dia beliau menyebutnya: “Manajemen Sedikit”. Secara prinsip Mas Bambang mengaku dia lebih senang berbuat sedikit mungkin, terutama dalam mencampuri urusan manajemen di kantor.

Mas Bambang berdalih Manajemen Sedikit ibaratnya memasak dengan oven microwave. Tingal pencet satu tombol. Selesai. Berlainan dengan gaya manajemen yang biasa, menurut Mas Bambang, lebih mirip dengan memasak cara tradisional. Butuh waktu dan usaha komplit yang lebih njelimet.

Mulanya saya bingung mendengarnya. Barulah ketika ngobrol lebih dalam dengan para crew dan staff di kantor Mas Bambang, saya baru mengerti apa yang dimaksudkan oleh Mas Bambang sebagai Manajemen Sedikit. Rupanya Mas Bambang orangnya sangat penyabar, jarang marah, dan senang memotivasi para pekerjanya untuk maju ke depan, secara agresif dan kreatif.

Setiap kali mereka memulai sebuah proyek, Mas Bambang lebih senang menyemai bibit. Begitu istilah beliau. Setelah itu Mas Bambang lebih senang mundur ke belakang dan sepenuhnya memberikan kebebasan bagi karyawannya untuk menunjukan karya dan prestasi mereka.

Hanya sekali-kali Mas Bambang memberikan dorongan kecil. Pokoknya Mas Bambang berusaha untuk sedikit mungkin mencampuri manajemen. Hasilnya memang ajaib.

Karyawan merasa mendapatkan kepercayaan penuh dari Mas Bambang, dan disiplin mereka untuk bertanggung jawab ternyata sangat tinggi. Mereka juga punya rasa optimisme dan percaya diri yang optimal. Saya jadi ingat sebuah buku kecil yang ditulis oleh Chin Ning Chu yang berjudul “Do Less Achieve More”. Buku yang ditulis pada 1998 itu, hingga kini masih menjadi salah satu buku favorit saya.

Chin menulis bahwa, kata sibuk dalam bahasa Cina terdiri dari dua simbol piktogram. Yang pertama merupakan simbol piktogram yang berarti jantung. Dan yang kedua adalah piktogram dengan simbol kematian. Artinya kalau kita terlampau sibuk tidak keruan, maka kematian adalah kutukan yang membayangi kita sehari-hari.

Mas Bambang bercerita bahwa dahulu dia pernah memiliki seorang general manajer yang sangat rajin, tetapi juga terlampau ketat ingin mengontrol semuanya. Akibatnya seluruh stafnya merasa stress. Produktivitas bukan meningkat tetapi justru semakin menurun. Mas Bambang akhirnya memecat sang general manajer.

Dia memerdekakan para staf dan karyawannya dari perasaan stress dan tertekan. Mas Bambang berusaha menciptakan sebuah lingkungan kerja yang memiliki dimensi unik, di mana semuanya merasa mudah, sehingga staf dan karyawannya lebih kreatif menciptakan terobosan dan inovasi.

Beberapa hari sebelum puasa, saya diajak Mpu Peniti makan soto daging kesukaan beliau. Pulang makan soto, saya diberi oleh-oleh dua lembar uang seribuan. Yang satu pecahan seribuan yang mungkin beredar pada 1970-an dan sudah tidak lagi laku. Yang kedua pecahan seribuan yang masih beredar saat ini. Kedua lembar uang seribuan itu nampak sangat baru, seperti baru keluar dari mesin cetak.

Saya bingung tidak keruan, karena tidak mengerti apa ulah Mpu Peniti. Akhirnya dengan senyum-senyum beliau bertanya kepada saya, mana di antaranya kedua lembar uang ribuan itu yang paling berharga. Saya beraksi secara refleks menunjuk lembaran uang ribuan yang masih berlaku saat itu. Tetapi Mpu Peniti malah menggeleng.

Beliau bertutur, bahwa lembaran uang ribuan yang sudah tidak berlaku lagi malah justru yang paling berharga. Karena 30 tahun yang lalu, selembar uang ribuan itu merupakan bagian dari kenaikan gaji Mpu Peniti saat itu. Saking girangnya, Mpu Peniti saat itu, sampai ia menyimpan seribu rupiah, yang saat itu sangat banyak jumlahnya sebagai kenang-kenangan. Secara historis uang ribuan itu punya nilai yang tak terhingga.

Berlainan dengan lembaran ribuan satunya lagi, yang memang didapat Mpu Peniti dari bank, dan nilainya memang cuma seribu perak. Dan seribu perak saat ini, terkadang tidak cukup untuk membeli nasi bungkus atau biaya parkir sekalipun.

Mpu Peniti berpesan kepada saya, bahwa kadang yang kelihatannya sangat sedikit sekali nilainya, tidak jarang justru yang paling berharga. Dalam bulan suci Ramadhan ini, di mana kita akan menjalankan ibadah puasa, dan sekaligus berlatih menahan nafsu.

Di saat bersamaan kita juga diberikan kesempatan yang sama untuk menghargai semuanya yang serba sedikit dan semuanya yang serba kekurangan. Kita diingatkan untuk berani mengorbankan yang berlimpah. Dan memilih yang sedikit. Karena sesungguhnya yang sedikit ini, tidak jarang lebih sehat dan lebih membahagiakan kita.

Sumber: Manajemen Sedikit oleh Kafi Kurnia

Kategori:Bisnis, Humaniora Tag:,

Membakar Fighting Spirit Anda

Desember 10, 2007 3 komentar

“Tidak ada satu pun di dunia ini yang dapat menggantikan ketekunan dan keteguhan hati. Itulah kunci sukses.” (Calvin Coolidge)

Bulan ini, kita baru saja mengenangkan jasa para pahlawan. Salah satu ciri utama seorang pahlawan adalah semangat perjuangannya. Semangat berjuang inilah yang mengantar bangsa ini mewujudkan cita-cita kemerdekaannya.

Sementara itu, kalau kita melihat kilas jejak orang-orang sukses, kita menemukan satu benang merah. Benang merah itu tak lain adalah fighting spirit (semangat juang) untuk mencapai kesuksesan itu. Fighting spirit sangat dekat dengan semangat berkompetisi secara luar biasa. Hampir semua orang yang berprestasi memiliki fighting spirit yang membuat mereka unggul.

Nah, bagaimana kualitas fighting spirit Anda dalam merengkuh kesuksesan? Marilah kita simak bersama. Thomas Alva Edison dikenal sebagai ilmuwan dan penemu luar biasa. Namun, kalau kita lihat latar kehidupannya, Edison bukanlah orang yang cerdas-cerdas amat. Dia gagal mengenyam pendidikan sampai selesai.

Diperkirakan IQ-nya hanya sekitar 110 sampai 120. Tuli sejak usia 11 tahun. Dia akrab dengan beragam penolakan. Namun, dia tidak pernah patah arang. Sampai-sampai di laboratorium, dia menggoreskan catatan kecil. Katanya,” Kalau tidak ada pabrik yang mau membuat penemuan saya, sayalah yang akan membuat pabrik itu.” Baginya, pabrik atau mati. Nah, semangat ini mirip adagium para pahwalan kita: merdeka atau mati.

Sosok inspiratif lain adalah Napoleon Bonaparte. Setelah kalah perang, Napoleon dibuang ke Pulau Elba. Di masa pembuangan itu, Napoleon menuliskan kegeramannya. “Sejak kecil saya tidak bisa berada di tempat lain selain berada di kelas teratas,” katanya. Menurut kesaksian istrinya Josephine, Napoleon tidak bisa menerima kekalahan kecil. Bahkan, dalam permainan catur sekalipun. Dia akan berupaya keras memenangi permainan.

Tak disangkal, semangat fighting spirit inilah yang membuat hasil- hasil dan prestasi yang luar biasa diciptakan. Tanpa semangat ini, kita hanya akan berakhir dengan rekor yang biasa-biasa dan sedang- sedang saja. Mudah berpuas diri. Namun, semangat menjadi pemenang itulah yang menciptakan rekor -rekor dunia dan berbagai hal yang dianggap ‘tidak mungkin’ dapat dipatahkan.

Fighting spirit adalah semangat untuk berjuang tanpa mengenal menyerah. Keinginan untuk membuktikan bahwa kita bisa menjadi jauh lebih baik, bahkan bisa tampil menjadi pemenang meskipun harapan yang ada tampaknya tipis sekali. Bicara tentang hal ini, salah satu contoh yang baik adalah tatkala kita menonton film pertarungan Rocky Balboa dalam film-film Rocky. Pertarungan yang diberikan Rocky adalah salah satu contoh yang baik dari makna fighting spirit.

Fighting spirit ini berlaku dalam setiap aspek kehidupan yang kita jalani. Fighting spirit mampu membuat kita mencapai level tertinggi dalam prestasi kita. Hal ini berarti, kita tidak mudah menyerah dalam bisnis yang kita jalani. Meski bertebaran komentar-komentar buruk di sekeliling kita.

Tak patah arang

Tidak mudah patah arang saat di mana orang lain menyerah. Berani menantang diri. Rela berkorban serta memberikan diri secara total untuk mencapai suatu rekor prestasi. Dalam hal meraih tujuan bisnis, membuktikan kualitas kerja, melebihi standar kebutuhan klien, semuanya bisa kita capai dengan fighting spirit yang tinggi. Semangat ini akan membuat orang bekerja secara tuntas dan prima.

Saya teringat kisah fighting spirit yang luar biasa dari seorang agen asuransi. Saat itu, cita-citanya adalah bisa membawa kedua orangtuanya ke luar negeri. Satu-satunya cara adalah memperoleh tiket mengikuti konferensi di luar negeri, sehingga dia bisa membawa orang tuanya.

Waktu untuk memenuhi target tinggal 2 bulan. Terlalu pesimistis, dan kebanyakan agen pasti mengatakan bahwa dalam dua bulan angkanya terlalu sulit dicapai. Namun, tidak demikian dengan rekan saya tersebut. Dia membulatkan lagi cita-citanya. Memetakan lagi rencananya. Lalu, mulai berjuang siang dan malam.

Waktu luangnya betul-betul ia pakai untuk mewujudkan cita-citanya itu. Dan tatkala diumumkan siapa-siapa yang berhasil mengikuti konferensi itu pada akhir tahun, namanya tercantum di situ. Dia berlutut ke tanah, menangis penuh kebahagiaan.

Kisah lain yang cukup mengesan adalah Michael Jordan, maestro dunia basket. Dirinya adalah bintang sejati yang tidak bisa menerima tantangan. Sampai-sampai pada 1998, Jordan berkata kepada reporter sebelum musim NBA mulai, “Kalau tidak ada tantangan, rasanya saya tidak bisa menunjukkan kepiawaian saya”.

Bahkan, pernah ketika pelatih dari New York Knick mengejeknya bahwa Jordan berusaha berbaik-baik dengan pemainnya untuk mendapatkan keuntungan di lapangan. Jordan begitu terbakar semangatnya, sehingga dia melumatkan the Knicks dengan kemenangan telak unggul 53 skor. Sebuah skor kemenangan yang fantastis.

Di bidang apa pun, para pahlawan dan orang-orang sukses ini menjadi saksi pentingnya fighting spirit ini. Tunjukkan bahwa kita tidak menerima begitu saja kritikan dan cercaan orang pada apa yang kita lakukan. Bahkan tunjukkan kita bisa memberikan hasil yang jauh lebih baik.

Jangan pula gampang menyerah sebelum pertandingan betul-betul usai. Selama masih ada waktu, kita masih punya peluang untuk meraih kemenangan dalam diri kita. Itulah yang kita pelajari dari Edison, Napoleon, Rocky Balboa, si agen asuransi serta Michael Jordan. Tanyakan sekali lagi, seberapa tangguh Anda telah berjuang?

Membakar Fighting Spirit Anda oleh Anthony Dio Martin

Bersyukurlah

Desember 9, 2007 3 komentar

Bersyukurlah.. dan percayalah, kemudahan-kemudahan itu akan terus datang. Yup setidaknya itu adalah motto saya, dan terus menguat setelah membaca dan nonton dvd The Secret , ternyata Al-Quran terbukti secara ilmiah. Fenomena bersyukur ini membuat saya tersenyum, dalam The Secret, yang para naras umbernya sebagaian besar adalah seorang filsafat, menjelaskan bahwa apabila kita sering bersyukur maka kemudahan-kemudahan akan terus datang, atau dalam bahasa mereka, alam semesta akan memberikan kemudahan, dan apabila kita sering mengeluh, maka alam semesta akan memberikan kesusahan kepada kita.

Hal yang membuat saya tersenyum adalah bahwa 1300 tahun yang lalu, teori tersebut telah tertulis dalam kitab suci Al-Quran, begini isinya

“Dan ketika Tuhanmu memaklumkan: ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih’.” (Q.s. Ibrahim: 7)

Kita bisa melihat dari ayat ini, betapa jika kita senantiasa bersyukur dalam segala kondisi apapun, maka Alloh Swt akan memberikan tambahan nikmatnya. Dan disini juga di tegaskan, bahwa apa bila kita mengingkari nikmatnya maka Alloh Swt akan memberikan ajab-Nya yang amat pedih. Dan mengeluh (yang berlebihan tentunya) adalah salah satu sikap yang mengingkari nikmat-Nya, karena setiap kesulitan, kesusahan yang sedang kita alami, pasti ada nikmat yang telah Alloh Swt berikan kepada kita, mungkin salah satunya adalah mata yang membuat anda membaca tulisan saya ini. Wallahu’alam Bishawab

Menghargai Pekerjaan

Desember 5, 2007 1 komentar

Tiga bulan lalu, Helen memanggil beberapa calon karyawan untuk wawancara. Dari seluruh pelamar yang dipanggil, Helen tertarik dengan dua orang yang dinilai paling cocok.  Salah seorang, sebut saja bernama Nana, adalah seorang fresh graduate. Nana belum pernah bekerja, baru lulus D3 langsung mengirimkan surat lamaran. Dilihat dari angka akademiknya cukup bagus, penampilannya di foto juga oke, maka Nana termasuk dipanggil untuk wawancara pertama.

Ketika datang ke kantor untuk wawancara pertama, Nana tampil oke. Sebagai seorang fresh graduate, penampilannya lebih baik dari yang lain. Seakan-akan dia sudah pernah bekerja. Setelah wawancara selesai, Nana keluar dan melewati ruang resepsionis, Helen tanpa sengaja melihat bahwa Nana tidak berpamitan kepada resepsionis, bahkan tersenyum pun tidak.

Seorang calon lain, sebut saja bernama Wati, juga menarik perhatiannya. Sama seperti Nana, dia juga seorang fresh graduate. Hanya bedanya, Wati pernah bekerja di sebuah perusahaan selama tiga bulan. Di perusahaan tersebut, Wati merasakan susahnya bekerja. Dia tidak boleh seenaknya keluar dari kantor.

Waktu makan siang pun dibatasi. Untuk minta ijin tidak masuk kerja juga sangat sulit, sehingga dia selalu memilih tetap masuk kerja meskipun sedang sakit. Untungnya dia hanya pernah sakit flu dua kali. Bukan penyakit yang termasuk parah.

Waktu dipanggil untuk wawancara, Wati minta agar boleh datang setelah jam kerja. Helen setuju. Ketika datang, Wati berpenampilan rapi dan sederhana. Dia dengan cepat menjawab semua pertanyaan. Ketika datang, dia menyapa resepsonis dengan ramah. Ketika pulang dia juga berpamitan dengan office girl yang kebetulan menunggu di samping meja resepsionis. Sopan dan tulus.

Setelah melalui berbagai test, akhirnya kedua orang ini, Nana dan Wati, diterima bekerja di bagian marketing. Keduanya sama-sama belum berpengalaman di bidang marketing. Karena itu, mereka berdua harus sama-sama belajar. Dari pengetahuan produk hingga cara melakukan pendekatan, cara menjual dan sebagainya.

Nana tampaknya mudah mengerti apabila diberitahu mengenai sesuatu. Langsung berkata “Ya pak, ya pak.” Sehingga atasannya menilai Nana sangat cepat belajar. Sebaliknya Wati banyak bertanya apabila diberitahu mengenai sesuatu. Kadang-kadang harus diulang sekali lagi, baru Wati tampak puas dan mengerti.

Lapor perkembangan

Setiap akhir bulan dia melapor kepada Helen mengenai perkembangan Nana dan Wati. Kesannya terhadap mereka berdua cukup positif, sehingga Helen mulai berpikir untuk mempertahankan mereka berdua setelah selesai masa percobaan.

Seperti biasa, Helen juga seringkali melakukan kunjungan keliling ke semua departemen, terutama yang ada karyawan barunya.

Ternyata apa yang ditemuinya di lapangan sangat mengejutkan Helen. Hampir dalam segala hal, Nana selalu bertanya kepada teman-teman lain atau minta bantuan mereka untuk mengerjakan semua pekerjaannya.

Ternyata semua penjelasan dari atasannya tidak dimengerti sama sekali olehnya. Setiap kali atasannya selesai menjelaskan sesuatu dan beliau berlalu, maka segera Nana ribut bertanya kepada yang lain sambil berkeluh kesah.

Bahkan, seringkali Wati mengerjakan pekerjaan Nana, bukan hanya membantunya saja. Begitu pula setiap kali Nana menerima perintah dari atasannya untuk melakukan sesuatu, selalu dia berkeluh kesah panjang lebar.

Misalnya ketika dia diminta menelepon salah seorang pelanggan yang sudah lama tidak berhubungan lagi dengan perusahaan tersebut, Nana mengeluh dengan bersuara keras:”Ah! Sebel deh! Disuruh-suruh melulu! Harus menelepon orang lagi! Reseh!”

Dan sialnya, Helen mendengar langsung keluhan Nana ketika kebetulan dia berada di pintu masuk ruangan marketing. Segera Helen memanggilnya dan menanyakan hal itu, tapi Nana hanya minta maaf saja sambil tersenyum-senyum

Begitu juga ketika dia harus pergi mengunjungi salah seorang pelanggan penting, Nana berkeluh kesah seperti biasa. “Huuuh! Sebel! Masa gua harus pergi lagi! Kan cape?! Masa disuruh-suruh lagi!”. Lalu dia mengajak Wati dan pergi sambil cemberut.

Berbeda dengan Wati. Perintah apapun langsung dikerjakan dengan penuh semangat. Disuruh kemana pun, Wati siap. Cara kerjanya juga cepat. Dia tidak pernah mengeluh. Bahkan, dia tidak pernah keberatan membantu pekerjaan Nana sambil mengerjakan tugasnya sendiri.

Dan, diakhir masa percobaan, bisa ditebak siapa yang dinyatakan lolos dan siapa yang tidak. Helen melihat, Wati sangat menghargai pekerjaannya yang sekarang karena dia pernah merasakan betapa beratnya bekerja di tempat kerja sebelumnya.

Di perusahaan yang sekarang Wati sangat bersyukur karena atasannya tidak segalak dulu. Atasannya mempercayainya, tidak cerewet, dan memperlakukannya dengan wajar. Jadi Wati sangat menikmati pekerjaannya yang sekarang.

Sebaliknya Nana menganggap kebaikan atasannya sebagai suatu kesempatan untuk bisa berbuat seenaknya tanpa takut dimarahi. Dia menganggap atasannya pasti tidak akan marah kepadanya. Dia masih menganggap pekerjaan sebagai suatu kegiatan sosial yang sering dilakukannya.

Karena itu Nana merasa berhak untuk merasa kesal kalau disuruh-suruh. Nana belum bisa menghargai pekerjaannya.

Hargai pekerjaan Anda. Love Your Job!

Sumber: Menghargai Pekerjaan oleh Lisa Nuryanti