Beranda > Sejarah > Siapa Sebenarnya Otak Teror WTC?

Siapa Sebenarnya Otak Teror WTC?

Los Angeles – Peristiwa meledaknya menara kembar World Trade Center (WTC), New York, 11 September 2001, telah memakan banyak korban dan trauma panjang warga AS. Namun, insiden itu hingga kini masih menyisakan misteri dan sejumlah kejanggalan. Bahkan orang yang disebut sebagai otak penyerangan itu kini mengaku dipaksa mengarang cerita tentang teror. Mengapa?

Khalid Shaikh Mohammed selama ini dituding sebagai otak peledakan WTC. Namun, pada Senin (15/6) lalu, seperti dilansir Los Angeles Times, ia mengaku keterangan yang diberikannya selama ini diungkapkan karena ia tak tahan dengan siksaan saat diinterogasi CIA.

Pengakuan itu diungkapkan Mohammed setelah dia dipindahkan ke penjara militer Guantanamo pada 2006. Sebelumnya, dia ditahan di penjara rahasia CIA setelah ditangkap pada 2003. Hal ini juga disimpulkan berdasarkan dokumen yang diteliti harian itu.

“Saya mengarang cerita,” kata Khalid. Ia mengungkapkan hal itu dalam bahasa Inggris yang terpatah-patah saat ditanya soal keberadaan pemimpin Al-Qaeda, Osama bin Laden.

Setiap kali ia ‘tidak tahu’, para penyidik CIA langsung menyiksanya. Sehingga, dia akhirnya menjawab sekenanya. “Dia ada di wilayah ini,” katanya soal Osama.

Dokumen yang dibeberkan Los Angeles Times sendiri didapatkan dari seorang pengacara dari Persatuan Kebebasan Sipil Amerika (American Civil Liberties Union). “Ini menekankan pernyataan yang tidak bisa dipercaya berdasarkan pengakuan dari hasil penyiksaan,” kata Direktur ACLU’s National Security Project, Jameel Jaffer.

Pengakuan itu mungkin belum seberapa. Beberapa waktu yang lalu, lima tersangka utama tragedi 9/11 menyimpan kejutan. Seorang di antaranya, Ziad Al Jarrah, ternyata pernah cukup lama bekerja untuk agen intelijen Israel Mossad.

Menurut artikel yang dipublikasikan media mingguan AS, American Free Press, Al Jarrah terbukti terlibat dalam peristiwa pada 11 September 2001 itu. Bersama keempat kawannya, mereka dengan bangga mengakuinya. Namun, fakta bahwa pria berkebangsaan Libanon itu adalah mantan agen Mossad sangat mengejutkan AS.

Apalagi, Al Jarrah bukanlah agen biasa saat bekerja untuk Mossad. Menurut pengakuannya, ia pernah bekerja dalam operasi penyamaran di kelompok Palestina dan Hizbullah Libanon sejak 1983.

Hubungan Israel dengan tragedi 9/11, menurut harian suratkabar New York Times bisa diselidiki dengan menelusuri lima orang yang dikenal sebagai dancing Israeli. Ketika pesawat Flight 11 dan Flight 175 menabrak menara kembar itu, lima orang Israel terlihat menari dan bersorak-sorai di lokasi kejadian.

Kelima warga Israel yang diduga agen Mossad itu ditahan selama 71 hari sebelum akhirnya dilepas. Sejak itulah, CIA mencurigai keterlibatan Mossad dan melakukan pengawasan yang tak membuahkan hasil, hingga memasuki hampir tahun ke delapan tragedi itu.

“Tak ada keraguan bahwa hal itu (perintah menutup penyidikan) datang dari Gedung Putih. CIA berasumsi hal ini akan ditutupi sehingga Israel dianggap sama sekali tak terlibat dalam tragedi 9/11,” demikian kesimpulan New York Times.

Sebuah jajak pendapat di 17 negara yang dipublikasikan 10 September 2008 sendiri menunjukkan belum ada konsensus tentang pelakunya. Jajak pendapat yang dilakukan dari 15 Juli-31 Agustus 2008 tersebut meliputi 16 ribu lebih responden di 17 negara.

Hasilnya, mayoritas responden di sembilan negara saja yang meyakini Al-Qaeda bertanggung jawab atas serangan 11 September 2001. Di Eropa, 56% responden di Inggris dan Italia meyakini Al-Qaeda, dan didukung 63% responden di Prancis dan 64% di Jerman. Sementara 23% responden Jerman dan 15% responden Italia melimpahkan kesalahan kepada pemerintah AS.

Sementara di Timur Tengah, 43% responden Mesir meyakini Israel berada di balik serangan itu. Keyakinan ini diperkuat oleh 31 responden Yordania. Sementara 36% responden Turki dan 27% responden Palestina menimpakan kesalahan di pundak pemerintah AS.

Di Amerikan Latin, 30% responden Meksiko melimpahkan kesalahan kepada AS dan 33% meyakini Al-Qaeda berada di balik serangan itu. Hanya dua negara di Afrika yang mayoritas mutlak responden meyakini kelompok ekstrem itu bertangung jawab. Yakni Kenya (77% responden) dan Nigeria (71% responden).

Tragis atau mungkin lebih tepat ironi. Di saat sejumlah fakta dan data ditemukan, justru hal itu selalu menguap begitu saja. Bahkan, semua dianggap merupakan bagian bagian dari teori konspirasi yang langsung dibantah oleh sejumlah analis.

Delapan tahun hampir berlalu sejak tragedi itu melukai banyak pihak. Namun, tak kunjung ada kejelasan siapa sebenarnya pelaku aksi biadab itu. [P1]

Sumber : www.inilah.com

Penulis : Nusantara HK Mulkan

Kategori:Sejarah
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: