Beranda > Humaniora, Motivasi, Pendidikan > Penghuni Rumah Hati

Penghuni Rumah Hati

Didalam rumah hati ada dua penghuni, mereka bersaudara. Penghuni yang pertama bernama Nurani, dia selalu berperilaku bijaksana, Nurani selalu berperilaku positif jika hati kedatangan tamu, entah itu tamu yang baik atau tamu yang buruk. Jika yang datang adalah Kabar Gembira, Nurani senantiasa bersyukur, dan jika yang bertandang kedalam hati adalah Kabar Buruk, masalah, ujian, Nurani senantiasa bersabar, dan tetap bersyukur, untuk selanjutnya selalu mencari hikmah, kebaikan dari setiap tamu yang bertandang.
Lain halnya penghuni yang kedua, sang Perasaan, yang sering berubah-ubah perilakunya. Kadang berperilaku negatif, kadang berperilaku positif, tidak perduli tamu seperti apa yang datang ke Rumah Hati. Jika yang datang Kabar Baik, kadang Perasaan menjadi bersyukur, bahagia, namun tidak jarang juga dia menjadi sombong, tinggi hati. Dan jika yang datang bertamu adalah Kabar Buruk, Perasaan kadang sabar, atau kadang bersedih, marah, dan perilaku laku negatif lainnya, Perasaan sukar ditebak tabiatnya dalam merespon tamu yang datang ke rumah hati.

Namun yang menariknya walau Perasaan kerap berperilaku negatif, Nurani selalu mengingatkan agar Perasaan kembali menjadi positif. Di dalam Rumah Hati, Nurani dan Perasaan kerap beradu argumen dalam menyikapi tamu yang bersilahturahmi ke Rumah Hati. Walau Perasaan sering mengungkapkan keinginannya dengan “meledak-ledak”, Nurani tetap tenang menyikapi perilaku saudaranya itu, dan terus pantang menyerah, tidak kenal lelah mendampingi saudaranya, menasehati Perasaan, untuk senantiasa berperilaku positif. Beberapa kali Perasaan menang dalam penentuan sikap menjamu tamu di Rumah Hati, walaupun yg diterima para tamu Rumah Hati adalah perilaku negatif, sang Nurani selalu tetap mengingatkan Perasaan untuk tetap berperilaku positif, kadang Nurani berteriak, namun tak jarang dia jug berbisik.

Oleh karena nya sungguh menyedihkan sebenarnya, jika Perasaan menjadi satu-satunya penguasa Rumah Hati, dan Nurani semakin terpojokkan, sehingga hanya bisa berbisik, atau bahkan Nurani menjadi mati, bisu. Sebagian orang menyebut Nurani ini, hati kecil. Wallahualam bishawab

Selamat hari baik, salam MANTAB
Senin, 21 Juni 2010

M. Salman Al Farisy

  1. Juni 24, 2010 pukul 5:39 am

    i like it……..

    • salmanalfarisy
      Juli 7, 2010 pukul 4:09 pm

      Tengkyuuu

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: