Archive

Archive for Februari, 2011

Hanya 5 Persen Masyarakat Tertarik Wirausaha

Februari 27, 2011 1 komentar

Masalah pengangguran bukan lagi menjadi masalah biasa lagi di Indonesia. Tingkat pengangguran yang tinggi cukup membuat pemerintah kewalahan. Selain menambah lapangan kerja, pemerintah juga menganjurkan kepada masyarakat untuk berwirausaha.

“Berwirausaha adalah salah satu alternatif pemerintah dalam mengurangi pengangguran. Kesempatan kerja yang terbatas menyebabkan terjadinya kompetisi antara pencari kerja.” ujar Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia, Muhaimin Iskandar, dalam pidatonya dalam acara penandatanganan MoU antara Pemerintah Provinsi Gorontalo dan Yayasan Matsushita Gobel, Sabtu (26/2).

Namun sayangnya, hanya 5 persen saja dari jumlah angkatan kerja yang berminat untuk melakukan wirausaha. Sisanya lebih memilih untuk menjadi karyawan atau pegawai yang bekerja dengan mendapatkan gaji atau upah. Jumlah ini merupakan hasil sensus Ketenagakerjaan Nasional yang dilaksanakan pada 2007.

Padahal, tambah Muhaimin, menjadi wirausahawan sangat menguntungkan. Selain mempunyai kemampuan untuk mengatur waktu sendiri, juga dapat mengatur kondisi usaha dan membuat aturan main dalam udaha sendiri.

Selain berdampak pada diri sendiri, kewirausahaan juga berdampak pada perekonomian, yaitu sebagai upaya ntuk mendorong pertumbuhan perekonomian dan daya saing nasional dalam perluasan kesempatan kerja. “Dengan perluasan kesempatan kerja, tingkat pendapatan masyarakat akan meningkat, begitu pula dengan daya belinya. Dan kesejahteraan masyarakat pun pasti meningkat,” tuturnya lagi.

Usaha pemerintah untuk perluasan kesempatan kerja dan kesempatan untuk melahirkan bisnis baru merupakan salah satu tujuan kebijakan yang berkaitan dengan pengembangan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Hal ini dibantu dengan program-program yang dilakukan instansi pemerintah dan swasta untuk pengembangan usaha baru dan promosi tentang wirausaha di tingkat lokal dan nasional.

Promosi tersebut bertujuan untuk meningkatkan daya saing ekonomi melalui penguatan dan perluasan basis bisnis. Promosi inovasi, dan peningkatan jumlah sisi kompetisi. Muhaimin sangat mendukung dan mendrong pemerintah daerah yang bekerja sama dengan perusahaan nasional, seperti yang saat ini sedang dilaksanakan oleh pemerintah Gorontalo.

Ia berharap dengan penandatanganan MoU ini dapat mendorong daerah untuk terus mengembangkan kewirausahan, khususnya sektor UKM. “Hal ini nanti akan bisa memberikan kontribusi pada penciptaan lapangan kerja baru dan mengurangi pengangguran serta mampu meningkatkan pertumbuhan nasional ekonomi dan mensejaterakan rakyat,”.

Red: Djibril Muhammad
Rep: C02

Sumber : http://m.republika.co.id/berita/breaking-news/nasional/11/02/26/166348-hanya-5-persen-masyarakat-tertarik-wirausaha

Kisah Wang Zipping, Legenda Grandmaster Wushu Muslim Cina (1881-1973)

image

image

image

image

REPUBLIKA.CO.ID, Seratusdelapanpuluh kilometer dari utara Kota Terlarang (Beijing saat ini), terletak Changzhou, tempat tinggal suku Hui. Hui adalah suku Muslim di Cina. Namun, selain Islam, ada hal yang menjadi kecintaan anggota suku, yakni tradisi seni bela diri.

Sebelum penemuan senjata, Wushu merupakan alat utama pertempuran dan pertahanan diri di Cina. Para pemimpon Hui selalu mendorong anggotanya mempelajari Wushu sebagai ‘kebiasaan suci’ demi memperkuat disiplin dan keberanian untuk memperjuangkan sekaligus bertahan di tanah mereka.

Saat itu masjid-masjid, bagi suku Hui, bukan hanya tempat untuk beribadah, tapi juga medan latihan bagi grandmaster untuk menempa dasar-dasar Wushu kepada murid-murid yang antusias.

Seperti banyak Hui yang lain, Wang Ziping lahir di tengah keluarga miskin. Ayahnya bekerja sebagai petinju bayaran. Saat masih bocah, Ziping menunjukkan keinginan kuat belajar Wushu. Bela diri ini adalah identitas Hui. Tidak ada Hui–yang saat itu hanya senilai upah garam–akan berani menjalani hidup tanpa “Latihan Delapanbelas Pukulan Pertempuran” dan “Tinju Diagram Delapan” melekat pada tubuh dan pikiran.

Selain Wushu, Hui juga mendalami ajaran Islam. Dengan demikian kehidupan Hui adalah campuran antara buruh miskin, latihan keras dan spiritual mendalam. Kemampuan luar biasa mereka dalam Wushu bukan sesuatu yang datang sekejap mata.

Begitu pula yang dialami Ziping. Di tengah pelajaran mengaji Al Qur’an, Ziping juga harus mengangkat batu berat untuk membangun stamina, kekuatan dan galian parit yang kian lama kiat luas begitu kemampuannya melompat meningkat. Keseimbangan yang baik diasah dengan cara berbahaya. Zipping ditanam dalam tanah.

Saat itu pula Zipping membaca lantunan zikir. Kekuatan dan keseimbangannya pun bertambah berlipat ganda. Konsentrasi yang biasa dilakukan saat shalat sebagai tuntutan dalam Islam menjadi tulang punggung sesolid batu bagi gerakan mengalir Wushu.

Iklim di Changzou cukup sejuk ketika musim panas, namun dingin saat musim salju. Dalam bulan-bulan musim dingin salju jarang turun sehingga memungkina latihan tetap digelar. Zipping berlatih dengan seluruh elemen untuk membuat tangguh tubuhnya. Begitu ia menginjak usia 14 tahun, ia sudah bisa melompat lebih dari 3 meter dari posisi berdiri.

Sayang bocah dengan tubuh setegap pria dewasa dan kualitas petarung itu tak memiliki guru. Ayahnya yang keras kepala menolak memasukkan Zipping ke sekolah Wushu. Setengah putus asa mencari guru dan teman, ia jatuh ke dalam komunitas rahasia yang menyebut diri mereka “Jurus Kebenaran dan Keharmonian”.

Akhirnya Wang Zipping memutuskan pergi dan mengembara ke selatan Jinan, di mana ia menjadi musafir yang tinggal di sebuah Masjid Besar. Dalam ruang utama masjid itulah, Zipping bertemu pria seperti dirinya, seorang petinju. Ia bernama Yang Hongxiu, grandmaster Wushu yang akhirnya menjadi gurunya.

Dan Zipping pun dengan serius mulai mempelajari gerakan burung dan mamalia, seperti elang menukik menyambar mangsa, gerakan kelinci melintas padang rumput, hingga lompatan jitu anjing menghindar dari bahaya. Ia menyerap semua karakter gerakan itu kemudian menciptakan gayanya sendiri. Stamina dan refleksnya yang kian berkembang, membuat Zipping tak hanya kuat tetapi juga cepat–sebuah kombinasi mematikan dalam Wushu.

Seorang dianggap Grandmaster ketika ia mampu menggunakan alat apa pun sebagai senjata. Pengembangan kemampuan ini adalah seni sekaligus kebutuhan dalam Wushu. Zipping, menjadi luar biasa fasih dengan semua senjata utama.

Dia sangat mahir terutama dalam melakukan Qinna, yakni teknik sergapan yang dapat mengunci sendi dan otot-otot lawan dalam persiapan melakukan serangan dahsyat; Shuaijiao.  Nama yang terakhir itu adalah gaya bertarung tangan kosong yang menggabungkan prinsip Tai Chi, Hard Qigong dan Teknik Meringankan Tubuh.

Ia mendapat pengakuan sebagai seniman bela diri yang utuh. Pada saat bersamaan ia juga pakar dalam trauma tulang. Ia mengombinasikan pengetahuan mendalam dalam Qinna dengan ketrampilang mengatur tulang. Akhirnya ia menemukan sistem penyembuhan untuk cedera Wushu dan olahraga di utara Cina.

Legenda Klasik

Banyak kisah, ada yang asli dan juga sekedar mitos, yang telah disematkan pada sosoknya. Namun yang selalu diulang adalah kisah satu ini.

Selama melakukan praktek pengobatan di Jiaozhou, Jerman ditugaskan untuk membangun rel kereta api dari kawasan itu menuju Jinan. Proyek mercusuar itu adalah harga mahal yang harus dibayar setelah Ratu Ci’xi gagal dalam pemberontakan tinju. Rel dibuat dengan yang tujuan memperluas dan mengkokohkan kontrol Eropa atas daratan Cina.

Reputasi Zipping bukannya tak diketahui oleh Jerman. Lebih cerdas dan berani dari pada koleganya, para Jerman berupaya mempermainkannya. Seorang petinggi militer Jerman bersiasat dengan menempatkan penggilingan batu besar di depan stasiun rel kereta api dan menantang siapa pun untuk mengangkatnya.

Zipping yang tidak pernah bisa tahan dengan penghinaan terhadap orang Cina, secara alami langsung gusar. Seperti yang diharapkan Jerman, Zipping masuk perangkap.

“Bagaimana kalau saya bisa mengangkatnya,” tanya Zipping.

“Maka gilingan itu menjadi milikmu,” para Jerman menjawab dengan tampang mengolok-olok.

“Bila saya gagal?”

“Maka kamu harus membayar,”

Zipping denga mudah mengangkan gilingan batu itu, meninggalkan para Jerman tercengang-cengang. Seorang warga Amerika yang bekerja sebagai guru fisika di tempat itu, menyaksikan aksi Zipping. Ia pun menantang duel.

Saat berjabat tangan mengawali pertandingan, tiba-tiba si Amerika dengan kuat memegang tangan Zipping dan berupaya membantingnya ke tanah. Zipping secepat kilat menyapukan kaki ke bagian bawah tubuh lawannya dan membuatnya ambruk.

Karena reputasinya, Zipping ditunjuk sebagai kepala Divisi Shaolin di Institut Pusat Seni Bela Diri. Ia juga pernah menjabat wakil presiden Asosiasi Whusu Cina, organisasi Wushu tertinggi di CIna.

Ia memegang banyak gelar dan tanggung jawab, termasuk konsultan sejumlah rumah sakit besar di penjuru Cina. Karirnya sebagai pakar bela diri juga kian menajam setelah ia melakoni banyak duel dengan orang asing. Ia selalu ingin membuktikan bahwa Cina bukan ras inferior.

Meski dalam usia senja, Zipping tak pernah kehilangan kekuatan dan kecepatannya. Pada 1960 ketika ia menjadi pelatih dan direktur grup pelajar Wushu yang menyertai perdana menteri saat itu, Zhou Enlai, melawat ke Burma, ia diminta mendemonstrasikan kemampuannya. Di depan tuan rumah ia menampilkan jurus dengan senjata luar biasa berat, Pedang Naga Hitam. Dengan teknik tinggi, kemampuan dan semangat muda, tak satupun orang berpikir ia telah berkepala delapan.

Red: Ajeng Ritzki Pitakasari
Sumber: Berbagai sumber

Sumber utama : http://www.republika.co.id/berita/ensiklopedia-islam/khazanah/11/02/24/165878-kisah-wang-zipping-legenda-grandmaster-wushu-muslim-cina-18811973

Pembuat salingsapa.com berbohong?

Februari 12, 2011 5 komentar

image

Ibnux dari http://www.ibnux.net mengatakan, dia menemukan bahwa pembuat http://www.salingsapa.com telah melakukan pembohongan publik. Karena website jejaring sosial yang dibuat oleh anak usia 14 tahun dan sempat diliput di TVONE tersebut ternyata menggunakan engine dari pihak ketiga, bukan merupakan engine hasil kreasi sendiri. Ibnux menemukan bahwa setelah http://www.salingsapa.com diview source, ternyata menggunakan engine jcow.net, sehingga bukan suatu hal yang aneh jika anak seusia tersebut bisa membuat website seperti itu. “Seharusnya menyebutkan bahwa engine menggunakan jcow.net tapi membuat sendiri plugin tambahan nya. Salut ibnux kalo memang bisa bikin plugin nya” terang Ibnux di blognya.

Ibnux juga mempertanyakan apakah sang pembuat http://www.salingsapa.com, telah memberi lisensi engine Jcow tersebut. Karena terlihat jelas bahwa sang pembuat website telah menghapus identitas “Powered by Jcow” (http://www.jcow.net/license/) pada source scriptnya. “Karena menghapus powered by jcow merupakan pelanggaran. Udah di kasih gratis lalu menghapus pembuat nya. Sadis.” terang Ibnux di blognya.

“Entah yg bohong bapak nya atau anak nya. Kemarin di tvone ibnux lihat yang presentasi bapak nya bukan Si pembuat (anaknya). Terlihat orang² pinter menonton, lokasi pun di tempat ber gengsi. Kampus ITB. Roy suryo pun sangat bangga sekali. Malu saya, kecil-kecil di ajar berbohong ?. Atau pemerintah yg bodoh? “. Tandas Ibnux melaui blognya di http://www.ibnux.net.

Berita terkait:

http://www.detikinet.com/read/2011/02/11/162259/1569553/398/Menkumham_Janjikan_Paten_Gratis_Bagi_Inovator_Cilik

http://www.detikinet.com/read/2011/02/11/155156/1569526/398/Pakar TI dan Rektor ITB Ikuti Kuliah Umum Bocah Jago TI

Wouw, Siswa SMP RI Ciptakan Jejaring Sosial Seperti Facebook : http://www.tvone.co.id/mobile/read.php?id=48505

 

Sumber :

http://ibnux.net/2011/02/pembuat-salingsapa-com-berbohong.html

Ini Dia Penjelasan Soal Aliran Ahmadiyah

REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA– Sosiolog Islam, Nur Syam, meminta pemerintah melarang Ahmadiyah Qadian mengembangkan ajarannya, karena mempercayai bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah mujaddid (pembaharu) dan nabi.

“Ahmadiyah itu memang ada dua kelompok yakni Qadian dan Lahore, namun keduanya memiliki perbedaan prinsip terkait ‘kenabian’ Miza Ghulam Ahmad (1835-1908),” katanya, Kamis. Ia mengemukakan hal itu menanggapi serangkaian aksi kekerasan yang dialami Jamiyah Ahmadiyah di Jawa Barat, termasuk peristiwa di Pandeglang, Banten, yang menewaskan empat orang pada 6 Februari 2011.

Menurut Nur Syam yang juga Rektor IAIN Sunan Ampel Surabaya itu, Ahmadiyah Lahore tidak seekstrem Ahmadiyah Qadian, karena Ahmadiyah Lahore hanya menganggap Mirza sebagai “mujaddid” (pembaharu).

“Dalam disertasi yang pernah saya uji tentang Ahmadiyah menunjukkan Ahmadiyah Qadian itu meyakini Mirza sebagai nabi, sedangkan Ahmadiyah Lahore menganggap Mirza sebatas mujaddid, imam, atau wali,” katanya.

Oleh karena itu, ia meminta pemerintah untuk menyelesaikan persoalan Ahmadiyah dengan melarang Ahmadiyah Qadian, karena mereka merupakan kelompok yang jauh menyimpang dari ajaran Islam. “Kedua kelompok Ahmadiyah itu sama-sama berkembang di Indonesia, yakni Ahmadiyah Qadian yang berpusat di Bogor (Jabar) dan Ahmadiyah Lahore yang berpusat di Yogyakarta,” katanya.

Dari sejarah perkembangan Ahmadiyah itu, katanya, dapat ditelusuri adanya “persoalan” Ahmadiyah yang selalu bermula dari Jawa Barat, karena di sana merupakan pusat dari Ahmadiyah Qadian. “Saya sendiri sepakat bila Ahmadiyah dapat dianggap sebagai bagian dari agama Islam, asalkan mereka memandang Mirza bukan nabi, karena Islam mengajarkan Muhammad SAW adalah nabi terakhir,” katanya.

Oleh karena itu, Ahmadiyah Qadian yang menganggap Mirza sebagai nabi harus dilarang, karena mereka sudah masuk wilayah penodaan agama. “Penodaan agama, kebebasan beragama, dan kekerasan bernuansa agama adalah tiga hal yang berbeda, karena penodaan agama itu merusak agama yang sudah ada, sedangkan kebebasan beragama itu terkait dengan agama yang baru atau berbeda,” katanya.

Sementara kekerasan bernuansa agama itu justru tidak diajarkan oleh agama apapun, sebab kekerasan dengan dalih apapun akan memunculkan siklus kekerasan, sehingga kekerasan harus diperangi.

Sebelumnya (9/2), Ketua MUI Jatim KH Abdusshomad Buchory meminta pemerintah untuk melarang Ahmadiyah, karena MUI telah menetapkan Ahmadiyah sebagai aliran sesat sejak tahun 1980 dan ditegaskan kembali pada fatwa MUI yang dikeluarkan tahun 2005. “Di Pakistan, Ahmadiyah Lahore dan Qadian hanya dibolehkan menjadi agama baru, sedangkan di Malaysia dan Brunei Darussalam sudah ditetapkan sebagai aliran yang dilarang,” katanya.

Red: Stevy Maradona
Sumber: Antara

 

Video : Ahmadiyah Cikeusik: Biar Saja Kita Bentrok Pak, Biar Seru, Kan Asyik Pak!

REPUBLIKA.CO.ID, PANDEGLANG—Umat Islam Banten dikejutkan dengan beredarnya video yang merekam proses negosiasi yang diduga antara Deden Sujana selaku amir perjalanan Ahmadiyah dengan Kanit Intel Polsek Cikeusik, Aiptu Hasan, di rumah Suparman,  sebelum bentrokan terjadi Ahad (6/2) lalu.

Dalam rekaman tersebut, Deden menolak ajakan Aiptu Hasan untuk dievakuasi. “Lepasin saja. Biar saja kita bentrok, biar seru. Kan asyik Pak. Masa kita diginiin diem saja Pak. Biar banjir darah di sini,” demikian kata Deden Sujana, dalam cuplikan pembicaraan yang terekam dalam video tersebut.

Mendengar jawaban dari Deden tersebut, Hasan mengatakan,” Saya sih tidak mengharapkan begitu,” kata Hasan. Hasan pun menjelaskan bahwa massa telah berada di jalan yang menuju ke arah Suparman.

Video yang diduga direkam oleh Arif, salah seorang jemaat Ahmadiyah, itu juga sudah terlihat sejumlah anggota Dalmas, berikut dua unit truk polisi di Jalan Raya Cikeusik, persis di depan rumah Suparman saat bentrokan berlangsung.

Kedua truk tersebut hanya pindah parkir sekitar 50 meter ke kanan dan kiri rumah Suparman, sebelum bentrokan terjadi.

Dalam rekaman tersebut juga terlihat Deden Sujana yang pertama kali memicu emosi massa. Saat massa mendatangi rumah Suparman, Deden yang pertama kali mendaratkan ‘bogem mentah’ ke muka salah seorang dari kelompok massa yang mengenakan pita biru. Kemudian terjadi bentrokan antara kedua kubu, namun beberapa orang kelompok pita biru sempat terpukul mundur setelah jamaat Ahmadiyah melakukan perlawanan.

Kemudian massa pita biru mengundang massa yang masih berada di belakang yang jumlahnya ratusan, bahkan mencapai 1.500 orang. Sehingga bentrokan berdarah tidak bisa dihindari.

Red: Stevy Maradona
Rep: M Fakhruddin
Sumber :

Buku Putih Kerusuhan Temanggung

Cyber Sabili-Temanggung. Pemberitaan sebagian besar media cetak dan elektronik tentang kerusuhan berlatarbelakang penistaan agama (Islam) di Temanggung, Selasa (8/2/2011), sangat memojokkan umat Islam. Demikian siaran pers Forum Umat Islam Bersatu (FUIB) Temanggung yang diterima Cyber Sabili, Rabu (9/2/2011).

“Umat Islam sangat dirugikan, karena pemberitaan sebagian besar media menempatkan ummat Islam sebagai pelaku atas semua kerusuhan yang terjadi. Sehingga umat Islam Temanggung yang faktanya adalah korban penistaan agama, justru menjadi pihak yang tertuduh,” lanjut siaran pers yang ditandatangani Taufan Sugianto, Sekretaris FUIB.

Karenanya, FUIB berupaya meluruskan pemberitaan dengan membeberkan data-data akurat dan obyektif yang diperoleh di lapangan dan kesaksian para saksi yang secara langsung melihat serta mengalami peristiwa itu.

Data-data dan kesakisan yang oleh FUIB disebut “Buku Putih” ini, memuat tentang kronologis kejadian, korban, kesimpulan, dan seruan yang ditujukan bagi internal umat Islam, masyarakat umum, aparat dan pemerintah.

Berikut petikan “Buku Putih” Peristiwa Temanggung versi FUIB selengkapnya:

Kronologi Peristiwa:

• Tanggal 23 Oktober 2010, Antonius Richmond Bawengan, warga Duren Sawit, Jakarta Timur tertangkap tangan oleh warga tengah menyebarkan selebaran yang berisi penistaan agama. Salah satu selebaran itu diletakkan di depan rumah H Bambang Suryoko, warga Dusun Kenalan Desa Kranggan, Temanggung, Jawa Tengah.

• Warga yang mengetahui perbuatan Richmond, bersama pengurus RT (Fatchurrozi), yang juga anggota Polsek Kaloran, langsung melaporkannya ke Polsek Kranggan, kemudian dilimpahkan ke Polres Temanggung.

• Tanggal 21 November 2010 oleh Kejaksaan Negeri Temanggung, berkas pemeriksaan sudah dinyatakan P21 (lengkap).

• Sidang pertama digelar tanggal 13 Januari 2011 dengan agenda pembacaan dakwaan.

• Sidang kedua digelar tanggal 20 Januari 2011 dengan agenda pemeriksaan saksi-saksi.

• Sidang ketiga digelar tanggal 27 Januari 2011 dengan agenda pemeriksaan dua orang saksi dan seorang saksi ahli.

• Sidang keempat digelar tanggal 8 Februari 2011 dengan agenda pembacaan tuntutan.

• Pada sidang keempat, setiap pengunjung sidang yang masuk ke area Pengadilan Negeri Temanggung diperiksa oleh petugas untuk memastikan tidak adanya benda-benda terlarang yang dibawa ke area tersebut.

• Setelah pembacaan tuntutan, massa mulai gelisah, hakim meninggalkan ruangan tanpa sepatah kata pun, sedangkan tersangka diamankan aparat. Hal ini mengakibatkan suasana menjadi lebih gelisah dan massa menjadi tidak terkendali.

• Beberapa tokoh ulama berusaha menenangkan pengunjung sidang. Di antara tokoh itu adalah KH Syihabuddin (pengasuh Ponpes Wonoboyo) dan KH Rofi’i (pengasuh Ponpes di daerah Kemuning).

• Setelah diskor sekitar 30 menit, sidang dilanjutkan dengan agenda pembacaan vonis, tanpa pledoi terlebih dahulu. Hakim memutuskan hukuman 5 (lima) tahun penjara, sesuai tuntutan jaksa.

• Suasana bertambah tegang. Beberapa orang melarang penggunaan kamera, termasuk bagi wartawan, sehingga massa pun terprovokasi menjadi lebih emosional. Apalagi, sebelum diskor, terjadi insiden pemukulan terhadap seorang pengunjung yang dilakukan oleh anggota Polisi bernama Kurniawan.

• Tiba-tiba ada provokasi sekolompok orang yang memecah kaca Pengadilan Negeri Temanggung. Suasana pun semakin ricuh.

• Aksi pecah kaca terus berlanjut oleh orang-orang yang tidak dikenal, diikuti pembakaran ban di tiga titik di lingkungan Pengadilan.

• Tidak diketahui dari mana ban itu masuk. Padahal, sebelum masuk halaman pintu gerbang timur pengadilan (karena hanya satu pintu gerbang yang dibuka), setiap pengunjung diperiksa ketat oleh petugas kepolisian bahkan menggunakan metal detector.

• Tiba-tiba, di depan tokoh masyarakat, ustadz, kyai, dan ulama yang sedang melihat jalannya sidang dilemparkan gas air mata yang diikuti oleh suara tembakan. Menurut saksi mata, tidak ada tembakan peringatan terlebih dahulu.

• Kegelisahan massa semakin menjadi-jadi ketika putra pengasuh Pondok Pesantren Al-Munawwar Kertosari jatuh terkena tembakan, dan diisukan sampai meninggal dunia.

• Pengunjung sidang dikejar-kejar polisi. Selain mengejar pengunjung, beberapa polisi juga merusak puluhan sepeda motor pengunjung yang diparkir di seberang jalan Pengadilan Negeri.

• Sebagian pengurus Forum Umat Islam Bersatu berlindung masuk ke Panti Asuhan Yatim Piatu Muhammadiyah (PAY) dan menutup gerbang panti PAY untuk mengantisipasi masuknya orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

• Tapi polisi masih tetap mengejar mereka. Di depan pintu gerbang PAY, polisi mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas: “Neng kene celeng, asu PKI kabeh, pateni wae.” (Di sini banyak babi hutan, anjing, bunuh saja”). Polisi pun melemparkan gas air mata sampai tiga kali ke halaman PAY.

• Setelah terjadi negosiasi antara pimpinan massa dan polisi, akhirnya pemilik motor diperbolehkan mengambil motor. Namun mereka terlebih dahulu dipukuli dan diambil gambarnya baik motor dan pemiliknya. Saat itu polisi juga bertakbir dan berkata: “Polisi juga Islam”. Takbir dilafazkan dengan cengengesan sambil memukuli massa yang mempunyai jenggot.

• Sekelompok orang yang tidak di kenal, di depan BPR Surya Yudha mengajak massa melanjutkan aksi ke Parakan dan membakar gereja. Provokator serupa juga ada di sebelah barat. Sambil mengatakan “munafik” ke orang-orang yang tidak mau mengikutinya. Mereka terus mengajak massa untuk membakar gereja. Tapi massa diam tidak bergerak mengikuti ajakan mereka.

• Beberapa saat kemudian, pembakaran gereja benar-benar terjadi. Tidak diketahui siapa kelompok yang membakar gereja tersebut.

• Beberapa saksi melihat, di dalam gereja sudah ada beberapa orang yang ikut memprovokasi massa untuk merusak gereja dengan memulai pelemparan. Ketika ditanya identitasnya, orang-orang tersebut tetap tidak mau menunjukkannya, bahkan mereka langsung lari menghilang.

• Saksi lain melihat, ada orang bercadar sudah berada di dalam Gereja Pantekosta. Setelah gereja terbakar orang itu lari keluar sambil mencopot cadarnya dan bergabung dengan massa penonton.

Korban:

• Korban yang diketahui sampai saat ini ada 9 orang dan dilarikan ke Rumah Sakit.

• Empat orang di antaranya masih dalam perawatan, yaitu:

1. Sholahuddin (40 tahun), putra pengasuh Ponpes Al-Munawar, Kertosari Temanggung. Luka tembak di kepala, dengan enam jahitan.

2. Roy Hanif (15 tahun), asal Gandurejo, Ngablak, Magelang. Luka tembak di kepala dan pelipis kiri, bahu sebelah kiri berubah bentuk, dicurigai patah tulang.

3. Suparman (28 tahun), luka 3 cm di daerah mata sebelah kiri.

4. Madyo (48 tahun), asal Braol, Campursari, Ngadirejo, Temanggung. Korban dilempar batu dari jarak dekat oleh personil Brimob di Taman Kartini, depan Stadion Bumi Phala, sekitar 300 meter dari pengadilan. Korban mengalami patah tulang di kaki sebelah kanan dan harus dioperasi.

• Semua korban berobat atas biaya sendiri.

Kesimpulan:

• Ada kesengajaan memantik kemarahan massa dengan pelemparan gas air mata di depan tokoh masyarakat, ustadz, kyai, dan ulama.

• Kerusuhan ini tidak terjadi secara tiba-tiba. Ada kelompok tertentu yang memang merencanakannya.

• Setiap pengunjung yang masuk ke halaman Pengadilan Negeri Temanggung telah diperiksa ketat oleh petugas kepolisian sehingga sangat aneh ketika terjadi pembakaran ban di halaman Pengadilan Negeri Temanggung. Siapa yang melakukannya? Siapa yang meloloskannya sehingga ban yang ukurannya sangat besar bisa masuk?

• Salah satu pemicu kemarahan massa adalah ketidakadilan hukum dalam penanganan kasus ini.

• Apa yang telah dilakukan Antonius Richmon Bawengan adalah perbuatan yang sangat berbahaya, sangat potensial memecah belah kehidupan bermasyarakat bahkan bisa menyebabkan disintegrasi Negara Kesatuan Republik Indonesia.

• Antonius Richmon Bawengan terbukti memperlihatkan militansinya dan sangat terlatih melakukan penistaan agama semacam ini. Penampilannya sangat tenang, sama sekali tidak bersalah, dengan percaya diri menolak untuk didampingi pengacara.

• Informasi sementara yang kami himpun, ada indikasi kuat bahwa Antonius Richmon Bawengan juga melakukan aksi serupa di Poso yang memicu kerusuhan Poso, sebelum di Temanggung.

• Polisi hanya mau menyelidiki apa yang telah dikerjakan Antonius Richmon Bawengan di Temanggung saja, tanpa mau menyelidiki latar belakangnya, latar belakang pendidikannya, organisasi yang mem-back up, siapa pendukung dananya, dan siapa aktor intelektualnya.

• Forum Umat Islam Bersatu sangat yakin, polisi mempunyai kemampuan mengungkap semua ini. Sikap polisi semacam ini memicu Antonius Richmon Bawengan lain untuk berbuat serupa di tempat lain.

• Ada proses peradilan yang dilanggar, sehingga berpotensi menjadikan terdakwa bebas dari dakwaan ketika melakukan Peninjauan Kembali (PK) di Mahkamah Agung.

• Pelanggaran tersebut adalah:

1. Tidak adanya pengacara yang mendampingi terdakwa padahal ancaman hukumannya 5 (lima) tahun. Apakah ini kelalaian atau kesengajaan yang dilakukan Majelis Hakim PN Temanggung dalam upaya membebaskan Antonius Richmon Bawengan melalui PK?

2. Sidang pembacaan tuntutan jaksa tidak jelas statusnya, karena hakim meninggalkan ruang sidang begitu saja, tanpa ada sepatah kata pun.

Seruan:

• Forum Umat Islam Bersatu mendesak kapolri mencopot Kapolda Jawa Tengah dan Kapolres Temanggung karena tidak bisa menjalankan deteksi dini, tidak mampu mengantisipasi kerusuhan, tidak bisa melakukan pembinaan anggota, sehingga Polri yang seharusnya mencegah terjadinya kerusuhan, tetapi justeru menjadi salah satu penyebab utama massa menjadi beringas dan tidak terkendali.

• Forum Umat Islam Bersatu menuntut aparat keamanan mengusut tuntas kelompok dan aktor intelektual di belakang Antonius Richmon Bawengan, sebab keresahan massa dan provokasi yang memantik kerusuhan di Temanggung 8 February 2011 semuanya bermula dari kasus Antonius Richmon Bawengan. Jika kelompok dan aktor intelektual tidak disentuh, mereka akan melanjutkan aksinya ke daerah lain.

• Forum Umat Islam Bersatu membentuk Tim Advokasi yang diberi nama TANGKIS (Tim Advokasi dan Pelindungan Korban Penistaan Terhadap Islam).

• TANGKIS mengajak seluruh ahli hukum dan advokat untuk bergabung dalam tim ini.

• Mendesak kepada DPRD Kabupaten Temanggung dan atau Bupati Temanggung membentuk Tim Investigasi Independen untuk menuntaskan kasus ini.

Sumber : http://www.sabili.co.id/indonesia-kita/buku-putih-kerusuhan-temanggung

Konspirasi dibalik penyerangan kepada Jemaah Ahmadiyah (06/02/2011) di Cikeusik Banten ?

Perekam peristiwa penyerbuan rumah Ahmadiyah di Cikeusik, Pandeglang, Banten, masih belum jelas siapa orangnya. Namun, dalam rekaman yang beredar luas di media, si perekam leluasa mengambil gambar tanpa gangguan. Bahkan ternyata, seorang penyerbu memberikan salam tabik untuk si perekam video.

Video penyerbuan Cikeusik pada Minggu (6/2) silam yang dikantongi YLBHI ini, berisikan 39 klip data video berformat MPG dengan ukuran file mencapai 175,3 GB. Video ini berisikan peristiwa penyerbuan Cikeusik dari awal sampai akhir. Video ini diduga diambil dengan handycam digital karena codec data video ini berkualitas Dolby Digital Stereo.

Nah, entah siapa pun perekamnya, dia dengan leluasa mengambil gambar tanpa gangguan sama sekali. Dia sudah berada di rumah jemaat Ahmadiyah, saat sedang digelar semacam rapat internal. Saat polisi membujuk anggota Ahmadiyah, dia juga telah mengambil gambar.

Bahkan ketika pecah kerusuhan, dia pun tetap dengan leluasa mengambil gambar. Massa yang tampak memakai pita hijau dan pita biru melihatnya, namun sama sekali tidak mengganggunya.

Si perekam bisa berada sangat dekat dengan penyerbunya. Saat terjadi perang batu, si perekam cukup jongkok di pojok halaman rumah jemaat Ahmadiyah dan tetap mengambil gambar.

Yang menarik adalah pada klip M2U02093.MPG menit ke 3:09. Tampak seorang penyerbu yang berjaket kulit hitam dengan pita biru di dadanya dan berpeci putih. Usai melempar batu, dia melintas dekat si perekam. Si penyerbu itu lantas berhenti dan memberikan salam dengan mengatupkan kedua tapak tangan di dadanya.

Saat mengatupkan kedua tapak tangan di dadanya, si penyerbu itu mengucapkan sesuatu. Apa yang dia ucapkan tidak jelas terdengar, kalah dengan suara teriakan massa yang sedang menyerbu rumah jemaat Ahmadiyah itu. Sekilas, si penyerbu itu mengucapkan ‘sobat’. Namun, benar tidaknya kata itu yang diucapkan, tidak bisa dipastikan. Si penyerbu pun tersenyum sebelum akhirnya pergi.

Kemudian yang menjadi pertanyaan adalah, kenapa si penyerbu itu memberi salam kepada si perekam ini? Karena banyak orang lain di lokasi yang merekam dengan ponsel, tapi tidak diberikan perhatian khusus seperti ini.

Ada indikasi kalau perekam video masuk dalam rombongan Ahmadiyah, karena sudah membuat dokumentasi sejak rapat internal Ahmadiyah di rumah tersebut. Namun salam tabik dari penyerbu, membuat bingung apakah penyerbu itu kenal dengan perekam, atau hanya sekadar memberi salam.

Di sisi lain, juga tidak pernah diketahui penampilan si perekam. Apakah dia memakai baju khusus, tanda pengenal khusus, atau dia orang asing, sehingga dia aman dari para penyerbu bahkan seorang di antara mereka memberikan salam.

Namun, di tengah-tengah merekam, si perekam sempat ditelepon oleh seseorang. Dari ucapan mereka berdua, diduga bahwa si penelepon adalah atasannya. Si perekam melaporkan bahwa penyerbuan sedang berlangsung dan dia melaporkan bahwa satu rumah, satu mobil, dan satu sepeda motor telah jadi sasaran amuk massa.

Lantas, siapakah sang perekam ini? Masih misterius. Yang jelas, salam dari si penyerbu itu, adalah salam tradisional kepada tamu atau orang asing.

Yang pasti adalah fakta arah permainan setelah insiden Ahmadiyah dan Temanggung.

  1. Media (khususnya televisi) terlalu banyak mengeksplor tentang tindakan kekerasan, bukan penyebab maupun fakta-fakta aneh diatas.
  2. Beberapa kali media seperti M****TV, melakukan upaya propaganda untuk melegalkan militerisasi di masyrakat dengan opsus seperti zaman orba.
  3. Lagi-lagi media tersebut dalam pemberitaan maupun dialog, menghadirkan narasumber tidak berimbang.
  4. Sebentar lagi akan kita saksikan tindakan represif aparat terhadap ormas-ormas.
  5. Ujung-ujung dari ini semua adalah bagaimana bisa mengembalikan kendali terhadap kaum mayoritas, seperti zaman orba. Dengan mempersulit gerak, sensor ceramah, intimidasi, pembubaran, opsus dll.

Sumber : http://forum.detik.com/konspirasi-dibalik-insiden-ahmadiyah-t235836.html?nd991103frm