Beranda > Internet, Teknologi > Lotusphere 2011, Fenomena Crowdsourcing

Lotusphere 2011, Fenomena Crowdsourcing

Kegiatan ‘mencari’ di internet sudah mulai bergeser menjadi ‘bertanya’. Dan jawaban pun bermunculan dari sejumlah orang dengan sukarela. Dalam tataran jejaring sosial, kombinasi dari jawaban tersebut dapat menjadi solusi dengan istilah ‘crowdsourcing’.

Sepekan yang lalu, IBM baru saja menyelenggarakan Lotusphere 2011, ajang tahunan berkumpulnya seluruh stakeholder IBM Lotus yang setiap tahun diselenggarakan di Disney World, Orlando, Amerika Serikat.

Dalam kesempatan ini berkumpul lebih dari 5000 orang yang memiliki keterikatan dengan IBM Lotus, baik itu pegawai IBM, Business Partner, maupun para pengguna dari seluruh belahan dunia. Penulis beruntung bisa menjadi satu-satunya undangan dari Indonesia untuk hadir di acara tersebut. Tema besar yang diangkat tahun ini adalah Get Social, Do Business.

Seperti kita ketahui bahwa dalam lima tahun terakhir, atau dua tahun terakhir untuk Indonesia, dunia internet heboh dengan dengan hadirnya berbagai perangkat lunak dan layanan yang bisa menghubungkan manusia di dalam dunia digital. Bukan lagi dalam bentuk sekedar email atau instant messaging, namun yang kita kenal sebagai social networking, atau dalam Bahasa Indonesia lebih dikenal dengan sebutan jejaring sosial.

Dari sekian banyak jejaring sosial yang timbul dan tenggelam, dua yang telah menjadi ikon yaitu Facebook dan Twitter. Di situs pertemanan Facebook, misalnya, Indonesia telah menduduki posisi nomor tiga dalam hal jumlah pengguna.

Sedangkan di Twitter, pengguna dari negeri ini tercatat sebagai salah satu yang paling ‘cerewet’ dengan ‘kicauan’-nya. Meski tweet-nya seringkali tidak penting, namun berulang kali berhasil menduduki peringkat atas trending topic di Twitter.

Tentu saja yang menjadi fenomena adalah kehadiran Facebook, yang telah menjadikan pendirinya Mark Zuckerberg sebagai milyuner termuda di dunia. Gelombang jumlah pengguna yang telah melampaui setengah milyar menjadikan dia sebagai salah satu orang paling berpengaruh di muka bumi saat ini. Sampai-sampai, majalah Time pun menjadikannya sebagai ‘Person of The Year 2010’.

Ditambah lagi dengan diluncurkannya film box office ‘Social Network’ yang bercerita tentang lika-liku lahir dan booming-nya Facebook, makin menahbiskan jejaring sosial tersebut menjadi sesuatu yang telah mempengaruhi cara orang berinteraksi.

Dan bukan sebuah kebetulan jika dalam pembukaan Lotusphere 2011 kali ini, IBM menghadirkan Kevin Spacey, pemeran utama film American Beauty yang memenangi piala Oscar 2 kali, sekaligus Executive Producer dari film ‘Social Network’ untuk menjadi keynote speaker.

Dalam kesempatan tersebut, Spacey bercerita, betapa jejaring sosial telah memberikan kontribusi besar bagi perjalanan karirnya baik sebagai aktor papan atas, maupun sebagai produser. Tentu saja salah satunya dalam bentuk sumbangan uang cukup besar dari kesuksesan film ‘Social Network’.

Di tengah keriuhan jejaring sosial yang melilit kita, terselip sejumlah hal yang dianggap negatif. Di antaranya dengan semakin ‘autis’-nya diri kita terhadap lingkungan terdekat. Atau istilah yang pernah populer beberapa waktu lalu terhadap jejaring sosial adalah ‘mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat’ karena kita seringkali begitu terfokus terhadap gadget yang yang memiliki fitur jejaring sosial di dalamnya.

Informasi yang terus menerus dari notifikasi di gadget kita, baik dari Twitter, Blackberry Messenger, Facebook update, Foursquare check-in, dan lainnya, menjadikan kita seringkali sulit berkonsentrasi. Dan dalam sejumlah survei di Amerika, hal ini menyebabkan penurunan produktivitas di lingkungan kerja.

Sehingga beberapa perusahaan di sana mulai menerapkan pembatasan akses terhadap jejaring sosial tersebut. Apalagi seperti sudah disampaikan sebelumnya, terutama di Indonesia, jejaring sosial masih mayoritas digunakan untuk hal-hal yang kelihatannya ‘tidak penting’.

Fenomena Crowdsourcing

Namun demikian, IBM melihat fenomena jejaring sosial ini dalam perspektif lain. Yaitu selain dari banyaknya hal-hal yang tidak penting, namun model jejaring sosial ini merupakan satu wadah yang luar biasa dan sangat alami dalam interaksi dan kolaborasi antar manusia.

Seperti kita alami sendiri, sekarang perilaku kita mulai berubah dari ‘mencari’ di mesin pencari seperti Google, menjadi ‘bertanya’ di jejaring sosial kita.

Seperti yang sering saya lakukan kalau Senin pagi. Saya yang tinggal di Bandung, tapi kerja di Jakarta. Biasa posting status di Facebook bertanya tentang kondisi lalu lintas di terminal Cicaheum Bandung atau di tol Cipularang menuju jakarta. Dan dari komentar terhadap status saya memutuskan apakah akan berangkat pagi atau lebih siang untuk menghindari macet.

Intinya, kegiatan ‘mencari’ sudah mulai bergeser menjadi ‘bertanya’, dan jawaban pun lalu bermunculan dari sejumlah orang dengan sukarela. Dalam tataran jejaring sosial, kegiatan ‘bertanya’ kepada khalayak dapat menjadi solusi terhadap permasalahan yang dimunculkan dengan istilah ‘crowdsourcing’. Ini merupakan evolusi lanjutan dari salah satu konsep Knowledge Management yang pernah populer 5-10 tahun lalu.
 
Konsep crowdsourcing inilah yang menjadi dasar bagi IBM untuk mengembangkan platform social software-nya yaitu Lotus Connection, bagian dari keluarga besar perangkat lunak lotus yang terdiri dari Notes, Domino, Quickr, Connection dan Portal.

Lotus Connection memungkinkan personil dari sebuah organisasi/perusahaan untuk terhubung satu sama lain dan saling berbagi informasi. Dan karena ini sifatnya ‘tertutup’ maka perusahaan tidak perlu khawatir akan ada informasi/data perusahaan yang bocor ke pihak luar. Sebab, perusahaan memiliki kontrol penuh terhadap lalu lintas informasi yang beredar.

Selain diterapkan di internal IBM, dengan 100 ribu lebih karyawan yang tersebar di seluruh dunia, Connection telah membantu sejumlah perusahaan besar di dunia, yang juga memiliki cakupan geografis luas seperti BASF, Cemex dan  AT&T untuk meningkatkan partisipasi karyawan terhadap perusahaan sekaligus juga bersosialisasi sesama karyawan.

Dari sosialisasi antarpersonil tersebut, yang bisa jadi berada di benua yang berbeda dan tidak pernah saling bertatap muka, seringkali menghasilkan inovasi-inovasi atau pemecahan masalah yang kreatif terhadap problem yang dihadapi.

Bagi perusahaan, terutama perusahaan besar yang terpikir untuk membatasi akses karyawan  terhadap jaringan sosial seperti Facebook, namun tetap menginginkan sisi positif dari jejaring sosial, bisa saja mempertimbangkan Lotus Connection sebagai salah satu alternatif.

Hal menarik lainnya adalah kehadiran LotusLive, sebuah platform sosial software berbasis teknologi cloud computing. Dengan layanan LotusLive, email kita juga bisa mendapatkan fasilitas jejaring sosial seperti yang disediakan oleh Connection.

Berhubung LotusLive juga menerapkan teknologi Virtual Private Cloud, maka kita bisa mendapatkan ‘private environment’ untuk setiap organisasi. Layanan ini disebut LotusLive Engadge.

Namun selain bersifat ‘tertutup’, LotusLive Engadge juga memungkinkan kita ‘mengundang’ pihak eksternal untuk menjadi ‘tamu’ dari jaringan kita di LotusLive, sehingga ‘tamu’ tersebut bisa mendapatkan update dari informasi yang kita sediakan.

Dan yang lebih penting, layanan berbasis cloud ini bisa dinikmati cukup dengan berlangganan, dan seperti Facebook, LotusLive juga cukup diakses lewat internet untuk menikmati seluruh fasilitasnya.

Di Indonesia sendiri, salah satu yang telah menggunakan LotusLive adalah Restoran Bumbu Desa. Bumbu Desa, yang terus melakukan ekspansi dengan membuka cabang baru di sejumlah kota. Bukan hanya di dalam negeri, tapi juga di sejumlah negara tetangga. Dengan jangkauan geografis yang luas, Bumbu Desa memanfaatkan LotusLive untuk saling berbagi informasi dan juga melakukan berbagai aktivitas virtual secara bersama-sama.

Pemanfaatan konsep jejaring sosial oleh organisasi/korporasi, untuk kepentingan internal ataupun untuk bertukar informasi dengan pihak eksternal ini, yang pada akhirnya akan  memberikan dampak positif bagi peningkatan value perusahaan/organisasi. Ini adalah inti dari tagline yang digunakan dalam event Lotusphere 2011 ini, Get Social. Do Business. Kalau dalam terminologi yang sering kita dengar di Tanah Air, ‘silaturahim adalah pintu rejeki’.

Mochamad James Falahuddin
Owner dari PT Codephile Rekadaya Mandiri, IBM Business Partner dan IBM Certified Application Developer Lotus Software/IBM Certified Cloud Computing Solution Advisor

Sumber : http://m.detik.com/read/2011/02/07/080739/1561226/319/fenomena-crowdsourcing
Penulis : Penulis: Mochamad James Falahuddin : detikInet

  1. Luqman Ar-Raahman Al-Shaleh
    Februari 7, 2011 pukul 2:07 am

    Assalamu’alaikum…
    Sangat bermanfaat wacanan anda…
    Silahkan kunjungi blog saya
    http://abdurrahmanshaleh.wordpress.com/
    kasih komentar dan saran ya…
    Terimakasih…
    Wassalamu’alaikum

    • salmanalfarisy
      Februari 10, 2011 pukul 2:43 am

      siap ke TKP gan😉

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: