Beranda > Sosial > Buku Putih Kerusuhan Temanggung

Buku Putih Kerusuhan Temanggung

Cyber Sabili-Temanggung. Pemberitaan sebagian besar media cetak dan elektronik tentang kerusuhan berlatarbelakang penistaan agama (Islam) di Temanggung, Selasa (8/2/2011), sangat memojokkan umat Islam. Demikian siaran pers Forum Umat Islam Bersatu (FUIB) Temanggung yang diterima Cyber Sabili, Rabu (9/2/2011).

“Umat Islam sangat dirugikan, karena pemberitaan sebagian besar media menempatkan ummat Islam sebagai pelaku atas semua kerusuhan yang terjadi. Sehingga umat Islam Temanggung yang faktanya adalah korban penistaan agama, justru menjadi pihak yang tertuduh,” lanjut siaran pers yang ditandatangani Taufan Sugianto, Sekretaris FUIB.

Karenanya, FUIB berupaya meluruskan pemberitaan dengan membeberkan data-data akurat dan obyektif yang diperoleh di lapangan dan kesaksian para saksi yang secara langsung melihat serta mengalami peristiwa itu.

Data-data dan kesakisan yang oleh FUIB disebut “Buku Putih” ini, memuat tentang kronologis kejadian, korban, kesimpulan, dan seruan yang ditujukan bagi internal umat Islam, masyarakat umum, aparat dan pemerintah.

Berikut petikan “Buku Putih” Peristiwa Temanggung versi FUIB selengkapnya:

Kronologi Peristiwa:

• Tanggal 23 Oktober 2010, Antonius Richmond Bawengan, warga Duren Sawit, Jakarta Timur tertangkap tangan oleh warga tengah menyebarkan selebaran yang berisi penistaan agama. Salah satu selebaran itu diletakkan di depan rumah H Bambang Suryoko, warga Dusun Kenalan Desa Kranggan, Temanggung, Jawa Tengah.

• Warga yang mengetahui perbuatan Richmond, bersama pengurus RT (Fatchurrozi), yang juga anggota Polsek Kaloran, langsung melaporkannya ke Polsek Kranggan, kemudian dilimpahkan ke Polres Temanggung.

• Tanggal 21 November 2010 oleh Kejaksaan Negeri Temanggung, berkas pemeriksaan sudah dinyatakan P21 (lengkap).

• Sidang pertama digelar tanggal 13 Januari 2011 dengan agenda pembacaan dakwaan.

• Sidang kedua digelar tanggal 20 Januari 2011 dengan agenda pemeriksaan saksi-saksi.

• Sidang ketiga digelar tanggal 27 Januari 2011 dengan agenda pemeriksaan dua orang saksi dan seorang saksi ahli.

• Sidang keempat digelar tanggal 8 Februari 2011 dengan agenda pembacaan tuntutan.

• Pada sidang keempat, setiap pengunjung sidang yang masuk ke area Pengadilan Negeri Temanggung diperiksa oleh petugas untuk memastikan tidak adanya benda-benda terlarang yang dibawa ke area tersebut.

• Setelah pembacaan tuntutan, massa mulai gelisah, hakim meninggalkan ruangan tanpa sepatah kata pun, sedangkan tersangka diamankan aparat. Hal ini mengakibatkan suasana menjadi lebih gelisah dan massa menjadi tidak terkendali.

• Beberapa tokoh ulama berusaha menenangkan pengunjung sidang. Di antara tokoh itu adalah KH Syihabuddin (pengasuh Ponpes Wonoboyo) dan KH Rofi’i (pengasuh Ponpes di daerah Kemuning).

• Setelah diskor sekitar 30 menit, sidang dilanjutkan dengan agenda pembacaan vonis, tanpa pledoi terlebih dahulu. Hakim memutuskan hukuman 5 (lima) tahun penjara, sesuai tuntutan jaksa.

• Suasana bertambah tegang. Beberapa orang melarang penggunaan kamera, termasuk bagi wartawan, sehingga massa pun terprovokasi menjadi lebih emosional. Apalagi, sebelum diskor, terjadi insiden pemukulan terhadap seorang pengunjung yang dilakukan oleh anggota Polisi bernama Kurniawan.

• Tiba-tiba ada provokasi sekolompok orang yang memecah kaca Pengadilan Negeri Temanggung. Suasana pun semakin ricuh.

• Aksi pecah kaca terus berlanjut oleh orang-orang yang tidak dikenal, diikuti pembakaran ban di tiga titik di lingkungan Pengadilan.

• Tidak diketahui dari mana ban itu masuk. Padahal, sebelum masuk halaman pintu gerbang timur pengadilan (karena hanya satu pintu gerbang yang dibuka), setiap pengunjung diperiksa ketat oleh petugas kepolisian bahkan menggunakan metal detector.

• Tiba-tiba, di depan tokoh masyarakat, ustadz, kyai, dan ulama yang sedang melihat jalannya sidang dilemparkan gas air mata yang diikuti oleh suara tembakan. Menurut saksi mata, tidak ada tembakan peringatan terlebih dahulu.

• Kegelisahan massa semakin menjadi-jadi ketika putra pengasuh Pondok Pesantren Al-Munawwar Kertosari jatuh terkena tembakan, dan diisukan sampai meninggal dunia.

• Pengunjung sidang dikejar-kejar polisi. Selain mengejar pengunjung, beberapa polisi juga merusak puluhan sepeda motor pengunjung yang diparkir di seberang jalan Pengadilan Negeri.

• Sebagian pengurus Forum Umat Islam Bersatu berlindung masuk ke Panti Asuhan Yatim Piatu Muhammadiyah (PAY) dan menutup gerbang panti PAY untuk mengantisipasi masuknya orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

• Tapi polisi masih tetap mengejar mereka. Di depan pintu gerbang PAY, polisi mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas: “Neng kene celeng, asu PKI kabeh, pateni wae.” (Di sini banyak babi hutan, anjing, bunuh saja”). Polisi pun melemparkan gas air mata sampai tiga kali ke halaman PAY.

• Setelah terjadi negosiasi antara pimpinan massa dan polisi, akhirnya pemilik motor diperbolehkan mengambil motor. Namun mereka terlebih dahulu dipukuli dan diambil gambarnya baik motor dan pemiliknya. Saat itu polisi juga bertakbir dan berkata: “Polisi juga Islam”. Takbir dilafazkan dengan cengengesan sambil memukuli massa yang mempunyai jenggot.

• Sekelompok orang yang tidak di kenal, di depan BPR Surya Yudha mengajak massa melanjutkan aksi ke Parakan dan membakar gereja. Provokator serupa juga ada di sebelah barat. Sambil mengatakan “munafik” ke orang-orang yang tidak mau mengikutinya. Mereka terus mengajak massa untuk membakar gereja. Tapi massa diam tidak bergerak mengikuti ajakan mereka.

• Beberapa saat kemudian, pembakaran gereja benar-benar terjadi. Tidak diketahui siapa kelompok yang membakar gereja tersebut.

• Beberapa saksi melihat, di dalam gereja sudah ada beberapa orang yang ikut memprovokasi massa untuk merusak gereja dengan memulai pelemparan. Ketika ditanya identitasnya, orang-orang tersebut tetap tidak mau menunjukkannya, bahkan mereka langsung lari menghilang.

• Saksi lain melihat, ada orang bercadar sudah berada di dalam Gereja Pantekosta. Setelah gereja terbakar orang itu lari keluar sambil mencopot cadarnya dan bergabung dengan massa penonton.

Korban:

• Korban yang diketahui sampai saat ini ada 9 orang dan dilarikan ke Rumah Sakit.

• Empat orang di antaranya masih dalam perawatan, yaitu:

1. Sholahuddin (40 tahun), putra pengasuh Ponpes Al-Munawar, Kertosari Temanggung. Luka tembak di kepala, dengan enam jahitan.

2. Roy Hanif (15 tahun), asal Gandurejo, Ngablak, Magelang. Luka tembak di kepala dan pelipis kiri, bahu sebelah kiri berubah bentuk, dicurigai patah tulang.

3. Suparman (28 tahun), luka 3 cm di daerah mata sebelah kiri.

4. Madyo (48 tahun), asal Braol, Campursari, Ngadirejo, Temanggung. Korban dilempar batu dari jarak dekat oleh personil Brimob di Taman Kartini, depan Stadion Bumi Phala, sekitar 300 meter dari pengadilan. Korban mengalami patah tulang di kaki sebelah kanan dan harus dioperasi.

• Semua korban berobat atas biaya sendiri.

Kesimpulan:

• Ada kesengajaan memantik kemarahan massa dengan pelemparan gas air mata di depan tokoh masyarakat, ustadz, kyai, dan ulama.

• Kerusuhan ini tidak terjadi secara tiba-tiba. Ada kelompok tertentu yang memang merencanakannya.

• Setiap pengunjung yang masuk ke halaman Pengadilan Negeri Temanggung telah diperiksa ketat oleh petugas kepolisian sehingga sangat aneh ketika terjadi pembakaran ban di halaman Pengadilan Negeri Temanggung. Siapa yang melakukannya? Siapa yang meloloskannya sehingga ban yang ukurannya sangat besar bisa masuk?

• Salah satu pemicu kemarahan massa adalah ketidakadilan hukum dalam penanganan kasus ini.

• Apa yang telah dilakukan Antonius Richmon Bawengan adalah perbuatan yang sangat berbahaya, sangat potensial memecah belah kehidupan bermasyarakat bahkan bisa menyebabkan disintegrasi Negara Kesatuan Republik Indonesia.

• Antonius Richmon Bawengan terbukti memperlihatkan militansinya dan sangat terlatih melakukan penistaan agama semacam ini. Penampilannya sangat tenang, sama sekali tidak bersalah, dengan percaya diri menolak untuk didampingi pengacara.

• Informasi sementara yang kami himpun, ada indikasi kuat bahwa Antonius Richmon Bawengan juga melakukan aksi serupa di Poso yang memicu kerusuhan Poso, sebelum di Temanggung.

• Polisi hanya mau menyelidiki apa yang telah dikerjakan Antonius Richmon Bawengan di Temanggung saja, tanpa mau menyelidiki latar belakangnya, latar belakang pendidikannya, organisasi yang mem-back up, siapa pendukung dananya, dan siapa aktor intelektualnya.

• Forum Umat Islam Bersatu sangat yakin, polisi mempunyai kemampuan mengungkap semua ini. Sikap polisi semacam ini memicu Antonius Richmon Bawengan lain untuk berbuat serupa di tempat lain.

• Ada proses peradilan yang dilanggar, sehingga berpotensi menjadikan terdakwa bebas dari dakwaan ketika melakukan Peninjauan Kembali (PK) di Mahkamah Agung.

• Pelanggaran tersebut adalah:

1. Tidak adanya pengacara yang mendampingi terdakwa padahal ancaman hukumannya 5 (lima) tahun. Apakah ini kelalaian atau kesengajaan yang dilakukan Majelis Hakim PN Temanggung dalam upaya membebaskan Antonius Richmon Bawengan melalui PK?

2. Sidang pembacaan tuntutan jaksa tidak jelas statusnya, karena hakim meninggalkan ruang sidang begitu saja, tanpa ada sepatah kata pun.

Seruan:

• Forum Umat Islam Bersatu mendesak kapolri mencopot Kapolda Jawa Tengah dan Kapolres Temanggung karena tidak bisa menjalankan deteksi dini, tidak mampu mengantisipasi kerusuhan, tidak bisa melakukan pembinaan anggota, sehingga Polri yang seharusnya mencegah terjadinya kerusuhan, tetapi justeru menjadi salah satu penyebab utama massa menjadi beringas dan tidak terkendali.

• Forum Umat Islam Bersatu menuntut aparat keamanan mengusut tuntas kelompok dan aktor intelektual di belakang Antonius Richmon Bawengan, sebab keresahan massa dan provokasi yang memantik kerusuhan di Temanggung 8 February 2011 semuanya bermula dari kasus Antonius Richmon Bawengan. Jika kelompok dan aktor intelektual tidak disentuh, mereka akan melanjutkan aksinya ke daerah lain.

• Forum Umat Islam Bersatu membentuk Tim Advokasi yang diberi nama TANGKIS (Tim Advokasi dan Pelindungan Korban Penistaan Terhadap Islam).

• TANGKIS mengajak seluruh ahli hukum dan advokat untuk bergabung dalam tim ini.

• Mendesak kepada DPRD Kabupaten Temanggung dan atau Bupati Temanggung membentuk Tim Investigasi Independen untuk menuntaskan kasus ini.

Sumber : http://www.sabili.co.id/indonesia-kita/buku-putih-kerusuhan-temanggung

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: