Arsip

Archive for the ‘Lingkungan’ Category

Kalo belum makan nasi, bukan makan namanya?

Februari 5, 2011 1 komentar

Dulu, sering kita mendengar kalimat yg menjadi judul diatas, terlebih ketika saya masih menjadi mahasiswa. Sering teman-teman berkelakar, walaupun sudah makan roti, ubi, mi instan, kue, paku ?, beling?, seng ? makan ati? 😀 atau apapun kalo belum makan nasi namanya bukan makan.

Tapi sepertinya sekarang budaya tersebut sudah berubah, setidaknya bergeser sedikit. Karena faktanya ketika kita sudah makan mi instan 1 bungkus, seringkali hal itu sudah bisa menggantikan nasi, jika masih lapar? makan 2 bungkus dan seterusnya :p .

Makanya tidak heran di Indonesia, negeri yang sedang sering dilanda bencana 😦 , mi instan sering dijadikan andalan untuk memberikan bantuan bagi para korban yang tinggal dipengungsian. Padahal jelas, mi instan tersebut harus direbus terlebih dahulu, dan itu tidak praktis, terlebih ditempat pengungsian.

Walaupun bisa dimakan tanpa direbus, namun menurut saya fungsinya sebagai pengganti nasi menjadi kurang optimal, karena hanya berperan seperti kerupuk saja. Lain halnya jika direbus terlebih dahulu maka mi tersebut akan melar, dan menjadi cocok sebagai ‘pengganjal perut’, karena didalam perut akan semakin melar (bener gak yaaaa).

Yang menariknya saya pernah membaca satu berita, bahwa ada salah satu tokoh dari sebuah lembaga (saya lupa namanya, gak akurat yah beritanya :p ) menganjurkan kepada para penyumbang untuk korban bencanya alam, agar JANGAN menyumbangkan susu formula, karena harus diseduh dengan air panas, dan ditempat pengungsian SULIT MENDAPATKAN AIR PANAS, nah lho :o, kalo mie instan ?? boleh ??

Namun bagaimanapun juga, mie instan sedikit banyak sudah mulai menggeser peran nasi sebagai pengganjal perut, karena harganya yang relatif murah. Untuk sarapan, makan siang, atau makan malam ? semuanya oke-oke saja jika disandingkan dengan mie instan. Mi goreng, mi rebus, bisa ditambahkan telur, kornet, sosis, sayuran, caberawit, acar, baso, cakue, otak-otak, paku ? beling ? seng ? (teteup, garing yah ? :p *biarkan) terlepas dari kontroversinya dari segi kesehatan :p.

Jadi jika ada yang menanyakan apa makanan pokok masyarakat Indonesia, maka jawabannya adalah nasi dan gandum. Gandum dalam bentuk mi instan. Dan ironisnya gandum tidak bisa dibudidaya secara massal diiklim tropis seperti di Indonesia. Gandum merupakan salah satu komoditi pertanian utama negara-negara sub tropis seperti Amerika, Australia.

Kabar baiknya, produsen Indofood rencananya akan mengeluarkan produk baru ‘NASI INSTAN’ , yang kabarnya, bahan utamanya terbuat dari GANDUM.

Iklan

Lihat !!! lampu merah sedang menyala

Lihat !!! lampu merah sedang menyala, namun si oknum pengendara motor itu malah terus melaju. Apa harus diberi petunjuk berupa tulisan “ketika lampu merah harap berhenti” ? sama seperti tulisan di wc “setelah buang air harap disiram”, dengan begitu lengkap sudah bahwa disekeliling kita ada “oknum manusia” yang masih “bodoh”.

Nila dan Udang Sumut Lolos Uji Mutu FDA

September 30, 2007 1 komentar

Laporan Wartawan Kompas Khaerudin
MEDAN, KOMPAS – Ikan nila dan udang asal Sumatera Utara dinyatakan lolos uji mutu, kimiawi dan mikrobiologi oleh Food and Drug Administration (FDA), badan milik Pemerintah Amerika Serikat yang bertanggung jawab terhadap keamanan produk makanan dan obat-obatan. Petugas FDA telah mengecek langsung kualitas ikan nila dan udang di tempat pembudidayaannya.

Menurut Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Sumatera Utara (Sumut) Yoseph Siswanto, pengecekan dilakukan FDA pada tanggal 5-7 September lalu. “Hasilnya mereka cukup puas dengan kualitas ikan nila dan udang asal Sumatera Utara. Ikan nila dan udang asal Sumatera Utara dinyatakan tak memiliki kandungan antibiotik dan logam berat sehingga aman dikonsumsi mereka (konsumen Amerika Serikat),” ujar Yoseph di Medan, Minggu (30/9).

FDA melakukan uji mutu ikan nila di Danau Toba yang selama ini menjadi tempat pembudidayaan ikan nila terbesar di Sumut, sedangkan udang, FDA melakukan pada salah satu tambak udang di Kabupaten Serdang Bedagai. Di Danau Toba, tim dari FDA lanjut Yoseph juga melihat langsung proses pembibitan (hatcherry) dan pembesaran ikan nila di keramba jaring apung (KJA) milik PT Aqua Farm, di Danau Toba. Aqua Farm merupakan perusahaan penanaman modal asing yang selama ini menjadi eksportir ikan nila ke AS.

“FDA juga mengecek langsung ke pabrik pengolahan ikan nila milik Aqua Farm di Serdang Bedagai. Secara keseluruhan mereka mengatakan sangat puas dengan proses pembudidayaan ikan nila di Danau Toba,” kata Yoseph.

Konsumen AS menurut Yoseph menggemari ikan nila yang dibudidayakan di Danau Toba karena kualitas airnyan yang bagus dan tidak berbau lumpur. Permintaan ikan nila dari AS masih belum terpenuhi semuanya oleh Sumut.

“Selama ini memang tidak ada penolakan dari konsumen asal AS terhadap produk perikanan asal Sumut. Dengan lolosnya pengujian mutu ikan nila dan udang oleh FDA kami bisa berharap, volume ekspor ikan nila dan udang ke Sumut bisa semakin meningkat dalam tahun-tahun mendatang,” katanya.

Nilai ekspor ikan nilai hasil budi daya di Danau Toba selama tahun 2006 Rp 445 miliar. Di Danau Toba selain Aqua Farm yang memiliki 1.780 unit KJA dengan total produksi 19.200 ton per tahun, masyarakat juga memiliki 5.232 KJA dengan total produksi 25.559 ton per tahun.

Hasil uji mutu FDA menurut Yoseph juga menjadi bekal bagi pengecekan yang sama oleh Food Veterinary Office (FVO) Uni Eropa pada bulan November mendatang. FVO kata Yoseph menerapkan standar bio security yang lebih ketat dibanding FDA. Selama tahun 2005-2006 Uni Eropa sempat menahan container udang asal Sumut karena masih mengandung antibiotik.

Beberapa waktu lalu, Ketua Shrimp Club Medan Safwin menuturkan, petambak udang di Sumut telah siap dengan pengecekan langsung oleh FVO. Safwin juga mengatakan, sudah sejak awal tahun 2007, tambak-tambak udang di Sumut bebas dari penggunaan antibiotik seiring dengan program sertifikasi bio security tambak oleh Departemen Kelautan dan Perikanan.

Kategori:Lingkungan

Hati-hati Dengan Sumpit – INI HOAX

September 1, 2007 12 komentar

Sudah pernah baca artikel ini.. ini HOAX..sekedar menginformasikan saja..

Tahukah anda, bagaimana sumpit dibuat ?

  1. Dipotong dari pohon bambu
  2. Diproduksi oleh industri rumah tangga (contoh gambar dari Vietnam Tengah)
  3. Di “putihkan” dengan menggunakan sulfur dan hidrogen peroxida (tanpa disinfektan)
  4. Proses pengeringan seadanya
  5. Di kemas seadanya juga untuk di export ke luar negeri
  6. Pengiriman ke luar negeri menggunakan kapal laut (terlalu mahal jika menggunakan pesawat). Dibutuhkan waktu yang cukup lama, contohnya 1 bulan dari Vietnam ke Taiwan. Sementara itu, sumpit yang dikemas dengan seadanya akan sangat besar sekali kemungkinan untuk terkontaminasi oleh kotoran/sarang tikus dan kecoa.
  7. Proses pengemasan (tanpa disinfektan). Contoh kasus, untuk setiap penerimaan kargo sumpit di taiwan, akan langsung di distribusikan ke industri rumahan yang akan mengerjakan pengemasannya, dan tanpa proses disinfektan (sterilisasi) akan langsung dikirim ke restoran-restoran sebagai titik akhir distribusi.
  8. Dan langsung masuk ke mulut Anda
  9. Tahukah Anda, bahwa ada ribuan bahkan jutaan monyet yang menetap di dalam sumpit ?
  10. Sudah kelihatan belum monyet-monyet tersebut ?
  11. Inilah wajah monyet-monyet tersebut. Semua sisa cairan (pemutih, sulfur, hidrogen peroxida, kotoran tikus, kotoran kecoa, telor kecoa, telor ulat dsb) akan terus menetap di lubang-lubang kecil tersebut sampai Anda menggunakannya.

Pernahkan Anda mendengar kasus keluarnya ulat dari sumpit saat digunakan di mangkok kuah yang panas ?

Sebuah percobaan yang dilakukan oleh pelajar sekolah dasar :

  1. Rendamlah sumpit bambu ini ke dalam air selama 1 minggu, airnya akan menjadi BAU.
  2. Kacang polong yang ditanam dengan air rendaman ini akan tumbuh lebih lambat, dan berhenti tumbuh ketika mencapai 5-6 cm dan kemudian mati.
  3. Asap pembakaran dari sumpit ini akan bersifat asam.

Cara terbaik adalah bawalah sumpit Anda sendiri.

Sebuah pohon yang berusia 20 tahun bisa menghasilkan sumpit sebanyak 3000 sampai 4000 pasang. Taiwan menggunakan sumpit sebanyak 100 triliun pasang setiap tahun, artinya 29 juta pohon hilang setiap tahunnya. Dengan begitu banyaknya sisa-sisa penggunaan sumpit, apakah tidak mungkin ada orang yang demi keuntungan semata, melakukan pendaurulangan kembali sumpit-sumpit sisa pakai tersebut dengan cara diatas (sulfur dan hidrogen peroxida) untuk dijual kembali ???? Carilah di google dengan keyword “Chopstick controversy” ( Chopstick controversy: China eats its forest away – http://findarticles.com/p/articles/mi_m0JQP/is_311/ai_30130478 )

Sumber http://67.19.222.106/food/graphics/scarychopstick.pdf

Berikut komentar yang mengetakan berita ini Hoax (thx 4 nikoner 🙂 )

bukannya ini sumbernya dari sini?http://67.19.222.106/food/graphics/scarychopstick.pdf

dan gugel juga dg keyword “snopes chopsticks”

hoax.

Juga data Taiwan memakai 100 triliun pasang sumpit tiap tahunnya adalah nonsense. Lha penduduk Taiwan aja cuma 22 juta orang. Jadi satu orang memakai 4,5 juta sumpit setahun? atau 12,500 pasang sumpit sehari?

Jepang aja dg penduduk 120 juta rata2 pemakaian sumpitnya 200 pasang/orang/thn atau total 25 juta/thn.

Kategori:Kesehatan, Lingkungan

Nelayan Santun di Padaido

Agustus 23, 2007 1 komentar

Samuel Oktora dan B Josie Susilo Hardianto

Laut terhampar biru. Sinar matahari pagi menghunjam menembus permukaan laut. Bilah-bilah cahaya berkelebat menari di permukaan karang. Ikan-ikan kecil berwarna hitam segera menyusup ke balik karang.

Perahu Melki Morin dan Nico melintas di atas karang. Perahu tradisional itu khas di Biak dan pesisir Papua. Bentuknya panjang, ramping, dan berujung runcing.

Pagi itu Melki dan Nico merapat ke Pantai Bosnik di Distrik Padaido, Kabupaten Biak Numfor. Selasa adalah hari pasar. Karena itu, sejak sore sebelumnya mereka telah melaut dan hasilnya dibawa ke Pasar Bosnik. Tidak mengecewakan, meskipun dini hari hujan turun cukup deras, pasar tetap ramai.

Pedagang sayur, sagu, hingga penjual burung tumpah di pasar kecamatan itu. Di seberang, sejumlah nelayan telah menggelar hasil tangkapan mereka di deretan bangku panjang, berpayung anyaman daun kelapa.

Pondok-pondok mirip lapak itu milik Gereja. Untuk menggunakannya, mereka wajib membayar retribusi sebesar Rp 2.000 kepada Gereja.

Melki dan Nico, nelayan muda asal Pulau Wundi, segera mengeluarkan ikan hasil tangkapan. Seutas tali terbuat dari daun kelapa ditusukkan ke arah insang hingga menembus ke mulut ikan.

Hari itu mereka memperoleh ikan yang banyaknya sekitar setengah kotak pendingin berukuran 100 x 60 sentimeter. Di dalam kotak putih yang biasa disebut cool box itu ada beragam jenis ikan, seperti gutila, samandar ekor kuning, dan kakaktua. Ikannya segar-segar. Insangnya masih merah.

Beberapa pembeli yang telah menanti sabar menunggu Melki dan Nico selesai menyatukan ikan-ikan ke tali daun kelapa itu. Serenteng dihargai Rp 15.000. Untuk ikan ukuran kecil, serenteng bisa berisi 12 ekor, sedangkan untuk yang lebih besar, hanya empat atau enam ekor.

“Setiap hari pasar rata-rata kami mendapatkan keuntungan bersih Rp 300.000. Tapi, hasil itu dibagi dua. Kalau tangkapan bagus dan ikan tak banyak di pasar, bisa sampai Rp 700.000,” kata Melki kepada tim Ekspedisi Tanah Papua Kompas 2007.

Pada hari-hari pasar, yaitu Selasa, Kamis, dan Sabtu, memang banyak nelayan pulau merapat. Mereka datang dari Wundi dan Owi. Setiap ke Bosnik, untuk mengangkut ikan hasil tangkapan, Melki menyewa perahu motor Rp 50.000. Selain menjaring ikan di sekitar pantai Pulau Wundi, Melki juga mencari ikan dengan perahu dayung.

Menurut laki-laki tamatan SMA itu, jaring biasa ditebarkan sore hari. Ketika ditarik sekitar pukul 20.00, jaring biasanya sudah penuh ikan. Jika cuaca baik dan air laut surut, Melki dan Nico biasa mencari ikan dengan perahu pada siang hari.

Menjaga terumbu

Para nelayan seperti Melki memang beruntung. Mereka tidak perlu menyetorkan hasil tangkapan kepada tengkulak. Mereka senang menjadi nelayan yang bebas menjual ikan langsung kepada pembeli, apalagi ikan juga melimpah.

Bagi mereka, hanya cuaca seperti angin kencang sekitar bulan November-Desember dan gelombang tinggi pada bulan Agustus yang menjadi hambatan. Selebihnya, alam memberi anugerah yang luar biasa, terutama sejak para nelayan tidak lagi menggunakan bom laut untuk mencari ikan.

“Ikan di sini mudah didapat. Dulu nelayan di Pulau Wundi banyak menggunakan bom ikan, tapi sejak ada penyuluhan dan larangan keras, kami tak lagi pakai bom ikan,” tutur Melki.

Dulu bom-bom ikan diracik dari bom-bom sisa Perang Dunia II yang banyak ditemukan di Pulau Wundi, yang pernah menjadi basis Angkatan Laut Amerika dari Armada Ketujuh.

Benyamin Inarkombu, nelayan asal Pulau Owi, menambahkan, sejak tahun 1997 nelayan dari pulau-pulau di sekitar Biak berangsur tidak lagi mengebom ikan. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan beberapa lembaga swadaya masyarakat (LSM) seperti Coremap terus-menerus memberi penyuluhan tentang pentingnya menjaga kelestarian terumbu karang.

Di tempat lain, pada umumnya tingkat sosial ekonomi kehidupan nelayan rendah, bahkan sering kalah dibandingkan dengan kelompok masyarakat seperti petani. Mereka sering mengeluh tidak dapat mencukupi kehidupan rumah tangga, bahkan dililit banyak utang, terutama pada musim paceklik ikan.

Tidak demikian dengan nelayan di Pulau Wundi dan Owi. Mereka tampak begitu menikmati pekerjaan sebagai nelayan. Hal itu tentu tak lepas dari sikap mereka yang semakin memahami pentingnya menjaga keberadaan karang-karang laut sehingga biota laut tetap lestari.

Meski demikian, kata Benyamin, beberapa nelayan dari Pulau Owi saat ini masih menemukan nelayan-nelayan dari daerah lain mengebom ikan. Para nelayan asal Buton, misalnya, sering kedapatan membuang bom ikan di dekat pulau-pulau yang tidak berpenghuni.

Selain itu, ada pula nelayan lain dengan perahu besar mencari ikan menggunakan pukat harimau. Tentu saja dua cara itu membuat terumbu karang yang selama ini dijaga nelayan Pulau Wundi dan Owi terancam.

Kadang, mereka melaporkan kejadian itu ke pos Polisi Perairan dan Udara di dekat Pasar Bosnik, tetapi sering kali mereka harus kecewa karena polisi tampaknya enggan mengejar pelaku pengeboman. Meski demikian, para nelayan tetap patuh pada imbauan. Mereka setia pada jaring dan pancing.

Tak menjadi serakah ternyata memberi keuntungan. Meskipun sederhana, para nelayan nyatanya mampu mengelola kemurahan alam dan sumber lain dengan santun.

Sumber : http://www.kompas.co.id

Kategori:Humaniora, Lingkungan