Arsip

Archive for the ‘Motivasi’ Category

Pancinglah Rezeki dengan Sedekah

November 30, 2011 1 komentar

Seminar 7 Keajaiban Rezeki Bersama Ippho Santosa Diikuti Ratusan Orang

Ratusan orang bergerak ke depan. Mereka merogoh saku, membuka dompet, dan menaruh uang ke lantai berkarpet tebal di depan pentas. Pada saat bersamaan ada yang meletakkan handphone di atas tumpukan uang, kemudian ada pula melepaskan jam tangan dan cincin emas di jari manisnya.

Demikianlah gambaran mereka yang tergerak hatinya bersedekah setelah mendengar paparan Ippho Santosa, dalam ”Seminar 7 Keajaiban Rezeki (Percepatan Rezeki dalam 40 hari dengan Otak Kanan)” di Mercure Hotel, Padang. Seminar yang digelar Entrepreneur Club (EC) Padang ini, memaparkan antara lain, jika ingin diberi rezeki oleh Allah SWT, bersedekahlah. Mengutip Ali bin Abi Thalib, Ippho Santosa mengajak, pancinglah rezeki dengan sedekah. Kemudian, setiap kesulitan dan keinginan yang ada, bisa diatasi atau didapat dengan bersedekah.

Baca selanjutnya…

Kepada mereka yg sedang bersedih, nikmatilah

Juni 2, 2011 1 komentar

Kepada mereka yg sedang bersedih, nikmatilah, karena itu sangat manusiawi, rasa sedih itupun juga karunia dari Tuhan mu. Dan cukupkanlah, tidak perlu berlebih, agar dalam sisa hidup mu, kau pun tahu apa rasanyaa bahagia. Sahabat, ketahuilah Tuhan telah menjanjikan, bahwa sesudah kesusahan, akan datang kemudahan, setelah kesedihan, akan datang kebahagiaan. Assalamualaikum sahabat, selamat hari baik. SALam MANtab !!!

Hanya 5 Persen Masyarakat Tertarik Wirausaha

Februari 27, 2011 1 komentar

Masalah pengangguran bukan lagi menjadi masalah biasa lagi di Indonesia. Tingkat pengangguran yang tinggi cukup membuat pemerintah kewalahan. Selain menambah lapangan kerja, pemerintah juga menganjurkan kepada masyarakat untuk berwirausaha.

“Berwirausaha adalah salah satu alternatif pemerintah dalam mengurangi pengangguran. Kesempatan kerja yang terbatas menyebabkan terjadinya kompetisi antara pencari kerja.” ujar Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia, Muhaimin Iskandar, dalam pidatonya dalam acara penandatanganan MoU antara Pemerintah Provinsi Gorontalo dan Yayasan Matsushita Gobel, Sabtu (26/2).

Namun sayangnya, hanya 5 persen saja dari jumlah angkatan kerja yang berminat untuk melakukan wirausaha. Sisanya lebih memilih untuk menjadi karyawan atau pegawai yang bekerja dengan mendapatkan gaji atau upah. Jumlah ini merupakan hasil sensus Ketenagakerjaan Nasional yang dilaksanakan pada 2007.

Padahal, tambah Muhaimin, menjadi wirausahawan sangat menguntungkan. Selain mempunyai kemampuan untuk mengatur waktu sendiri, juga dapat mengatur kondisi usaha dan membuat aturan main dalam udaha sendiri.

Selain berdampak pada diri sendiri, kewirausahaan juga berdampak pada perekonomian, yaitu sebagai upaya ntuk mendorong pertumbuhan perekonomian dan daya saing nasional dalam perluasan kesempatan kerja. “Dengan perluasan kesempatan kerja, tingkat pendapatan masyarakat akan meningkat, begitu pula dengan daya belinya. Dan kesejahteraan masyarakat pun pasti meningkat,” tuturnya lagi.

Usaha pemerintah untuk perluasan kesempatan kerja dan kesempatan untuk melahirkan bisnis baru merupakan salah satu tujuan kebijakan yang berkaitan dengan pengembangan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Hal ini dibantu dengan program-program yang dilakukan instansi pemerintah dan swasta untuk pengembangan usaha baru dan promosi tentang wirausaha di tingkat lokal dan nasional.

Promosi tersebut bertujuan untuk meningkatkan daya saing ekonomi melalui penguatan dan perluasan basis bisnis. Promosi inovasi, dan peningkatan jumlah sisi kompetisi. Muhaimin sangat mendukung dan mendrong pemerintah daerah yang bekerja sama dengan perusahaan nasional, seperti yang saat ini sedang dilaksanakan oleh pemerintah Gorontalo.

Ia berharap dengan penandatanganan MoU ini dapat mendorong daerah untuk terus mengembangkan kewirausahan, khususnya sektor UKM. “Hal ini nanti akan bisa memberikan kontribusi pada penciptaan lapangan kerja baru dan mengurangi pengangguran serta mampu meningkatkan pertumbuhan nasional ekonomi dan mensejaterakan rakyat,”.

Red: Djibril Muhammad
Rep: C02

Sumber : http://m.republika.co.id/berita/breaking-news/nasional/11/02/26/166348-hanya-5-persen-masyarakat-tertarik-wirausaha

CEO dan pot kosong

Seorang CEO hendak mewariskan perusahaan besar kepada karyawan terbaiknya. Untuk itu ia memanggil seluruh karyawannya, memberikan masing-masing sebutir BENIH di tangannya dan berkata, “Sirami dengan teratur, rawat, dan kembalilah setahun dari sekarang dengan membawa tanaman yang tumbuh dari benih ini. Yang TERBAIK, pemiliknya akan menjadi penggantiku sebagai CEO perusahaan ini.

Seorang karyawan, Salman -bukan nama sebenarnya 🙂 – , pulang ke rumah. Setiap hari disiraminya dengan air dan pupuk. Setelah 6 bln, di kantor, eksekutif lainnya saling membicarakan tanaman mereka, sedangkan Salman melihat TIDAK ADA PERUBAHAN yang terjadi pada benih miliknya. IA MERASA GAGAL.

Setelah setahun, seluruh eksekutif menghadap CEO, memperlihatkan hasil benih tersebut. Salman berkata pada istrinya bahwa ia tdk akan membawa pot yang kosong, namun istrinya mendorongnya untuk menyatakan yang sebenarnya. Salman menyadari bahwa istrinya menyarankan HAL YANG BENAR. Memasuki ruangan meeting, Salman membawa sebuah pot kosong. Seluruh mata memandangnya kasihan.

Ketika Sang CEO memasuki ruangan, ia memandang keindahan seluruh tanaman itu, hingga akhirnya berhenti didepan Salman yang tertunduk malu. Sang CEO memintanya ke depan dan menceritakan TRAGEDI yang menimpanya.

Ketika ia selesai bercerita, Sang CEO berkata, “berikan tepuk tangan yang meriah untuk Salman, CEO yang baru”. Ia berkata, “Aku memberikan kepada kalian sebutir benih yang sebelumnya TELAH KUREBUS DI AIR PANAS hingga mati dan tidak mungkin untuk tumbuh. Melihat bahwa benih itu tidak tumbuh, kalian menukarnya dan berbohong kepadaku. Lain halnya dengan Salman, dia mau berkata yang sebenarnya terjadi.

Tabur KEJUJURAN, menuai KEPERCAYAAN

Tabur KETEKUNAN, menuai KEMENANGAN

Tabur KERJA KERAS, menuai KESUKSESAN

SALam MANtab !!!

Sumber : unknow

Tempat tidur baru itu bernama ‘Keberanian’.

Akhirnya Abi kesampaian juga membelikan tempat tidur baru untuk anak pertamanya, Namia. Usianya baru empat tahun, namun dimata Umi dan Abinya terasa jelas nalarnya seperti anak umur 6 tahun, bahkan lebih. Cerdas !!, banyak orang yg menyebutnya seperti itu, dan hal ini yg membuat Umi dan Abi bangga akan buah hatinya itu.

Apa yang terjadi dimalam ini memang sudah dinanti-nantikan. Tempat tidur baru itu akan datang, mengisi kamar tidur kedua yang saat ini masih diisi oleh kasur yg digelar langsung merapat ke lantai. Tempat tidur baru itu berwarna putih, dilapis kasur busa dengan per yang tebal, empuk, dan lembut. Bagian bawahnya juga tersedia tempat tidur tambahan, jadi tempat tidur ini bisa ditempati untuk dua orang, sengaja memang. Kelak akan ditempati Namia dan Teteh.

Sudah hampir tiga bulan keluarga Umi dan Abi ditemani dengan anggota keluarga baru. Seorang anak gadis yang baru saja lulus sekolah SMA. Pembantu ? ahhh Umi dan Abi sepertinya tidak nyaman menyebutnya seperti itu. Mereka lebih nyaman menyebutnya asisten rumah tangga, dan diperlakukan layaknya sebagai salah satu anggota keluarga. Umi dan Abi bahkan sengaja memadankan anak ini sebagai ‘kakak’ untuk Namia. Mereka membahasakan panggilan ‘Teteh’, untuk anggota keluarga baru ini.

Awalnya dikamar kedua itu hanya ditempati oleh Teteh, dengan selembar kasur yang tergerai langsung menempel lantai. Dan kini Umi & Abi sengaja manambahkan diruangan itu tempat tidur ganda, dan kelak Namia akan menemani Teteh, berdua di tempat tidur baru itu.

Sekarang Namia, tidur berdua bersama Teteh ditempat tidur barunya. Sedangkan Umi dan Abi, masih ditemani Gazza, anaknya yang kedua, yang baru saja berumur dua tahun. Periode itupun dimulai, dari hari pertama hingga seminggu lebih, Namia, tidur terpisah, setelah empat tahun lamanya selalu tidur bersama dengan Umi, Abi, dan Gazza. Ada rasa kangen yang menderu, kenangan-kenangan ketika Abi yang kerap mendongeng kepada buah hatinya itu, atau kenangan Umi yang selalu memulai memimpin doa sebelum tidur yang diakhiri oleh ucapan amin dari bibir kecil Namia, sungguh kenangan itu begitu menggemaskan. Dan walau hanya terpaut beberapa meter, rasa rindu itu cukup mengganggu.

Sudah hampir dua Minggu Namia tidur terpisah dengan Umi dan Abi. Sekarang hari Sabtu, dan Teteh memohon Izin untuk pulang sejenak menemui orang tuanya. Teteh pulang ke orang tuanya, berarti nanti malam Namia kembali tidur bersama Umi, Abi, dan Gazza. Dan sepertinya mereka sangat menunggu momen ini, kangen.

Malam sudah larut, jam di dinding sudah menunjukkan pukul 21.00, itu artinya waktunya untuk tidur malam. Umi dan Abi, mulai merayu anak-anaknya untuk mulai menghentikan aktifitasnya. Menggiring mereka ke kamar mandi, cuci kaki, gosok gigi, pipis, ganti baju untuk selanjutnya bobo.
Umi menggiring kedua anaknya Namia dan Gazza ke kamar tidur utama. Tapi apa dinyana, Namia menolak untuk tidur dikamar utama bersama Umi, Abi dan Gazza “Aku mau tidur dikamar akuu!!” pinta Namia “Tapi kan di kamar sana gak ada Teteh, Namia, gapapa bobo sendiri ?” Jelas Umi “Gapapa akukan berani, aku berani bobo sendiri kok!!” Jawab Namia, berusaha meyakinkan Uminya. Akhirnya Umi mengantarkan Namia tidur dikamarnya. “Abi temanin yah ?” tanya Umi “Gak usah, aku bobo sendiri ajah, gapapa kok Umiii!!” . Mendengar jawaban itu, Umi begitu takjubnya, karena dia ingat betul bahwa ketika dia masih seumur Namia, dia masih tidur ditemani oleh anggota keluarganya yang lain. Sekarang dihadapannya dia mendengar buah hatinya menjawab dengan tegas mengenai keberaniannya untuk tidur sendiri, tidak ditemani siapapun. “Lampunya aku nyalain ajah yaah ?” tanya Umi, dialog itu berlanjut “Matiin ajah Umi” jawab Namia, “Pintunya aku buka ajah yaah?” tanya Umi kembali, “Tutup ajah Umi” jawab Namia kembali, “Oke deh, met bobo yah sayang” ucap Umi, sambil mendaratkan kecupan sayang didahi Namia. Kemudian lampu dimatikan, dan pintu kamar Namia pun ditutup.

Di kamar utama, Umi dan Abi masih saja memikirkan anak pertamanya itu. Apakah Namia akan tenang tidur sendirian? Tidak akan menangis ? Tidak ketakutan. Sekali waktu mereka berdua sengaja mengintip anak pertama mereka itu, untuk sekedar memastikan bahwa anak mereka baik-baik saja. Dan Namia terlelap hingga pagi, kini tergambar sudah, betapa sekarang mereka mempunyai anak perempuan yang pemberani, mandiri, diusianya yang baru empat tahun. Dan aktifitas itu berlanjut, dihari-hari berikutnya. Haaah andai dulu aku punya tempat tidur sendiri, mungkin aku akan seperti Namia, menjadi pemberani.

Houtman Zainal Arifin, Kisah Nyata Seorang OB menjadi Vice President Citibank

Februari 6, 2011 1 komentar

image

Sungguh sebuah karunia yang luar biasa bagi saya bisa bertemu dengan seorang yang memiliki pribadi dan kisah menakjubkan. Dialah Houtman Zainal Arifin, seorang pedagang asongan, anak jalanan, Office Boy yang kemudian menjadi Vice President Citibank di Indonesia. Sebuah jabatan Nomor 1 di Indonesia karena Presiden Direktur Citibank sendiri berada di USA.
 
Tepatnya 10 Juni 2010, saya berkesempatan bertemu pak Houtman. Kala itu saya sedang mengikuti training leadership yang diadakan oleh kantor saya, Bank Syariah Mandiri di Hotel Treva International, Jakarta. Selama satu minggu saya memperoleh pelatihan yang luar biasa mencerahkan, salah satu nya saya peroleh dari Pak Houtman.

Berikut kisah inspirasinya:
Sekitar tahun 60an Houtman memulai karirnya sebagai perantau, berangkat dari desa ke jalanan Ibukota. Merantau dari kampung dengan penuh impian dan harapan, Houtman remaja berangkat ke Jakarta. Di Jakarta ternyata Houtman harus menerima kenyataan bahwa kehidupan ibukota ternyata sangat keras dan tidak mudah. Tidak ada pilihan bagi seorang lulusan SMA di Jakarta, pekerjaan tidak mudah diperoleh. Houtman pun memilih bertahan hidup dengan profesi sebagai pedagang asongan, dari jalan raya ke kolong jembatan kemudian ke lampu merah menjajakan dagangannya.

Tetapi kondisi seperti ini tidak membuat Houtman kehilangan cita-cita dan impian. Suatu ketika Houtman beristirahat di sebuah kolong jembatan, dia memperhatikan kendaran-kendaraan mewah yang berseliweran di jalan Jakarta. Para penumpang mobil tersebut berpakaian rapih, keren dan berdasi. Houtman remaja pun ingin seperti mereka, mengendarai kendaraan berpendingin, berpakaian necis dan tentu saja memiliki uang yang banyak. Saat itu juga Houtman menggantungkan cita-citanya setinggi langit, sebuah cita-cita dan tekad diazamkan dalam hatinya.

Azam atau tekad yang kuat dari Houtman telah membuatnya ingin segera merubah nasib. Tanpa menunggu waktu lama Houtman segera memulai mengirimkan lamaran kerja ke setiap gedung bertingkat yang dia ketahui. Bila ada gedung yang menurutnya bagus maka pasti dengan segera dikirimkannya sebuah lamaran kerja. Houtman menyisihkan setiap keuntungan yang diperolehnya dari berdagang asongan digunakan untuk membiayai lamaran kerja.

Sampai suatu saat Houtman mendapat panggilan kerja dari sebuah perusahaan yang sangat terkenal dan terkemuka di Dunia, The First National City Bank (citibank), sebuah bank bonafid dari USA. Houtman pun diterima bekerja sebagai seorang Office Boy. Sebuah jabatan paling dasar, paling bawah dalam sebuah hierarki organisasi dengan tugas utama membersihkan ruangan kantor, wc, ruang kerja dan ruangan lainnya.
Tapi Houtman tetap bangga dengan jabatannya, dia tidak menampik pekerjaan.Diterimanyalah jabatan tersebut dengan sebuah cita-cita yang tinggi. Houtman percaya bahwa nasib akan berubah sehingga tanpa disadarinya Houtman telah membuka pintu masa depan menjadi orang yang berbeda.

Sebagai Office Boy Houtman selalu mengerjakan tugas dan pekerjaannya dengan baik. Terkadang dia rela membantu para staf dengan sukarela. Selepas sore saat seluruh pekerjaan telah usai Houtman berusaha menambah pengetahuan dengan bertanya tanya kepada para pegawai. Dia bertanya mengenai istilah istilah bank yang rumit, walaupun terkadang saat bertanya dia menjadi bahan tertawaan atau sang staf mengernyitkan dahinya. Mungkin dalam benak pegawai ”ngapain nih OB nanya-nanya istilah bank segala, kayak ngerti aja”. Sampai akhirnya Houtman sedikit demi sedikit familiar dengan dengan istilah bank seperti Letter of Credit, Bank Garansi, Transfer, Kliring, dll.

Suatu saat Houtman tertegun dengan sebuah mesin yang dapat menduplikasi dokumen (saat ini dikenal dengan mesin photo copy). Ketika itu mesin foto kopi sangatlah langka, hanya perusahaan perusahaan tertentu lah yang memiliki mesin tersebut dan diperlukan seorang petugas khusus untuk mengoperasikannya. Setiap selesai pekerjaan setelah jam 4 sore Houtman sering mengunjungi mesin tersebut dan minta kepada petugas foto kopi untuk mengajarinya. Houtman pun akhirnya mahir mengoperasikan mesin foto kopi, dan tanpa di sadarinya pintu pertama masa depan terbuka. Pada suatu hari petugas mesin foto kopi itu berhalangan dan praktis hanya Houtman yang bisa menggantikannya, sejak itu pula Houtman resmi naik jabatan dari OB sebagai Tukang Foto Kopi.

Menjadi tukang foto kopi merupakan sebuah prestasi bagi Houtman, tetapi Houtman tidak cepat berpuas diri. Disela-sela kesibukannya Houtman terus menambah pengetahuan dan minat akan bidang lain. Houtman tertegun melihat salah seorang staf memiliki setumpuk pekerjaan di mejanya. Houtman pun menawarkan bantuan kepada staf tersebut hingga membuat sang staf tertegun. “bener nih lo mo mau bantuin gua” begitu Houtman mengenang ucapan sang staff dulu. “iya bener saya mau bantu, sekalian nambah ilmu” begitu Houtman menjawab. “Tapi hati-hati ya ngga boleh salah, kalau salah tanggungjawab lo, bisa dipecat lo”, sang staff mewanti-wanti dengan keras. Akhirnya Houtman diberi setumpuk dokumen, tugas dia adalah membubuhkan stempel pada Cek, Bilyet Giro dan dokumen lainnya pada kolom tertentu. Stempel tersebut harus berada di dalam kolom tidak boleh menyimpang atau keluar kolom. Alhasil Houtman membutuhkan waktu berjam-jam untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut karena dia sangat berhati-hati sekali. Selama mengerjakan tugas tersebut Houtman tidak sekedar mencap, tapi dia membaca dan mempelajari dokumen yang ada. Akibatnya Houtman sedikit demi sedikit memahami berbagai istilah dan teknis perbankan. Kelak pengetahuannya ini membawa Houtman kepada jabatan yang tidak pernah diduganya.

Houtman cepat menguasai berbagai pekerjaan yang diberikan dan selalu mengerjakan seluruh tugasnya dengan baik. Dia pun ringan tangan untuk membantu orang lain, para staff dan atasannya. Sehingga para staff pun tidak segan untuk membagi ilmu kepadanya. Sampai suatu saat pejabat di Citibank mengangkatnya menjadi pegawai bank karena prestasi dan kompetensi yang dimilikinya, padahal Houtman hanyalah lulusan SMA.

Peristiwa pengangkatan Houtman menjadi pegawai Bank menjadi berita luar biasa heboh dan kontroversial. Bagaimana bisa seorang OB menjadi staff, bahkan rekan sesama OB mencibir Houtman sebagai orang yang tidak konsisten. Houtman dianggap tidak konsisten dengan tugasnya, “jika masuk OB, ya pensiun harus OB juga” begitu rekan sesama OB menggugat.

Houtman tidak patah semangat, dicibir teman-teman bahkan rekan sesama staf pun tidak membuat goyah. Houtman terus mengasah keterampilan dan berbagi membantu rekan kerjanya yang lain. Hanya membantulah yang bisa diberikan oleh Houtman, karena materi tidak ia miliki. Houtman tidak pernah lama dalam memegang suatu jabatan, sama seperti ketika menjadi OB yang haus akan ilmu baru. Houtman selalu mencoba tantangan dan pekerjaan baru. Sehingga karir Houtman melesat bak panah meninggalkan rekan sesama OB bahkan staff yang mengajarinya tentang istilah bank.
19 tahun kemudian sejak Houtman masuk sebagai Office Boy di The First National City Bank, Houtman mencapai jabatan tertingginya yaitu Vice President. Sebuah jabatan puncak citibank di Indonesia. Jabatan tertinggi citibank sendiri berada di USA yaitu Presiden Director yang tidak mungkin dijabat oleh orang Indonesia.

Sampai dengan saat ini belum ada yang mampu memecahkan rekor Houtman masuk sebagai OB pensiun sebagai Vice President, dan hanya berpendidikan SMA. Houtman pun kini pensiun dengan berbagai jabatan pernah diembannya, menjadi staf ahli citibank asia pasifik, menjadi penasehat keuangan salah satu gubernur, menjabat CEO di berbagai perusahaan dan menjadi inspirator bagi banyak orang.

Sumber : http://koranbaru.com/kisah-nyata-seorang-ob-menjadi-vice-president-citibank/

Merapihkan asa

Juli 7, 2010 2 komentar

Terima kasih Tuhan, Kau rapihkan asa yang sempat terserak dalam lemari hatiku. Dengan kekuatan Mu, Kau anugerahkan energi positif sehingga aku dapat senantiasa bertasbih kepada Mu. Bersama Mu selalu, menggapai cinta Illahiah, membimbingku dalam tujuan itu. Engkau lah Yang Maha Besar, & Engkau lah yang membesarkan hati-hati kami, & dengan Mu aku melesat bagai anak panah terlontar dari busurnya, menuju ke Ridhoan Mu.