Archive

Archive for the ‘Teknologi’ Category

Android Honeycomb Pertama Masuk Indonesia

April 21, 2011 1 komentar

JAKARTA, KOMPAS.com — Kehadiran tablet dengan platform Android 3.0 atau Honeycomb di Tanah Air tinggal menghitung hari. Asus mengklaim sebagai vendor pertama yang akan menghadirkannya secara resmi dengan produk terbarunya Eee Pad Transformer.

Diluncurkan secara resmi pada 25 Maret 2011 secara global, Eee Pad Transformer dari Asus akan segera hadir untuk pasar Indonesia. Dijadwalkan akan tersedia di pasar Indonesia pada Mei 2011, Eee Pad Transformer TF101 yang akan hadir adalah versi 16 GB dengan konektivitas Wi-Fi saja. Varian lain dari Eee Pad Transformer, termasuk dengan media penyimpanan internal 32 GB dan dukungan jaringan 3G, akan menyusul kemudian.

Bukan hanya sekadar tablet berlayar sentuh, Eee Pad Transformer juga dapat difungsikan layaknya notebook. Asus menyediakan pilihan docking khusus agar tablet tersebut bisa bertransformasi menjadi notebook dengan tambahan keyboard. Docking menjadi salah satu pilihan paket penjualannya. Docking tambahan tidak hanya membantu mempermudah pekerjaan yang membutuhkan aktivitas mengetik cukup intensif, tetapi sekaligus menambah daya tahan baterai hingga 16 jam.

Tablet dengan sistem operasi Android 3.0 Honeycomb yang ditenagai dengan prosesor dual core Tegra 2 1 GHz ini dilengkapi dengan user interface Waveshare dari Asus. Tampilan tersebut menyediakan menu yang memberikan kombinasi penggunaan yang intuitif dan performa hardware yang bertenaga baik saat menikmati juga saat membuat file multimedia dan bahkan untuk aktivitas lain yang yang menunjang produktivitas.

Spesifikasi Eee Pad Transformer

Display 10.1″ LED Backlit screen with IPS (1280 x 800) 10 finger multi-touch support, scratch resistant-glass
Operating system Android 3.0 Honeycomb
Platform NVIDIA® Tegra™ 2
Memory LP DDR2 1 GB
Storage 16GB /32GB (1) EMMC + Unlimited ASUS WebStorage (2)
Wireless 802.11 b/g/n, Bluetooth 2.1 + EDR
Camera 1.2MP (front), 5MP Auto focus (rear)
Interface 2-in-1 Audio Jack (Head Phone / Mic-in); 1x mini HDMI 1.3a port
1x Micro SD Card Reader; 1x Internal Microphone; 1x Stereo Speaker
Interface on mobile dock (note) 2x USB 2.0(5); 1x SD Card Reader(5)
Sensor G-Sensor, Light Sensor, Gyroscope, E-compass, GPS
3G Module Optional
Flash support Yes(3)
Multi-tasking Yes
Special APP ASUS Launcher, MyLibrary, MyNet, MyCloud, File manager, PC sync
Battery 9.5 hours; 24.4Wh Li-polymer Battery(4) 16 hours with dock
 Size/ Weight 271*177*12.98mm / 680g (w/ battery)

Terancam Twitter, Google Bayar 2 Pegawai Jutaan Dollar

April 21, 2011 2 komentar

KOMPAS.com – Google rela merogoh kocek jutaan dollar AS untuk membayar dua pegawainya agar tidak berpindah pekerjaan ke Twitter. Ini kejadian nyata yang baru beberapa hari ini dilakukan oleh Google, perusahaan search engine terbesar di dunia.

Dua orang pegawai tersebut, Sundar Pichai dan Neal Mohan. Keduanya dihalangi oleh Google untuk bekerja di Twitter dengan memberikan kompensasi sebesar 50 juta dollar AS sampai dengan 100 juta dollar AS. Kabarnya, Twitter mengincar dua pegawai Google tersebut untuk mengisi jabatan manager produk.

Namun, hal ini tidak terwujud karena Google bertindak dengan memberikan pembayaran bagi dua orang tersebut agar tidak menerima pekerjaan tersebut. Hal ini membuat Twitter terpaksa menyewa dua orang manajer produk paruh waktu untuk mengisi posisi tersebut.

Sumber daya manusia di Google memang selama ini banyak diburu perusahaan lain termasuk perusahaan startup yang sedang tumbuh. Salah satu yang cukup berhasil menggaet orang-orang Google adalah Facebook. Beberapa eksekutif tingkat atas Facebook saat ini adalah mantan pegawai Google. Jika terus dibiarkan, Google bisa-bisa digembosi oleh pegawainya sendiri.

Google belakangan memang menggelontorkan kompensasi finansial besarkepada para karyawannya. Pada awal bulan Januari 2011 yang lalu, seluruh pegawai Google yang kini berjumlah 24.000 orang diberikan bonus liburan masing-masing 1.000 dollar AS dan kenaikan gaji 10 persen. Langkah ini kemudian diikuti dengan keluarnya sebuah memo rahasia CEO Google yang baru, Larry Page yang menjanjikan kenakan bonus 25 persen atau penurunan bonus 25 persen bagi pegawai Google tergantung berhasil atau tidaknya proyek mereka di social media.(Kompasiana/Kimi Raikko)

Sumber : http://tekno.kompas.com/read/2011/04/14/14451889/Terancam.Twitter..Google.Bayar.2.Pegawai.Jutaan.Dollar

UberMedia Akan Luncurkan Pesaing Twitter

WASHINGTON, KOMPAS.com – Layanan microblogging Twitter akal punya pesaing baru. Bukan dari pesaing baru, namun malah dari pengembang aplikasi yang selama ini turut membesarkan Twitter yakni UberMedia.

Berita yang dilansir CNN, UberMedia tengah mengembangkan layanan sendiri yang dirancang untuk mengatasi masalah komunikasi yang sering ditemui pengguna Twitter. Misalnya, salah satunya keterbatasan karakter yang kini cuma dibatasi 140 karakter.

Diakui atau tidak, Twitter makin populer dengan hadirnya aplikasi untuk mengaksesnya di sejumlah perangkat mobile. UberMedia merupakan pemilik sejumlah aplikasi populer untuk akses Twitter seperti UberTwitter yang kini berubah menjadi UberSocial. Ruang gerak UberMedia sempat dibatasi Twitter dengan menutup tiga aplikasi pada Februari lalu karena dianggap melanggar aturan main dan pelanggaran merek.

UberMedia terpaksa harus mengubah nama UberTwitter menjadi UberSocial. UberMedia juga harus memenuhi semua aturan yang ditetapkan Twitter seperti melarang pesan lebih dari 140 karakter yang menjadi ciri khas Twitter serta menampilkan pemendek URL dari pengguna memilih akunnya dalam status privat.

Hubungan Twitter dengan para pengembang pihak ketiga juga semakin jauh karena Twitter sendiri mendorong penggunanya untuk menggunakan aplikasi resmi buatannya. Bulan lalu, Twitter juga meminta pengembang aplikasi pihak ketiga untuk membuat cara berbeda dan tidak menampilkan fitur yang sudah ada di Twitter.

Sumber : http://tekno.kompas.com/read/2011/04/14/13353097/UberMedia.Akan.Luncurkan.Pesaing.Twitter

Reorganisasi Besar-besaran di Google

KOMPAS.com — Setelah resmi menjabat CEO Google pada 4 April 2011, sesuai dengan filosofi startup yang dianutnya, Larry Page secara cepat melakukan reorganisasi di Google. Tidak tanggung-tanggung, barangkali inilah reorganisasi besar-besaran yang pernah dilakukan Google.

Filosofi Google pun mulai diubah oleh Page dengan menekankan pada pembagian tugas dan wewenang atau desentralisasi. Hal ini mengubah filosofi terpusat yang sebelumnya dijalankan oleh CEO lama, Eric Schmidt.

Sumber-sumber mengatakan, Page ingin menjalankan Google layaknya Steve Jobs menjalankan Apple. Kepemimpinan yang kolegial dan terdesentralisasi di mana setiap bawahannya diberikan kebebasan untuk mengambil keputusan-keputusan penting. Sementara Page lebih terlibat untuk hal yang sangat penting saja.

Model kepemimpinan ini sebenarnya telah berhasil dilakukan Google di Android di mana Andy Rubin menjadi CEO dan di Youtube di mana Salar Kamangar menjadi CEO yang baru. Keberhasilan dua bagian ini menginspirasi Page untuk terus menularkannya ke bagian lain di Google. Page ingin semua bagian makin independen, mengambil keputusan bagi mereka tanpa dipengaruhi oleh pendapatnya sebagai CEO sehingga bagian tersebut lebih cepat tumbuh dan berkembang.

Berikut ini merupakan jabatan baru yang berada di bawah Page setelah reorganisasi dilakukan.

Local and Commerce ditempati oleh Jeff Huber
Search ditempati oleh Alan Eustace
Advertising ditempati oleh Susan Wojcicki
Android ditempati oleh Andy Rubin
Youtube ditempati oleh Salar Kamangar
Social ditempati oleh Vic Gundotra
Chrome ditempati oleh Sundar Pinchai

Namun, dalam reorganisasi selalu ada pihak yang kurang beruntung. Salah satu eksekutif yang terlempar dari proses ini adalah Marissa Mayer. Mayer dulunya merupakan orang dalam bisnis inti Google, yaitu mesin pencarian. Ia kemudian dipindahkan ke bagian Local and Commerce dan menjadi kepalanya. Kini bagian ini dipimpin oleh Jeff Huber sehingga Mayer harus melaporkan pekerjaannya kepada Huber bukan lagi kepada Page. Hal ini menguatkan dugaan bahwa Mayer merupakan salah satu yang jadi pecundang dalam reorganisasi Google kali ini.

Daftar pecundang tentu juga bisa diberikan kepada Jonathan Rosenberg karena perannya sebagai pihak yang melakukan intermediasi antara manajer dan CEO Google telah dihapus oleh  Page karena Page ingin langsung berhubungan dengan manajer tanpa ada pihak yang mengintermediasi. Hal itulah yang sebelumnya dinilai sejumlah pihak telah diantisipasi Jonathan memilih mengundurkan diri sebelum Page melakukan reorganisasi.

Orang ketiga yang menjadi pecundang adalah David Drummond yang dulunya berada di bidang Chief Legal Officer. Sekarang Google memiliki General Counsel yang dikepalai oleh Kent Walker sehingga posisi Drummond menjadi mubazir.

Masih banyak eksekutif yang menjadi pecundang dalam reorganisasi Google kali ini, termasuk seorang perempuan bernama Shona Brown yang selama ini merancang struktur organisasi di Google. Menurut Page, struktur organisasi yang dirancang oleh Brown membuat Google lambat bereaksi terhadap kemajuan dan ancaman dari Facebook.

Selain para pecundang tentu ada juga yang menjadi pemenang. Dua di antara banyak pemenang ini yang paling menonjol adalah Rubin dan Kamangar. Rubin terkenal dengan kesuksesannya menghancurkan kejayaan sistem operasi smartphone Symbian dari Nokia sehingga memaksa Nokia beralih kepada Microsoft. Perkembangan Android melebihi perkiraan banyak analis sehingga Rubin sangat pantas untuk terus memimpin Android. Diperkirakan pada tahun 2013 akan ada paling kurang 130 juta smartphone berbasis Android. Android dibeli oleh Google pada 2005 dan dibiarkan tumbuh sendiri, independen, dan eksekutif Google tidak turut campur dalam kegiatan sehari-hari di sana. Model kepemimpinan Rubin yang independen dan tidak bergantung kepada CEO Google ini menjadi inspirasi Page dalam melakukan reorganisasi kali ini.

Berikutnya adalah Kamangar. Pria keturunan Iran berusia 34 tahun ini telah mengubah Youtube dan merupakan contoh lain dari keberhasilan Google membiarkan divisi yang ada di dalam tubuhnya untuk berkembang sendiri serta independen. Kamangar baru bergabung dengan Youtube tahun 2008 dan dalam tiga tahun berhasil menjadi CEO di Youtube. Saat ini, Youtube dikunjungi oleh lebih dari 500 juta orang sebulan dan telah melahirkan banyak orang terkenal, termasuk Justin Bieber dan Norman Kamaru dari Indonesia.

Eksekutif lain yang termasuk kepada pemenang adalah Sundar Pichai. Orang pintar ini merupakan kepala dari browser Google, yaitu Google Chrome. Google Chrome sebagaimana banyak diberitakan merupakan browser paling aman saat ini karena tidak bisa di-hack oleh para hacker. Chrome juga mengalami pertumbuhan pasar yang sangat pesat, hampir 120 juta orang saat ini menggunakan Chrome dalam waktu dua tahun saja. Baru-baru ini, Pichai ditawari sebagai produk manajer oleh CEO Twitter, Jack Dorsey, tetapi Page cepat-cepat memagarinya dengan memberikan uang sebesar 50 juta dollar AS.

Daftar mereka yang beruntung bertambah dengan masuknya nama Vic Gundotra. Gundotra diserahi tugas sebagai CEO di bidang social media dan tentu saja Page berharap Gundotra segera menemukan formula yang paling tepat untuk membunuh Facebook. Hal ini ditanggapi oleh Gundotra dengan menggantung sebuah lukisan berangka tahun 1887 berjudul “Emerald Sea” untuk memacu karyawannya menghasilkan sesuatu agar tidak terus tertinggal dari Facebook. Tidak lama kemudian nama lukisan ini menjadi sebuah proyek yang kemudian melahirkan Google +1 untuk menyaingi tombol “Like” dari Facebook dan tombol retweet dari Twitter.

Reorganisasi Google kali ini tampaknya merupakan langkah penting yang akan menentukan nasib mereka di kemudian hari, terutama dalam rangka persaingan dengan Facebook. Page tampaknya menekankan pada insinyur untuk menempati posisi-posisi kunci, bukan kepada mereka yang berasal dari bidang manajemen. Page ingin kepemimpinan terdesentralisasi, meniru apa yang dipraktikkan oleh Steve Jobs di Apple dan Jeff Bezos di Amazon. Sejauh ini, menurut sebuah sumber, perubahan kepemimpinan dan reorganisasi ini mendapat sambutan hangat karyawan Google di Mountain View, California, Amerika Serikat.

Nah setelah reorganisasi, apa langkah selanjutnya yang akan dilakukan oleh Larry Page? Mungkinkah sebentar lagi Google akan meluncurkan social media versi mereka? Kita tunggu saja.(Kompasiana/Kimi Raikko)

Sumber : http://tekno.kompas.com/read/2011/04/14/14083795/Reorganisasi.Besar.besaran.di.Google

Pembuat salingsapa.com berbohong?

Februari 12, 2011 5 komentar

image

Ibnux dari http://www.ibnux.net mengatakan, dia menemukan bahwa pembuat http://www.salingsapa.com telah melakukan pembohongan publik. Karena website jejaring sosial yang dibuat oleh anak usia 14 tahun dan sempat diliput di TVONE tersebut ternyata menggunakan engine dari pihak ketiga, bukan merupakan engine hasil kreasi sendiri. Ibnux menemukan bahwa setelah http://www.salingsapa.com diview source, ternyata menggunakan engine jcow.net, sehingga bukan suatu hal yang aneh jika anak seusia tersebut bisa membuat website seperti itu. “Seharusnya menyebutkan bahwa engine menggunakan jcow.net tapi membuat sendiri plugin tambahan nya. Salut ibnux kalo memang bisa bikin plugin nya” terang Ibnux di blognya.

Ibnux juga mempertanyakan apakah sang pembuat http://www.salingsapa.com, telah memberi lisensi engine Jcow tersebut. Karena terlihat jelas bahwa sang pembuat website telah menghapus identitas “Powered by Jcow” (http://www.jcow.net/license/) pada source scriptnya. “Karena menghapus powered by jcow merupakan pelanggaran. Udah di kasih gratis lalu menghapus pembuat nya. Sadis.” terang Ibnux di blognya.

“Entah yg bohong bapak nya atau anak nya. Kemarin di tvone ibnux lihat yang presentasi bapak nya bukan Si pembuat (anaknya). Terlihat orang² pinter menonton, lokasi pun di tempat ber gengsi. Kampus ITB. Roy suryo pun sangat bangga sekali. Malu saya, kecil-kecil di ajar berbohong ?. Atau pemerintah yg bodoh? “. Tandas Ibnux melaui blognya di http://www.ibnux.net.

Berita terkait:

http://www.detikinet.com/read/2011/02/11/162259/1569553/398/Menkumham_Janjikan_Paten_Gratis_Bagi_Inovator_Cilik

http://www.detikinet.com/read/2011/02/11/155156/1569526/398/Pakar TI dan Rektor ITB Ikuti Kuliah Umum Bocah Jago TI

Wouw, Siswa SMP RI Ciptakan Jejaring Sosial Seperti Facebook : http://www.tvone.co.id/mobile/read.php?id=48505

 

Sumber :

http://ibnux.net/2011/02/pembuat-salingsapa-com-berbohong.html

Lotusphere 2011, Fenomena Crowdsourcing

Februari 7, 2011 2 komentar

Kegiatan ‘mencari’ di internet sudah mulai bergeser menjadi ‘bertanya’. Dan jawaban pun bermunculan dari sejumlah orang dengan sukarela. Dalam tataran jejaring sosial, kombinasi dari jawaban tersebut dapat menjadi solusi dengan istilah ‘crowdsourcing’.

Sepekan yang lalu, IBM baru saja menyelenggarakan Lotusphere 2011, ajang tahunan berkumpulnya seluruh stakeholder IBM Lotus yang setiap tahun diselenggarakan di Disney World, Orlando, Amerika Serikat.

Dalam kesempatan ini berkumpul lebih dari 5000 orang yang memiliki keterikatan dengan IBM Lotus, baik itu pegawai IBM, Business Partner, maupun para pengguna dari seluruh belahan dunia. Penulis beruntung bisa menjadi satu-satunya undangan dari Indonesia untuk hadir di acara tersebut. Tema besar yang diangkat tahun ini adalah Get Social, Do Business.

Seperti kita ketahui bahwa dalam lima tahun terakhir, atau dua tahun terakhir untuk Indonesia, dunia internet heboh dengan dengan hadirnya berbagai perangkat lunak dan layanan yang bisa menghubungkan manusia di dalam dunia digital. Bukan lagi dalam bentuk sekedar email atau instant messaging, namun yang kita kenal sebagai social networking, atau dalam Bahasa Indonesia lebih dikenal dengan sebutan jejaring sosial.

Dari sekian banyak jejaring sosial yang timbul dan tenggelam, dua yang telah menjadi ikon yaitu Facebook dan Twitter. Di situs pertemanan Facebook, misalnya, Indonesia telah menduduki posisi nomor tiga dalam hal jumlah pengguna.

Sedangkan di Twitter, pengguna dari negeri ini tercatat sebagai salah satu yang paling ‘cerewet’ dengan ‘kicauan’-nya. Meski tweet-nya seringkali tidak penting, namun berulang kali berhasil menduduki peringkat atas trending topic di Twitter.

Tentu saja yang menjadi fenomena adalah kehadiran Facebook, yang telah menjadikan pendirinya Mark Zuckerberg sebagai milyuner termuda di dunia. Gelombang jumlah pengguna yang telah melampaui setengah milyar menjadikan dia sebagai salah satu orang paling berpengaruh di muka bumi saat ini. Sampai-sampai, majalah Time pun menjadikannya sebagai ‘Person of The Year 2010’.

Ditambah lagi dengan diluncurkannya film box office ‘Social Network’ yang bercerita tentang lika-liku lahir dan booming-nya Facebook, makin menahbiskan jejaring sosial tersebut menjadi sesuatu yang telah mempengaruhi cara orang berinteraksi.

Dan bukan sebuah kebetulan jika dalam pembukaan Lotusphere 2011 kali ini, IBM menghadirkan Kevin Spacey, pemeran utama film American Beauty yang memenangi piala Oscar 2 kali, sekaligus Executive Producer dari film ‘Social Network’ untuk menjadi keynote speaker.

Dalam kesempatan tersebut, Spacey bercerita, betapa jejaring sosial telah memberikan kontribusi besar bagi perjalanan karirnya baik sebagai aktor papan atas, maupun sebagai produser. Tentu saja salah satunya dalam bentuk sumbangan uang cukup besar dari kesuksesan film ‘Social Network’.

Di tengah keriuhan jejaring sosial yang melilit kita, terselip sejumlah hal yang dianggap negatif. Di antaranya dengan semakin ‘autis’-nya diri kita terhadap lingkungan terdekat. Atau istilah yang pernah populer beberapa waktu lalu terhadap jejaring sosial adalah ‘mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat’ karena kita seringkali begitu terfokus terhadap gadget yang yang memiliki fitur jejaring sosial di dalamnya.

Informasi yang terus menerus dari notifikasi di gadget kita, baik dari Twitter, Blackberry Messenger, Facebook update, Foursquare check-in, dan lainnya, menjadikan kita seringkali sulit berkonsentrasi. Dan dalam sejumlah survei di Amerika, hal ini menyebabkan penurunan produktivitas di lingkungan kerja.

Sehingga beberapa perusahaan di sana mulai menerapkan pembatasan akses terhadap jejaring sosial tersebut. Apalagi seperti sudah disampaikan sebelumnya, terutama di Indonesia, jejaring sosial masih mayoritas digunakan untuk hal-hal yang kelihatannya ‘tidak penting’.

Fenomena Crowdsourcing

Namun demikian, IBM melihat fenomena jejaring sosial ini dalam perspektif lain. Yaitu selain dari banyaknya hal-hal yang tidak penting, namun model jejaring sosial ini merupakan satu wadah yang luar biasa dan sangat alami dalam interaksi dan kolaborasi antar manusia.

Seperti kita alami sendiri, sekarang perilaku kita mulai berubah dari ‘mencari’ di mesin pencari seperti Google, menjadi ‘bertanya’ di jejaring sosial kita.

Seperti yang sering saya lakukan kalau Senin pagi. Saya yang tinggal di Bandung, tapi kerja di Jakarta. Biasa posting status di Facebook bertanya tentang kondisi lalu lintas di terminal Cicaheum Bandung atau di tol Cipularang menuju jakarta. Dan dari komentar terhadap status saya memutuskan apakah akan berangkat pagi atau lebih siang untuk menghindari macet.

Intinya, kegiatan ‘mencari’ sudah mulai bergeser menjadi ‘bertanya’, dan jawaban pun lalu bermunculan dari sejumlah orang dengan sukarela. Dalam tataran jejaring sosial, kegiatan ‘bertanya’ kepada khalayak dapat menjadi solusi terhadap permasalahan yang dimunculkan dengan istilah ‘crowdsourcing’. Ini merupakan evolusi lanjutan dari salah satu konsep Knowledge Management yang pernah populer 5-10 tahun lalu.
 
Konsep crowdsourcing inilah yang menjadi dasar bagi IBM untuk mengembangkan platform social software-nya yaitu Lotus Connection, bagian dari keluarga besar perangkat lunak lotus yang terdiri dari Notes, Domino, Quickr, Connection dan Portal.

Lotus Connection memungkinkan personil dari sebuah organisasi/perusahaan untuk terhubung satu sama lain dan saling berbagi informasi. Dan karena ini sifatnya ‘tertutup’ maka perusahaan tidak perlu khawatir akan ada informasi/data perusahaan yang bocor ke pihak luar. Sebab, perusahaan memiliki kontrol penuh terhadap lalu lintas informasi yang beredar.

Selain diterapkan di internal IBM, dengan 100 ribu lebih karyawan yang tersebar di seluruh dunia, Connection telah membantu sejumlah perusahaan besar di dunia, yang juga memiliki cakupan geografis luas seperti BASF, Cemex dan  AT&T untuk meningkatkan partisipasi karyawan terhadap perusahaan sekaligus juga bersosialisasi sesama karyawan.

Dari sosialisasi antarpersonil tersebut, yang bisa jadi berada di benua yang berbeda dan tidak pernah saling bertatap muka, seringkali menghasilkan inovasi-inovasi atau pemecahan masalah yang kreatif terhadap problem yang dihadapi.

Bagi perusahaan, terutama perusahaan besar yang terpikir untuk membatasi akses karyawan  terhadap jaringan sosial seperti Facebook, namun tetap menginginkan sisi positif dari jejaring sosial, bisa saja mempertimbangkan Lotus Connection sebagai salah satu alternatif.

Hal menarik lainnya adalah kehadiran LotusLive, sebuah platform sosial software berbasis teknologi cloud computing. Dengan layanan LotusLive, email kita juga bisa mendapatkan fasilitas jejaring sosial seperti yang disediakan oleh Connection.

Berhubung LotusLive juga menerapkan teknologi Virtual Private Cloud, maka kita bisa mendapatkan ‘private environment’ untuk setiap organisasi. Layanan ini disebut LotusLive Engadge.

Namun selain bersifat ‘tertutup’, LotusLive Engadge juga memungkinkan kita ‘mengundang’ pihak eksternal untuk menjadi ‘tamu’ dari jaringan kita di LotusLive, sehingga ‘tamu’ tersebut bisa mendapatkan update dari informasi yang kita sediakan.

Dan yang lebih penting, layanan berbasis cloud ini bisa dinikmati cukup dengan berlangganan, dan seperti Facebook, LotusLive juga cukup diakses lewat internet untuk menikmati seluruh fasilitasnya.

Di Indonesia sendiri, salah satu yang telah menggunakan LotusLive adalah Restoran Bumbu Desa. Bumbu Desa, yang terus melakukan ekspansi dengan membuka cabang baru di sejumlah kota. Bukan hanya di dalam negeri, tapi juga di sejumlah negara tetangga. Dengan jangkauan geografis yang luas, Bumbu Desa memanfaatkan LotusLive untuk saling berbagi informasi dan juga melakukan berbagai aktivitas virtual secara bersama-sama.

Pemanfaatan konsep jejaring sosial oleh organisasi/korporasi, untuk kepentingan internal ataupun untuk bertukar informasi dengan pihak eksternal ini, yang pada akhirnya akan  memberikan dampak positif bagi peningkatan value perusahaan/organisasi. Ini adalah inti dari tagline yang digunakan dalam event Lotusphere 2011 ini, Get Social. Do Business. Kalau dalam terminologi yang sering kita dengar di Tanah Air, ‘silaturahim adalah pintu rejeki’.

Mochamad James Falahuddin
Owner dari PT Codephile Rekadaya Mandiri, IBM Business Partner dan IBM Certified Application Developer Lotus Software/IBM Certified Cloud Computing Solution Advisor

Sumber : http://m.detik.com/read/2011/02/07/080739/1561226/319/fenomena-crowdsourcing
Penulis : Penulis: Mochamad James Falahuddin : detikInet

Kenapa Android Bisa Kuasai Dunia?

INILAH.COM, Jakarta – Sistem operasi (OS) Android baru saja mengalahkan OS mobile terpopuler dunia, Symbian. Apa alasannya?

1. Tiap Upgrade Versi, Jadi Tambah Baik

Upgrade rutin di tiap versi baru Android yang dijamin makin baik performa maupun fiturnya. Versi terbaru saat ini yakni Android 3.0 atau Honeycomb menjanjikan penambahan kualitas signifikan.

2. Smartphone Android Bagus

Kesuksesan Android tak lepas dari smartphone pemakai OS ini yang memiliki bermacam fitur. Misalnya, Droid X, Galaxy S hingga HTC Evo memiliki banyak kelebihan sehingga konsumen tertarik membeli.

3. Membiarkan RIM Terlena

Awalnya, Google terkesan membiarkan RIM dan BlackBerry menguasai pasar. Penjualan Android sendiri terfokus pada konsumen umum. Namun, setelah sukses di pasar kosumen umum, kini Android mulai membidik pebisnis dan makin banyak pebisnis yang memakai Android dibanding BlackBerry.

4. Model Sedikit, Apple Keselutitan Melawan Android

Apple yang hanya memasarkan iPhone 3GS dan iPhone 4, kini perusahaan itu makin kewalahan melawan Android. Lusinan smartphone Android bukanlah lawan sebanding meski iPhone masih sangat laris.

5. Pangsa Pasar Microsoft Menurun

Keberuntungan Microsoft di pasar OS mobile kurang baik. Peluncuran Windows Phone 7 (WP7) dinilai terlambat dan pangsa pasarnya menurun. Hal ini memberi celah Android mendapat lebih banyak pangsa pasar smartphone.

6. Nokia Kewalahan

Awalnya, perusahaan asal Finlandia ini sangat dominan menguasai smartphone. Kini, Nokia mulai kewalahan. Salah satu alasannya, OS Symbian dianggap ketinggalan zaman dibanding Android. Alhasil, konsumen mulai melirik Android.

7. Dukungan Vendor Kelas Atas

Dukungan penuh vendor kelas atas membantu menaikkan popularitas Android. Bahkan, mungkin tanpa dukungan vendor seperti Samsung, Motorola dan HTC yang menyajikan ponsel berkelas, Android tak bakal sukses.

8. Merek Google yang Kuat

Reputasi merek Google yang hebat membuat konsumen tak meragukan Android. Mereka sepertinya memercayai Android akan memberi pengalaman memakai smartphone yang bisa mereka nikmati. [vin]

Penulis : Billy A. Banggawan
Sumber : http://www.inilah.com