Archive

Posts Tagged ‘Keluarga’

4 Tanda Pria Siap Menikah & Tidak Siap Menikah

Juni 13, 2011 4 komentar

Jakarta – Pria dan pernikahan merupakan kedua hal yang sulit disatukan. Sebagian dari mereka menganggap pernikahan merupakan kehidupan yang menyulitkan. Namun, tidak semua pria berpikir seperti itu. Banyak juga di antara mereka yang ingin segera menikah dan menjalani bahtera rumah
tangga.

Mungkin Anda sedang bertanya-tanya, yang manakah tipe kekasih Anda, apakah pria yang ingin menikah atau pria yang menganggap pernikahan suatu hal yang menyusahkan?

Ternyata mudah saja mengetahui pria yang ingin menikah dan tidak ingin menikah. Simak tanda-tanda berikut ini dan Anda akan mengetahui isi hatinya.

Berikut ini tanda si dia siap menikah, seperti dilansir dari iVillage:

Tidak lagi ingin bersenang-senang
John Malloy, penulis ‘Why Men Marry Some Women and Not Others’, melakukan penelitian terhadap 2.500 pria. Banyak responden yang mengatakan, kehidupan lajangnya tidak lagi menarik. Malloy juga mewawancari pria berusia antara 17 hingga 70 tahun yang sedang merencakan pernikahan. Mereka mengaku tidak berminat lagi untuk mengunjungi klub dan bar favoritnya.

Finansial yang matang
Tina Tessina, Ph.D, seorang psikoterapis California menjelaskan, pria akan menikah jika mereka sudah siap dalam segi finansial.

“Pria memiliki jam biologis, ‘waktu’ mereka berbeda dibanding wanita. Prioritas pria cenderung terfokus pada kematangan finansial sebelum ia
memiliki keluarga. Jika ia masih berjuang untuk membayar tagihan, ia tidak ingin menambahkan beban dengan memiliki istri,” jelas Tessina.

“Anda sebaiknya mencari pria dewasa yang bisa diperhitungkan. Pria yang berkomitmen pada pekerjaan, keluarga dan teman. Meskipun dia belum siap menikah, setidaknya dia dapat membahas konsep komitmen,” saran Tessina.

Berkeinginan menjadi ayah
Carol Morgan, seorang pakar matcmaker (mak comblang), mengamati pria yang ingin menikah ketika mereka mulai menyukai anak-anak dan sering membicarakan keinganannya untuk segera memiliki anak pada kekasihnya.

Sedangkan menurut penelitian dari John Malloy, pria yang berpendidikan tinggi, kebanyakan menganggap penikahan sebagai suatu hal yang tidak
serius sampai usia 26. Mereka baru memasuki tahap komitmen yang tinggi antara usia 28 dan 33. Dari penelitian tersebut juga ditemukan, pria yang memiliki jenjang pendidikan yang lama seperti dokter dan pengacara, kebanyakan baru akan memikirkan komitmen diusia 30 sampai 36. Malloy menambahkan, jika usia 30 belum menikah, kemungkinan konsep pernikahannya mulai memduar. Menginjak usia 43, jika masih belum menikah juga, mereka lebih memilih menjadi bujangan seumur hidup.

Bertingkah layaknya suami
April Masini, pengarang ‘Date Out of Your League’ menjelaskan, “ketika seorang pria siap menikah, ia mulai bertindak seperti suami. Misalnya
ia akan membuat rencana untuk masa depan, memperkenalkan Anda kepada teman-teman dan keluarga. Mereka pun bukan hanya sekedar menelepon Anda setiap harinya, tapi juga ingin memberitahukan rincian kegiatannya dan memiliki keingan yang besar untuk mendengar tentang kabar Anda.

Tanda Tidak Siap Menikah:

1. Tidak mau terikat
Jika dia pernah mengatakan tidak ingin terikat oleh wanita manapun, jangan buang waktu Anda untuk menunggu dia berubah pikiran. Pria tipe ini masih mau bersenang-senang dengan banyak wanita.

2. Membeli barang mahal
Membeli mobil Porsche atau barang mahal lainnya merupakan tanda ia tidak memikirkan pernikahan atau masa depannya nanti. Carol Morgan mengatakan, “Jika ia bertindak secara finansial belum dewasa dan tidak bertanggung jawab berarti dia masih berpikir tentang ‘aku’ bukan ‘kita’.”

3. Pernikahan bukan suatu hal yang menyenangkan
Dia mengganggap teman-temannya yang menikah merupakan orang yang menyedihkan. Jika pria berkomitmen maka mereka mengganggap pernikahan sesuatu yang membahagiakan, bukan menyedihkan.

4. Sering membuat Anda menangis
Jika ia sering bertindak kasar, berbohong dan genit terhadap wanita lain, berarti dia tidak serius dengan Anda. Segeralah ambil keputusan dan raihlah hidup Anda kembali.

Tak Baik Bawa Anak ke Kantor

TEMPO Interaktif, Jakarta – Di kursi belakang ruang rapat gedung salah satu perkantoran di kawasan Jenderal Sudirman, Jakarta Selatan, Rina (bukan nama sebenarnya) terlihat sedang menyuapi anak lelakinya yang berusia 3 tahun.

Saat itu memang jam telah menunjukkan tepat tengah hari. Meski rapat belum selesai, karyawati salah satu lembaga pendidikan bahasa Inggris ini meminta izin atasannya untuk menyuapi anaknya terlebih dulu.

“Saya terpaksa membawa anak saya setiap hari ke kantor karena di rumah tidak ada yang bisa mengurus,” kata wanita berusia 38 tahun ini saat ditemui di kantornya pekan lalu. Rina adalah salah satu contoh ibu yang juga bekerja.

Psikolog Evita Adnan menilai tindakan ibu yang membawa anaknya ke tempat kerja sebagai tindakan yang tidak baik. Lima tahun pertama usia anak, kata Evita, adalah masa penting anak menyerap kondisi sosial-emosional di sekitarnya. “Pengalaman emosional pada usia ini akan membentuk perilaku anak secara permanen di masa mendatang,” kata Evita ketika dihubungi Jumat lalu.

Karena itu, jika anak di bawah usia 6 tahun setiap hari dibawa ke kantor ibunya, anak tersebut akan mempelajari pengalaman sosial dan emosional sebelum waktunya. Misalnya, Evita mencontohkan, jika ibunya merupakan bawahan yang diperintah dan manut pada atasannya, anak akan meniru perilaku ibunya.

“Misalnya ibu menerima perintah dari bosnya sambil terbungkuk-bungkuk, maka tanpa disadari akan terbentuk mental bawahan pada anak,” kata Evita. Sebaliknya, jika ibu merupakan atasan dan memerintah anak buahnya atau memerintah office boy, anak akan meniru perilaku ibunya dan memiliki mental “memerintah”.

Di sisi lain, anak usia 6 tahun ke atas atau anak usia sekolah pun akan mendapat pengaruh buruk jika terlalu sering dibawa ibunya ke tempat kerja. Pada jam-jam setelah anak selesai sekolah, kata Evita, ia akan merasa capek dan lapar. “Dan di kantor biasanya tidak ada sarana yang memadai untuk anak beristirahat,” kata Evita. Sehingga anak terpaksa akan tidur siang di kursi.

“Dan ini tidak baik untuk perkembangan tubuhnya,” kata Evita. Berjam-jam berada di ruangan berpenyejuk udara (AC) pun tidak baik untuk perkembangan kesehatan anak.

Selain berpengaruh buruk pada perkembangan fisik anak, membawa anak ke tempat kerja ibu akan berdampak tidak baik bagi kondisi emosional anak. “Anak akan bertemu dengan suasana kantor yang tidak sesuai dengan usianya, seperti kondisi kantor yang bersekat-sekat.

Di kantor ibunya, anak pun akan melihat hal-hal yang dilakukan orang dewasa yang semestinya belum pantas untuk dilihat seusianya, seperti juga yang bisa terjadi pada anak di bawah 6 tahun. “Padahal seharusnya anak-anak itu bermain bersama teman sebayanya,” kata dosen tetap di Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Jakarta ini.

Bukan hanya pada anak, membawa anak ke tempat kerja pun akan berpengaruh buruk pada sang ibu. “Ibu akan menjadi tidak berkonsentrasi pada pekerjaannya,” kata Evita. Hubungan ibu dengan teman kerjanya bisa saja terganggu.

Untuk mengatasi dilema ibu bekerja yang ingin juga mengasuh anaknya, Evita menawarkan beberapa solusi alternatif. Yang paling baik adalah membawa anak ke tempat penitipan anak. Akan lebih baik bila lokasi penitipan anak tidak terlalu jauh dengan kantor ibu.

Solusi kedua adalah mencari orang tua pengganti yang bisa mengasuh anak. “Seperti orang tua ibu bekerja itu atau babysitter” kata Evita. Ibu yang bekerja mesti mengambil risiko untuk menitipkan anaknya kepada orang tua pengganti.

Pilihan ketiga yang bisa dilakukan ibu adalah berkomunikasi dengan suami. Misalnya, jika ayah memiliki jam kerja yang lebih fleksibel, ibu dan ayah dapat bekerja sama mengasuh anak. Namun, bila ibu tidak bisa melakukan kedua solusi ini, ia harus memilih meninggalkan pekerjaannya.

Namun Evita tidak melarang orang tua membawa anaknya ke tempat kerja. “Asalkan sangat sesekali, satu atau dua kali masih boleh dibawa ke kantor dengan tujuan mengenalkan dunia kerja, sosial, dan pertemanan,” kata Evita.

FANNY FEBIANA

Sumber : Tempo Interaktif

Kangen, aku kerap memburu rasa itu

Kangen, aku kerap memburu rasa itu. Ketika semuanya jauh, maka sebuah rasa kedekatanlah yang ingin dicapai. Seperti saat ini, ketika aku sedang asik mengoptimalkan energi ku untuk amanah dikantor, terlintas rasa kangen untuk bermain, bercanda dengan dua malaikat kecil ku Gazza dan Namia. Terlebih kepada pasangan sayap ku, istri ku, yg senyumnya tidak mudah untuk dilupa, terus melekat.  Aku kangen

Tepuk Tangan Tingkatkan Kecerdasan Anak

Vera Farah Bararah – detikHealth

Jakarta, ‘Kalau kau suka hati tepuk tangan… prok…prok’ begitulah kadang-kadang gaya guru TK mengajarkan muridnya bermain sambil belajar. Selain menyenangkan, tepuk tangan juga bisa meningkatkan keterampikan motorik dan kognitif (kecerdasan) anak.

Peneliti dari Ben-Gurion University of the Negev (BGU) melakukan studi pertama kali mengenai manfaat lagu yang dinyanyikan sambil bertepuk tangan.

Hasilnya, menunjukkan adanya hubungan langsung dengan peningkatan aktivitas dan keterampilan perkembangan yang penting pada anak-anak, remaja hingga mahasiswa perguruan tinggi.
“Kami menemukan bahwa anak-anak kelas satu, dua dan tiga sekolah dasar yang menyanyikan lagu ini sambil bertepuk tangan menunjukkan kemampuan yang lebih dibandingkan dengan anak-anak yang tidak ikut berpartisipasi dalam kegiatan ini,” ujar Dr Idit Sulkin, anggota dari BGU’s Music Science Lab in the Department of the Arts, seperti dikutip dari Sciencedaily, Sabtu (1/5/2010).

Peneliti juga menemukan tepuk tangan dapat membantu melatih keterampilan motorik anak sehingga dapat menghasilkan tulisan tangan yang rapi, menulis dengan lebih baik serta sedikit membuat kesalahan ejaan.
Dr Warren Brodsky, seorang psikolog musik yang mengawasi disertasi doktor ini mengungkapkan kegiatan tepuk tangan dapat melatih otak dan mempengaruhi perkembangan daerah otak yang lainnya.

Manfaat lainnya adalah anak-anak diajarkan melatih integritas sosialnya dengan teman-teman yang lain, sehingga kemampuan sosialisasinya lebih baik.

Dalam studi ini, Dr Sulkin dan tim pergi ke beberapa kelas sekolah dasar dan memberikan pelatihan lagu sambil bertepuk tangan. Hal ini dilakukannya selama periode waktu 10 minggu.

Selama penelitian, Dr Sulkin turut bergabung dengan anak-anak untuk bernyanyi. Hal ini untuk melihat apakah anak-anak merasa terhibur dan terpesona dalam menyanyikan lagu sambil bertepuk tangan. Kegiatan ini ternyata menjadi salah satu hiburan bagi anak-anak sekolah dasar.

“Dalam waktu yang singkat tersebut, anak-anak memiliki kemampuan kognitif yang baik serta membantu kemampuan motoriknya dalam melakukan aktivitas. Karena itu sebaiknya hal ini masuk dalam pendidikan untuk anak usia 6-10 tahun dengan tujuan meningkatkan kemampuan motorik dan kognitifnya,” ujar Dr Sulkin.

Dr Sulkin menambahkan lagu anak-anak yang dinyanyikan sambil bertepuk tangan ini biasanya dibawakan oleh anak-anak hingga usianya 10 tahun.

Jika diamati, maka kegiatan ini sangat berfungsi sebagai acuan untuk mengembangkan dan meningkatkan kebutuhan emosional, fisiologis, sosiologis dan kognitif anak-anak hingga ke tahap pertumbuhan berikutnya.
(ver/ir)

Sumber : Detik Health

Cinta, dialah makhluk itu

Dan kekuatan itu bermula dari Cinta. Cinta Illahiah yg murni, yg menyejukkan gurun-gurun tersembunyi dalam qolbu, laksana telaga ditengah padang tandus. Cinta, dialah makhluk itu, yg di titipkan Nya kepada kita semua, kita rawat untuk selanjutnya menjadi asbab kebahagian kita.
Demikianlah Tuhan dengan skenario Nya. Mempertemukan kita berdua, diantara jutaan manusia di dunia, diantara rentang ruang waktu yg luas dan lebar itu. Dia lah Alloh Swt sang Maha Cinta, sumber dari segala sumber Cinta, kepada Nya kumohonkan keridhoan, kasih sayang dan buai manja untuk mu, duhai penghuni istana hati ku.
Minggu 21 Raby` al-awal 1431 H / 7 Maret 2010 M
Al Faqir
Salman Al Farisy

Melanjutkan Cita-cita Kenabian

Maret 5, 2010 2 komentar

Wahai kekasih ku… sungguh hati ini telah terpaut dalam akan dirimu. Jutaan detik telah kita jalani bersama, berjuang menghiasi dunia dengan kebaikan. Wahai engkau yang senyumannya selalu meneduhkan ku, bantu aku untuk menjadi pemimpin yang telah kau pilih, karena terkadang jalan itu terlihat panjang dan berliku, tapi… bersama mu api semangat ini terus terjaga.

Wahai penguasa alam, rasa syukur ku selalu tercurah kepada MU, atas amanah yang kau titipkan kepada ku, dia salah satu perantara cahaya kehidupan dari MU, lindungilah dia, manjakanlah dia dalam buaian kasih sayang MU. Dan telah bersamaku tulang rusuk ku yang hilang, bersama hingga akhir masa, melanjutkan cita-cita kenabian, Insya Alloh Amiin.

I Love u Because Alloh Love u