Archive

Posts Tagged ‘Motivasi’

Pancinglah Rezeki dengan Sedekah

November 30, 2011 1 komentar

Seminar 7 Keajaiban Rezeki Bersama Ippho Santosa Diikuti Ratusan Orang

Ratusan orang bergerak ke depan. Mereka merogoh saku, membuka dompet, dan menaruh uang ke lantai berkarpet tebal di depan pentas. Pada saat bersamaan ada yang meletakkan handphone di atas tumpukan uang, kemudian ada pula melepaskan jam tangan dan cincin emas di jari manisnya.

Demikianlah gambaran mereka yang tergerak hatinya bersedekah setelah mendengar paparan Ippho Santosa, dalam ”Seminar 7 Keajaiban Rezeki (Percepatan Rezeki dalam 40 hari dengan Otak Kanan)” di Mercure Hotel, Padang. Seminar yang digelar Entrepreneur Club (EC) Padang ini, memaparkan antara lain, jika ingin diberi rezeki oleh Allah SWT, bersedekahlah. Mengutip Ali bin Abi Thalib, Ippho Santosa mengajak, pancinglah rezeki dengan sedekah. Kemudian, setiap kesulitan dan keinginan yang ada, bisa diatasi atau didapat dengan bersedekah.

Baca selanjutnya…

4 Tanda Pria Siap Menikah & Tidak Siap Menikah

Juni 13, 2011 4 komentar

Jakarta – Pria dan pernikahan merupakan kedua hal yang sulit disatukan. Sebagian dari mereka menganggap pernikahan merupakan kehidupan yang menyulitkan. Namun, tidak semua pria berpikir seperti itu. Banyak juga di antara mereka yang ingin segera menikah dan menjalani bahtera rumah
tangga.

Mungkin Anda sedang bertanya-tanya, yang manakah tipe kekasih Anda, apakah pria yang ingin menikah atau pria yang menganggap pernikahan suatu hal yang menyusahkan?

Ternyata mudah saja mengetahui pria yang ingin menikah dan tidak ingin menikah. Simak tanda-tanda berikut ini dan Anda akan mengetahui isi hatinya.

Berikut ini tanda si dia siap menikah, seperti dilansir dari iVillage:

Tidak lagi ingin bersenang-senang
John Malloy, penulis ‘Why Men Marry Some Women and Not Others’, melakukan penelitian terhadap 2.500 pria. Banyak responden yang mengatakan, kehidupan lajangnya tidak lagi menarik. Malloy juga mewawancari pria berusia antara 17 hingga 70 tahun yang sedang merencakan pernikahan. Mereka mengaku tidak berminat lagi untuk mengunjungi klub dan bar favoritnya.

Finansial yang matang
Tina Tessina, Ph.D, seorang psikoterapis California menjelaskan, pria akan menikah jika mereka sudah siap dalam segi finansial.

“Pria memiliki jam biologis, ‘waktu’ mereka berbeda dibanding wanita. Prioritas pria cenderung terfokus pada kematangan finansial sebelum ia
memiliki keluarga. Jika ia masih berjuang untuk membayar tagihan, ia tidak ingin menambahkan beban dengan memiliki istri,” jelas Tessina.

“Anda sebaiknya mencari pria dewasa yang bisa diperhitungkan. Pria yang berkomitmen pada pekerjaan, keluarga dan teman. Meskipun dia belum siap menikah, setidaknya dia dapat membahas konsep komitmen,” saran Tessina.

Berkeinginan menjadi ayah
Carol Morgan, seorang pakar matcmaker (mak comblang), mengamati pria yang ingin menikah ketika mereka mulai menyukai anak-anak dan sering membicarakan keinganannya untuk segera memiliki anak pada kekasihnya.

Sedangkan menurut penelitian dari John Malloy, pria yang berpendidikan tinggi, kebanyakan menganggap penikahan sebagai suatu hal yang tidak
serius sampai usia 26. Mereka baru memasuki tahap komitmen yang tinggi antara usia 28 dan 33. Dari penelitian tersebut juga ditemukan, pria yang memiliki jenjang pendidikan yang lama seperti dokter dan pengacara, kebanyakan baru akan memikirkan komitmen diusia 30 sampai 36. Malloy menambahkan, jika usia 30 belum menikah, kemungkinan konsep pernikahannya mulai memduar. Menginjak usia 43, jika masih belum menikah juga, mereka lebih memilih menjadi bujangan seumur hidup.

Bertingkah layaknya suami
April Masini, pengarang ‘Date Out of Your League’ menjelaskan, “ketika seorang pria siap menikah, ia mulai bertindak seperti suami. Misalnya
ia akan membuat rencana untuk masa depan, memperkenalkan Anda kepada teman-teman dan keluarga. Mereka pun bukan hanya sekedar menelepon Anda setiap harinya, tapi juga ingin memberitahukan rincian kegiatannya dan memiliki keingan yang besar untuk mendengar tentang kabar Anda.

Tanda Tidak Siap Menikah:

1. Tidak mau terikat
Jika dia pernah mengatakan tidak ingin terikat oleh wanita manapun, jangan buang waktu Anda untuk menunggu dia berubah pikiran. Pria tipe ini masih mau bersenang-senang dengan banyak wanita.

2. Membeli barang mahal
Membeli mobil Porsche atau barang mahal lainnya merupakan tanda ia tidak memikirkan pernikahan atau masa depannya nanti. Carol Morgan mengatakan, “Jika ia bertindak secara finansial belum dewasa dan tidak bertanggung jawab berarti dia masih berpikir tentang ‘aku’ bukan ‘kita’.”

3. Pernikahan bukan suatu hal yang menyenangkan
Dia mengganggap teman-temannya yang menikah merupakan orang yang menyedihkan. Jika pria berkomitmen maka mereka mengganggap pernikahan sesuatu yang membahagiakan, bukan menyedihkan.

4. Sering membuat Anda menangis
Jika ia sering bertindak kasar, berbohong dan genit terhadap wanita lain, berarti dia tidak serius dengan Anda. Segeralah ambil keputusan dan raihlah hidup Anda kembali.

Kepada mereka yg sedang bersedih, nikmatilah

Juni 2, 2011 1 komentar

Kepada mereka yg sedang bersedih, nikmatilah, karena itu sangat manusiawi, rasa sedih itupun juga karunia dari Tuhan mu. Dan cukupkanlah, tidak perlu berlebih, agar dalam sisa hidup mu, kau pun tahu apa rasanyaa bahagia. Sahabat, ketahuilah Tuhan telah menjanjikan, bahwa sesudah kesusahan, akan datang kemudahan, setelah kesedihan, akan datang kebahagiaan. Assalamualaikum sahabat, selamat hari baik. SALam MANtab !!!

Hanya 5 Persen Masyarakat Tertarik Wirausaha

Februari 27, 2011 1 komentar

Masalah pengangguran bukan lagi menjadi masalah biasa lagi di Indonesia. Tingkat pengangguran yang tinggi cukup membuat pemerintah kewalahan. Selain menambah lapangan kerja, pemerintah juga menganjurkan kepada masyarakat untuk berwirausaha.

“Berwirausaha adalah salah satu alternatif pemerintah dalam mengurangi pengangguran. Kesempatan kerja yang terbatas menyebabkan terjadinya kompetisi antara pencari kerja.” ujar Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia, Muhaimin Iskandar, dalam pidatonya dalam acara penandatanganan MoU antara Pemerintah Provinsi Gorontalo dan Yayasan Matsushita Gobel, Sabtu (26/2).

Namun sayangnya, hanya 5 persen saja dari jumlah angkatan kerja yang berminat untuk melakukan wirausaha. Sisanya lebih memilih untuk menjadi karyawan atau pegawai yang bekerja dengan mendapatkan gaji atau upah. Jumlah ini merupakan hasil sensus Ketenagakerjaan Nasional yang dilaksanakan pada 2007.

Padahal, tambah Muhaimin, menjadi wirausahawan sangat menguntungkan. Selain mempunyai kemampuan untuk mengatur waktu sendiri, juga dapat mengatur kondisi usaha dan membuat aturan main dalam udaha sendiri.

Selain berdampak pada diri sendiri, kewirausahaan juga berdampak pada perekonomian, yaitu sebagai upaya ntuk mendorong pertumbuhan perekonomian dan daya saing nasional dalam perluasan kesempatan kerja. “Dengan perluasan kesempatan kerja, tingkat pendapatan masyarakat akan meningkat, begitu pula dengan daya belinya. Dan kesejahteraan masyarakat pun pasti meningkat,” tuturnya lagi.

Usaha pemerintah untuk perluasan kesempatan kerja dan kesempatan untuk melahirkan bisnis baru merupakan salah satu tujuan kebijakan yang berkaitan dengan pengembangan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Hal ini dibantu dengan program-program yang dilakukan instansi pemerintah dan swasta untuk pengembangan usaha baru dan promosi tentang wirausaha di tingkat lokal dan nasional.

Promosi tersebut bertujuan untuk meningkatkan daya saing ekonomi melalui penguatan dan perluasan basis bisnis. Promosi inovasi, dan peningkatan jumlah sisi kompetisi. Muhaimin sangat mendukung dan mendrong pemerintah daerah yang bekerja sama dengan perusahaan nasional, seperti yang saat ini sedang dilaksanakan oleh pemerintah Gorontalo.

Ia berharap dengan penandatanganan MoU ini dapat mendorong daerah untuk terus mengembangkan kewirausahan, khususnya sektor UKM. “Hal ini nanti akan bisa memberikan kontribusi pada penciptaan lapangan kerja baru dan mengurangi pengangguran serta mampu meningkatkan pertumbuhan nasional ekonomi dan mensejaterakan rakyat,”.

Red: Djibril Muhammad
Rep: C02

Sumber : http://m.republika.co.id/berita/breaking-news/nasional/11/02/26/166348-hanya-5-persen-masyarakat-tertarik-wirausaha

Houtman Zainal Arifin, Kisah Nyata Seorang OB menjadi Vice President Citibank

Februari 6, 2011 1 komentar

image

Sungguh sebuah karunia yang luar biasa bagi saya bisa bertemu dengan seorang yang memiliki pribadi dan kisah menakjubkan. Dialah Houtman Zainal Arifin, seorang pedagang asongan, anak jalanan, Office Boy yang kemudian menjadi Vice President Citibank di Indonesia. Sebuah jabatan Nomor 1 di Indonesia karena Presiden Direktur Citibank sendiri berada di USA.
 
Tepatnya 10 Juni 2010, saya berkesempatan bertemu pak Houtman. Kala itu saya sedang mengikuti training leadership yang diadakan oleh kantor saya, Bank Syariah Mandiri di Hotel Treva International, Jakarta. Selama satu minggu saya memperoleh pelatihan yang luar biasa mencerahkan, salah satu nya saya peroleh dari Pak Houtman.

Berikut kisah inspirasinya:
Sekitar tahun 60an Houtman memulai karirnya sebagai perantau, berangkat dari desa ke jalanan Ibukota. Merantau dari kampung dengan penuh impian dan harapan, Houtman remaja berangkat ke Jakarta. Di Jakarta ternyata Houtman harus menerima kenyataan bahwa kehidupan ibukota ternyata sangat keras dan tidak mudah. Tidak ada pilihan bagi seorang lulusan SMA di Jakarta, pekerjaan tidak mudah diperoleh. Houtman pun memilih bertahan hidup dengan profesi sebagai pedagang asongan, dari jalan raya ke kolong jembatan kemudian ke lampu merah menjajakan dagangannya.

Tetapi kondisi seperti ini tidak membuat Houtman kehilangan cita-cita dan impian. Suatu ketika Houtman beristirahat di sebuah kolong jembatan, dia memperhatikan kendaran-kendaraan mewah yang berseliweran di jalan Jakarta. Para penumpang mobil tersebut berpakaian rapih, keren dan berdasi. Houtman remaja pun ingin seperti mereka, mengendarai kendaraan berpendingin, berpakaian necis dan tentu saja memiliki uang yang banyak. Saat itu juga Houtman menggantungkan cita-citanya setinggi langit, sebuah cita-cita dan tekad diazamkan dalam hatinya.

Azam atau tekad yang kuat dari Houtman telah membuatnya ingin segera merubah nasib. Tanpa menunggu waktu lama Houtman segera memulai mengirimkan lamaran kerja ke setiap gedung bertingkat yang dia ketahui. Bila ada gedung yang menurutnya bagus maka pasti dengan segera dikirimkannya sebuah lamaran kerja. Houtman menyisihkan setiap keuntungan yang diperolehnya dari berdagang asongan digunakan untuk membiayai lamaran kerja.

Sampai suatu saat Houtman mendapat panggilan kerja dari sebuah perusahaan yang sangat terkenal dan terkemuka di Dunia, The First National City Bank (citibank), sebuah bank bonafid dari USA. Houtman pun diterima bekerja sebagai seorang Office Boy. Sebuah jabatan paling dasar, paling bawah dalam sebuah hierarki organisasi dengan tugas utama membersihkan ruangan kantor, wc, ruang kerja dan ruangan lainnya.
Tapi Houtman tetap bangga dengan jabatannya, dia tidak menampik pekerjaan.Diterimanyalah jabatan tersebut dengan sebuah cita-cita yang tinggi. Houtman percaya bahwa nasib akan berubah sehingga tanpa disadarinya Houtman telah membuka pintu masa depan menjadi orang yang berbeda.

Sebagai Office Boy Houtman selalu mengerjakan tugas dan pekerjaannya dengan baik. Terkadang dia rela membantu para staf dengan sukarela. Selepas sore saat seluruh pekerjaan telah usai Houtman berusaha menambah pengetahuan dengan bertanya tanya kepada para pegawai. Dia bertanya mengenai istilah istilah bank yang rumit, walaupun terkadang saat bertanya dia menjadi bahan tertawaan atau sang staf mengernyitkan dahinya. Mungkin dalam benak pegawai ”ngapain nih OB nanya-nanya istilah bank segala, kayak ngerti aja”. Sampai akhirnya Houtman sedikit demi sedikit familiar dengan dengan istilah bank seperti Letter of Credit, Bank Garansi, Transfer, Kliring, dll.

Suatu saat Houtman tertegun dengan sebuah mesin yang dapat menduplikasi dokumen (saat ini dikenal dengan mesin photo copy). Ketika itu mesin foto kopi sangatlah langka, hanya perusahaan perusahaan tertentu lah yang memiliki mesin tersebut dan diperlukan seorang petugas khusus untuk mengoperasikannya. Setiap selesai pekerjaan setelah jam 4 sore Houtman sering mengunjungi mesin tersebut dan minta kepada petugas foto kopi untuk mengajarinya. Houtman pun akhirnya mahir mengoperasikan mesin foto kopi, dan tanpa di sadarinya pintu pertama masa depan terbuka. Pada suatu hari petugas mesin foto kopi itu berhalangan dan praktis hanya Houtman yang bisa menggantikannya, sejak itu pula Houtman resmi naik jabatan dari OB sebagai Tukang Foto Kopi.

Menjadi tukang foto kopi merupakan sebuah prestasi bagi Houtman, tetapi Houtman tidak cepat berpuas diri. Disela-sela kesibukannya Houtman terus menambah pengetahuan dan minat akan bidang lain. Houtman tertegun melihat salah seorang staf memiliki setumpuk pekerjaan di mejanya. Houtman pun menawarkan bantuan kepada staf tersebut hingga membuat sang staf tertegun. “bener nih lo mo mau bantuin gua” begitu Houtman mengenang ucapan sang staff dulu. “iya bener saya mau bantu, sekalian nambah ilmu” begitu Houtman menjawab. “Tapi hati-hati ya ngga boleh salah, kalau salah tanggungjawab lo, bisa dipecat lo”, sang staff mewanti-wanti dengan keras. Akhirnya Houtman diberi setumpuk dokumen, tugas dia adalah membubuhkan stempel pada Cek, Bilyet Giro dan dokumen lainnya pada kolom tertentu. Stempel tersebut harus berada di dalam kolom tidak boleh menyimpang atau keluar kolom. Alhasil Houtman membutuhkan waktu berjam-jam untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut karena dia sangat berhati-hati sekali. Selama mengerjakan tugas tersebut Houtman tidak sekedar mencap, tapi dia membaca dan mempelajari dokumen yang ada. Akibatnya Houtman sedikit demi sedikit memahami berbagai istilah dan teknis perbankan. Kelak pengetahuannya ini membawa Houtman kepada jabatan yang tidak pernah diduganya.

Houtman cepat menguasai berbagai pekerjaan yang diberikan dan selalu mengerjakan seluruh tugasnya dengan baik. Dia pun ringan tangan untuk membantu orang lain, para staff dan atasannya. Sehingga para staff pun tidak segan untuk membagi ilmu kepadanya. Sampai suatu saat pejabat di Citibank mengangkatnya menjadi pegawai bank karena prestasi dan kompetensi yang dimilikinya, padahal Houtman hanyalah lulusan SMA.

Peristiwa pengangkatan Houtman menjadi pegawai Bank menjadi berita luar biasa heboh dan kontroversial. Bagaimana bisa seorang OB menjadi staff, bahkan rekan sesama OB mencibir Houtman sebagai orang yang tidak konsisten. Houtman dianggap tidak konsisten dengan tugasnya, “jika masuk OB, ya pensiun harus OB juga” begitu rekan sesama OB menggugat.

Houtman tidak patah semangat, dicibir teman-teman bahkan rekan sesama staf pun tidak membuat goyah. Houtman terus mengasah keterampilan dan berbagi membantu rekan kerjanya yang lain. Hanya membantulah yang bisa diberikan oleh Houtman, karena materi tidak ia miliki. Houtman tidak pernah lama dalam memegang suatu jabatan, sama seperti ketika menjadi OB yang haus akan ilmu baru. Houtman selalu mencoba tantangan dan pekerjaan baru. Sehingga karir Houtman melesat bak panah meninggalkan rekan sesama OB bahkan staff yang mengajarinya tentang istilah bank.
19 tahun kemudian sejak Houtman masuk sebagai Office Boy di The First National City Bank, Houtman mencapai jabatan tertingginya yaitu Vice President. Sebuah jabatan puncak citibank di Indonesia. Jabatan tertinggi citibank sendiri berada di USA yaitu Presiden Director yang tidak mungkin dijabat oleh orang Indonesia.

Sampai dengan saat ini belum ada yang mampu memecahkan rekor Houtman masuk sebagai OB pensiun sebagai Vice President, dan hanya berpendidikan SMA. Houtman pun kini pensiun dengan berbagai jabatan pernah diembannya, menjadi staf ahli citibank asia pasifik, menjadi penasehat keuangan salah satu gubernur, menjabat CEO di berbagai perusahaan dan menjadi inspirator bagi banyak orang.

Sumber : http://koranbaru.com/kisah-nyata-seorang-ob-menjadi-vice-president-citibank/

Yang teromantis dalam pembuktian cinta

Yang teromantis dalam pembuktian cinta adalah proses pembuktiannya itu sendiri.

Merapihkan asa

Juli 7, 2010 2 komentar

Terima kasih Tuhan, Kau rapihkan asa yang sempat terserak dalam lemari hatiku. Dengan kekuatan Mu, Kau anugerahkan energi positif sehingga aku dapat senantiasa bertasbih kepada Mu. Bersama Mu selalu, menggapai cinta Illahiah, membimbingku dalam tujuan itu. Engkau lah Yang Maha Besar, & Engkau lah yang membesarkan hati-hati kami, & dengan Mu aku melesat bagai anak panah terlontar dari busurnya, menuju ke Ridhoan Mu.