Arsip

Posts Tagged ‘penyerangan’

Video : Ahmadiyah Cikeusik: Biar Saja Kita Bentrok Pak, Biar Seru, Kan Asyik Pak!

REPUBLIKA.CO.ID, PANDEGLANG—Umat Islam Banten dikejutkan dengan beredarnya video yang merekam proses negosiasi yang diduga antara Deden Sujana selaku amir perjalanan Ahmadiyah dengan Kanit Intel Polsek Cikeusik, Aiptu Hasan, di rumah Suparman,  sebelum bentrokan terjadi Ahad (6/2) lalu.

Dalam rekaman tersebut, Deden menolak ajakan Aiptu Hasan untuk dievakuasi. “Lepasin saja. Biar saja kita bentrok, biar seru. Kan asyik Pak. Masa kita diginiin diem saja Pak. Biar banjir darah di sini,” demikian kata Deden Sujana, dalam cuplikan pembicaraan yang terekam dalam video tersebut.

Mendengar jawaban dari Deden tersebut, Hasan mengatakan,” Saya sih tidak mengharapkan begitu,” kata Hasan. Hasan pun menjelaskan bahwa massa telah berada di jalan yang menuju ke arah Suparman.

Video yang diduga direkam oleh Arif, salah seorang jemaat Ahmadiyah, itu juga sudah terlihat sejumlah anggota Dalmas, berikut dua unit truk polisi di Jalan Raya Cikeusik, persis di depan rumah Suparman saat bentrokan berlangsung.

Kedua truk tersebut hanya pindah parkir sekitar 50 meter ke kanan dan kiri rumah Suparman, sebelum bentrokan terjadi.

Dalam rekaman tersebut juga terlihat Deden Sujana yang pertama kali memicu emosi massa. Saat massa mendatangi rumah Suparman, Deden yang pertama kali mendaratkan ‘bogem mentah’ ke muka salah seorang dari kelompok massa yang mengenakan pita biru. Kemudian terjadi bentrokan antara kedua kubu, namun beberapa orang kelompok pita biru sempat terpukul mundur setelah jamaat Ahmadiyah melakukan perlawanan.

Kemudian massa pita biru mengundang massa yang masih berada di belakang yang jumlahnya ratusan, bahkan mencapai 1.500 orang. Sehingga bentrokan berdarah tidak bisa dihindari.

Red: Stevy Maradona
Rep: M Fakhruddin
Sumber :

Konspirasi dibalik penyerangan kepada Jemaah Ahmadiyah (06/02/2011) di Cikeusik Banten ?

Perekam peristiwa penyerbuan rumah Ahmadiyah di Cikeusik, Pandeglang, Banten, masih belum jelas siapa orangnya. Namun, dalam rekaman yang beredar luas di media, si perekam leluasa mengambil gambar tanpa gangguan. Bahkan ternyata, seorang penyerbu memberikan salam tabik untuk si perekam video.

Video penyerbuan Cikeusik pada Minggu (6/2) silam yang dikantongi YLBHI ini, berisikan 39 klip data video berformat MPG dengan ukuran file mencapai 175,3 GB. Video ini berisikan peristiwa penyerbuan Cikeusik dari awal sampai akhir. Video ini diduga diambil dengan handycam digital karena codec data video ini berkualitas Dolby Digital Stereo.

Nah, entah siapa pun perekamnya, dia dengan leluasa mengambil gambar tanpa gangguan sama sekali. Dia sudah berada di rumah jemaat Ahmadiyah, saat sedang digelar semacam rapat internal. Saat polisi membujuk anggota Ahmadiyah, dia juga telah mengambil gambar.

Bahkan ketika pecah kerusuhan, dia pun tetap dengan leluasa mengambil gambar. Massa yang tampak memakai pita hijau dan pita biru melihatnya, namun sama sekali tidak mengganggunya.

Si perekam bisa berada sangat dekat dengan penyerbunya. Saat terjadi perang batu, si perekam cukup jongkok di pojok halaman rumah jemaat Ahmadiyah dan tetap mengambil gambar.

Yang menarik adalah pada klip M2U02093.MPG menit ke 3:09. Tampak seorang penyerbu yang berjaket kulit hitam dengan pita biru di dadanya dan berpeci putih. Usai melempar batu, dia melintas dekat si perekam. Si penyerbu itu lantas berhenti dan memberikan salam dengan mengatupkan kedua tapak tangan di dadanya.

Saat mengatupkan kedua tapak tangan di dadanya, si penyerbu itu mengucapkan sesuatu. Apa yang dia ucapkan tidak jelas terdengar, kalah dengan suara teriakan massa yang sedang menyerbu rumah jemaat Ahmadiyah itu. Sekilas, si penyerbu itu mengucapkan ‘sobat’. Namun, benar tidaknya kata itu yang diucapkan, tidak bisa dipastikan. Si penyerbu pun tersenyum sebelum akhirnya pergi.

Kemudian yang menjadi pertanyaan adalah, kenapa si penyerbu itu memberi salam kepada si perekam ini? Karena banyak orang lain di lokasi yang merekam dengan ponsel, tapi tidak diberikan perhatian khusus seperti ini.

Ada indikasi kalau perekam video masuk dalam rombongan Ahmadiyah, karena sudah membuat dokumentasi sejak rapat internal Ahmadiyah di rumah tersebut. Namun salam tabik dari penyerbu, membuat bingung apakah penyerbu itu kenal dengan perekam, atau hanya sekadar memberi salam.

Di sisi lain, juga tidak pernah diketahui penampilan si perekam. Apakah dia memakai baju khusus, tanda pengenal khusus, atau dia orang asing, sehingga dia aman dari para penyerbu bahkan seorang di antara mereka memberikan salam.

Namun, di tengah-tengah merekam, si perekam sempat ditelepon oleh seseorang. Dari ucapan mereka berdua, diduga bahwa si penelepon adalah atasannya. Si perekam melaporkan bahwa penyerbuan sedang berlangsung dan dia melaporkan bahwa satu rumah, satu mobil, dan satu sepeda motor telah jadi sasaran amuk massa.

Lantas, siapakah sang perekam ini? Masih misterius. Yang jelas, salam dari si penyerbu itu, adalah salam tradisional kepada tamu atau orang asing.

Yang pasti adalah fakta arah permainan setelah insiden Ahmadiyah dan Temanggung.

  1. Media (khususnya televisi) terlalu banyak mengeksplor tentang tindakan kekerasan, bukan penyebab maupun fakta-fakta aneh diatas.
  2. Beberapa kali media seperti M****TV, melakukan upaya propaganda untuk melegalkan militerisasi di masyrakat dengan opsus seperti zaman orba.
  3. Lagi-lagi media tersebut dalam pemberitaan maupun dialog, menghadirkan narasumber tidak berimbang.
  4. Sebentar lagi akan kita saksikan tindakan represif aparat terhadap ormas-ormas.
  5. Ujung-ujung dari ini semua adalah bagaimana bisa mengembalikan kendali terhadap kaum mayoritas, seperti zaman orba. Dengan mempersulit gerak, sensor ceramah, intimidasi, pembubaran, opsus dll.

Sumber : http://forum.detik.com/konspirasi-dibalik-insiden-ahmadiyah-t235836.html?nd991103frm

Tragedi penyerangan jemaah Ahmadiyah, apa yang sebenarnya terjadi di Cikeusik, Banten ?

Dalam gambar nampak salah seorang provokator yang memakai jaket hitam dengan memegang golok. Tubuhnya atletis dan tinggi besar. Siapakah mereka?

1. Membiarkan & Tidak Sigapnya Polisi

Jumat 4 Februari 2011, massa mulai berdatangan ke Umbulan, Cikeusik, Pandeglang, Banten. Aparat lokal sudah tahu tentang hal itu.

Polsek mengerahkan polisi ke lokasi. Polres sudah tahu dan sudah siaga. Menurut kabar dari keluarga seorang kawan di ANTV, sejak Jumat aparat di seluruh Kabupaten Pandeglang sudah tahu kalau ada rombongan massa yang datang ke Cikeusik.

Hari itu juga Suparman (tokoh Ahmadiyah lokal) dan keluarganya pun sudah dievakuasi polisi.

Sabtu malam (5 Februari 2011), massa Ahmadiyah datang dengan dua mobil dari Bogor dan Jakarta.

Menurut polisi, mereka telah menyuruh warga Ahmadiyah yang baru datang itu untuk pergi /dievakuasi, tapi mereka menolak. Karena itu polisi pun meninggalkan lokasi. Pertanyaannya:

  • Mengapa polisi membiarkan mereka bertahan di situ?
  • Mengapa polisi tidak berinisiatif untuk memaksa mereka pergi dan mengevakuasi ke tempat aman?
  • Bukankah mereka sudah tahu bahwa kondisi sudah demikian gawat?

Terkesan polisi membiarkan bentrokan terjadi dengan menarik anggotanya dari lokasi. Bahkan kawan kami di redaksi bercerita bahwa saudaranya yang bekerja di pemda Pandeglang bertanya-tanya, mengapa bentrokan itu terjadi padahal seharusnya bisa dicegah karena sudah diketahui sejak awal.

2. Massa Ahmadiyah

Massa Ahmadiyah yang baru datang dengan dua mobil itu menolak dievakuasi. Ada kesan mereka memang sengaja mempersiapkan diri untuk menjadi martir karena kedatangan mereka jelas bakal memprovokasi massa yang sudah terpancing emosinya sejak dua hari sebelumnya.

Apa tujuan mereka? Massa Ahmadiyah itu sempat mengatakan bahwa mereka ingin bertahan sampai titik darah penghabisan. Mengapa? Apakah mereka memang berharap agar kasus ini meledak dan kemudian menjadi perhatian masyarakat di dalam dan luar negeri? Ataukah mereka dikorbankan untuk scenario berdarah ini?

3.  Ada Penggerak Massa

Dari gambar-gambar video yang muncul di Youtube maupun yang kami dapatkan sendiri di lapangan, jelas bahwa awalnya massa tampak digerakkan oleh belasan orang berjaket hitam, sebagian berkaos t-shirt dan kemeja dan bersenjata golok. Yang menarik, mereka ini membawa tanda pengenal berupa pita biru di kerah, atau di dada atau di lengan atas.

Massa cair yang cenderung bergerak setelah berkumpul, belasan orang ini berjalan dengan langkah pasti, dengan jarak sekitar beberapa ratus meter, menuju rumah warga Ahmadiyah itu (rumah Suparman).

Begitu sampai di depan pekarangan rumah Suparman, mereka langsung menghajar warga Ahmadiyah yang berjaga di pekarangan dengan serangan memakai golok, bambu, batu dan lain-lain.

 

Dari gerakan-geriknya, mereka tampak sudah sangat terlatih memainkan golok, mampu berkelit dengan tangkas dan berkelahi. Anehnya, ketika massa mulai nimbrung, pentolan-pentolan penggerak massa ini sudah tidak tampak lagi. Ke mana mereka pergi?

4.  Kamera Video yang Sudah Standby

Bagi orang televisi seperti kami, adanya gambar-gambar video yang menggambarkan peristiwa penyerbuan itu sejak awal hingga akhir sangat menarik.

Cara mengambil gambarnya, sang kameraman cukup berpengalaman, dengan kualitas kamera yang cukup baik. Lebih penting, kamera yang di lokasi tampaknya ada beberapa, minimal dua atau tiga buah, dengan posisi yang sangat bagus dan bisa bercerita banyak tentang peristiwa itu. Ini uraiannya:

Kamera pertama mengambil gambar long shoot ketika belasan orang berjalan dengan bergegas, dipimpin seorang lelaki berjaket hitam dan berkopiah hitam.

Kamera kedua mulai merekam ketika belasan orang itu semakin mendekati lokasi, berteriak-teriak, mulai dari long shoot kemudian medium shoot hingga si pemimpin massa sempat diambil gambarnya dalam jarak dekat secara close up meski hanya sekilas. Lalu kamera bergerak ke kanan dan mengambil gambar ketika seorang polisi mencoba menahan massa tapi kemudian membiarkan mereka.

Mengapa polisi tidak terus menahan mereka, mengeluarkan tembakan peringatan dan sebagainya? Apakah karena polisi itu melihat pita-pita biru yang dipakai belasan orang itu? Ataukah mereka saling kenal?

Selanjutnya ketika bentrokan awal terjadi, tampak jelas betapa kamera yang mengambil gambar itu berada di belakang penyerbu.

Yang menarik adalah kameraman yang mengambil suasana bentrokan itu terkesan tidak takut dan seolah sudah saling mengenal dengan penyerbu, sehingga mereka bisa mengambil gambar dengan tenang.

Hal itu pula yang terjadi ketika warga Ahmadiyah yang sudah ditelanjangi kemudian dipukuli dan dianiaya dengan sadis. Kamera tetap mengambil gambar tanpa takut, tidak dilarang untuk mengabadikan penganiayaan itu, dan bahkan mengambil gambar orang-orang yang mengambil gambar kekejaman itu dengan handphonenya.

5.  Soal Video Upload di Youtube

Di Cikeusik, kontributor kami memang terlambat sampai ke lokasi. Baru sore dia sampai lokasi. Tapi kontributor kami ini datang bersama para wartawan dan kontributor dari media lainnya.

Gambar yang pertama kali dikirim dari lokasi peristiwa adalah gambar-gambar pasca kejadian. Mengirim gambar via streaming dari lokasi juga tidak bisa dilakukan dengan cepat, maka baru pada malam hari gambar pasca peristiwa terkirim dari warnet di kota kecamatan.

 

Saat kontributor televisi kerepotan ke lokasi dan kemudian mengirim gambar yang mereka dapat sendiri di kota kecamatan, ternyata gambar-gambar peristiwa bentrokan terjadi yang begitu jelas dan gamblang itu sudah diupload ke youtube pada Senin pagi 7 Februari 2011, dengan beberapa nama uploader. Ada yang dengan nama andreasharsono, amatkuat dan sebagainya.

Mengapa gambar-gambar itu bisa begitu cepat terkirim di Youtube, sementara dari kontributor kami dapatksn gambar-gambar itu besoknya. Dari mana mereka mendapat gambar-gambar itu?

Ada tiga seri “video amatir” yang kami dapatkan dari lapangan.

Gambar pertama, kami dapat dengan merekam langsung gambar itu dari kamera handphone seorang petugas Kodim. Gambar itu identik dengan salah satu gambar video kekerasan di Cikeusik lewat Youtube yang menggambarkan suasana saling lempar dan bacok antara warga Ahmadiyah melawan penyerang.

Gambar kedua, adalah gambar terpanjang, sekitar 10 menit. Gambar ini kami dapat ketika reporter kami sedang berada di sebuah warnet di kota kecamatan Cikeusik. Saat itu ada seorang polisi di sana.

Karena koordinator liputan daerah meminta gambar video amatir yang lain –selain yang pertama–, maka reporter itu langsung berinisiatif meminta kepada si polisi,

“Punya video amatir soal penyerbuan kemarin nggak, Pak?”

Polisi itu menjawab, “Ada tuh di komputer yang kamu pakai, tadi barusan ditransfer…” (???)

Yang menarik, gambar ini sama dengan gambar video yang isinya pembakaran dan penganiayaan sadis warga Ahmadiyah yang diupload di Youtube.

Gambar ketiga, didapat reporter kami dari seorang warga yang mengambil gambar dengan handphonenya ketika suasana mulai agak reda.

Kualitas ketiga video ini berbeda-beda.

  • Gambar pertama karena diambil dengan kamera handphone langsung sangat berbeda dengan video gambar cenderung flat dan tidak begitu kelihatan detailnya.
  • Gambar kedua lebih detail dan gambar pun stabil.
  • Gambar ketiga karena dari kamera handphone sederhana kualitas gambar lebih buruk.

Gambar detail kami dapat kemudian, sebagaimana gambar video yang diupload di Youtube, tergambar secara detail suasana kedatangan para penggerak massa, sampai masuk ke pekarangan dan bentrokan awal. Kualitas gambarnya jauh lebih bagus. Gambar video ini lebih bercerita, dengan berbagai sudut pengambilan gambar yang bagus. Cara mengambil gambar pun tampak lebih professional.

Siapa yang mengambil gambar ini? Mengapa pengambilan gambarnya begitu professional? Mengapa mereka kelihatan tidak berkonflik dengan penyerang? Lalu apa motif mereka?

Hingga kini kami masih belum menyimpulkan dalang kasus ini secara pasti. Tapi paling tidak, kami jadi bertanya-tanya, apa yang sebenarnya terjadi? Siapa yang sedang bermain-main dengan nyawa manusia? (Hanibal Wijayanta, Wartawan).

Sumber : http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150136040455851&id=1720326982